Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

10 Puisi tentang Hujan yang Syahdu dan Penuh Makna

10 Puisi tentang Hujan yang Syahdu dan Penuh Makna
pexels.com/Min An
Share Article

Momen saat hujan turun dengan rintik-rintik airnya tampak begitu indah dan mengagumkan. Tak heran jika banyak yang meromantisasi hujan dengan puisi

Hujan juga bisa menjadi inspirasi karena suasananya membuat kita mengingat kisah-kisah yang pernah dilalui. Di bawah ini adalah deretan puisi tentang hujan karya sastrawan dan penulis yang estetik dan memiliki makna mendalam. 

  1. 1. Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono

    pexels.com/Misael Silvera
    pexels.com/Misael Silvera

    Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
    Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

    Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
    Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

    Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
    Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. 

    Puisi Hujan Bulan Juni ini memang menjadi salah satu puisi hujan yang paling terkenal. Di dalamnya, hujan digambarkan sebagai momen yang romantis dan indah. 

  2. 2. Ia Bernyanyi dalam Hujan karya W. S. Rendra

    pexels.com/Kaique Rocha
    pexels.com/Kaique Rocha

    Ia bernyanyi di dalam hujan
    Dan tak seorang tahu
    Darimana datangnya.
    Tak seorang berani nengok
    Begitu gaib datangnya.
    Dimuntahkan dari angin.
    Menggembung dari air gelembung.
    Ia bernyanyi di malam hujan
    Entah darimana datangnya.
    Burung lepas ditangiskan.
    Tangis domba di perut lembah.
    Dan air jeruk menetesi
    Luka daging baru terbuka.
    Empedu! Empedu yang pecah!
    Jarum terhanyut pada darah.
    Dan di mulut terkulum
    Rasa buah-buah logam.
    Ia bernyanyi di malam hujan
    Penyapnya perlahan
    Terapung bagai gabus
    Tergantung di sunyi yang bertanya.
    Tak seorang tahu datangnya
    Mayat kere dijumpa pagi hari
    Perempuan tua dan buta.
    Ia bernyanyi di malam hujan
    Entah dari mana datangnya.
    Telah lebih dulu ia tahu
    Tentang kepergian dirinya.

    W.S. Rendra memang salah satu penyair yang selalu bisa menuliskan puisi yang unik namun penuh makna. Lebih dari hujan, puisi di atas juga memiliki makna tentang kepergian seseorang. 

  3. 3. Ibu Hujan karya Joko Pinurbo

    pexels.com/Khoa Võ
    pexels.com/Khoa Võ

    Ibu hujan dan anak-anak hujan
    Berkeliaran mencari ayah hujan
    Di perkampungan puisi hujan.

    Anak-anak hujan berlarian
    Meninggalkan ibu hujan
    Menggigil sendirian di bawah pohon hujan.

    Anak-anak hujan bersorak girang
    Menemukan ayah hujan
    Di semak-semak hujan.
    Ayah hujan mengaduh kesakitan
    Tertimpa tiga kilogram hujan.

    Ayah hujan dan anak-anak hujan
    Beramai-ramai menemui ibu hujan,
    Tapi ibu hujan sudah tak ada
    Di bawah pohon hujan.

    “Kita tak akan menemukan ibu hujan di sini.
    Ibu hujan sudah berada di luar hujan.”

    Meski semua tentang hujan, tetapi hujan dalam puisi ini mewakili sebuah objek yang bisa merasakan kehilangan, kebingungan, dan pencarian. 

  4. 4. Seusai Hujan Siang Ini karya Isbedi Setiawan ZS

    unsplash.com/frame harirak
    unsplash.com/frame harirak

    (I)
    Sisa hujan di ujung daun
    Menjadi batu cincin
    Sesaat lagi tergelincir
    Namun cahayanya mengekal

    (II)
    Tanah yang menerima hujan
    Setia untuk gigil
    Dan kuyup: seperti
    Kesetiaanku pada-Mu

    (III)
    Setelah sampai di tanah
    Apakah hujan akan
    Pulang ke langit
    Bersama tubuhku
    Yang melayang?

    (IV)
    Hujan tak pernah
    Mau bertukar jadi tanah
    Tapi bumi ingin sesekali
    Jadi air yang menghujankan
    Diriku dalam siang kerontang

    (V)
    Jika hujan tandang ke bumi
    Apakah aku, suatu saat,
    Bertamu ke langit
    Sebagai mendung?

    (VI)
    Tak setiap hujan
    Mengantar kematian
    Tapi selalu kematian
    Mendatangkan airmata

    (VII)
    Hanya percakapan kosong
    Mengantar hujan pergi
    Setelah itu pertikaian
    Dimulai lagi...

    (VIII)
    Ingatlah saat kita terkurung
    Dalam sebuah kamar
    Hanya ditemani minuman
    Dan makanan ringan
    Sementara dari jendela
    Tetesan hujan mencuri
    Percakapan kita...

    (IX)
    Tanpa petir mengantar
    Hujan ke peraduanku
    Kecuali erang
    Sebelum aku hilang

    (X)
    Adakah hujan ini
    Bagian dari langkahku
    Menuju laut-Mu?

    (XI)
    Jangan catat pertemuan
    Sebab ia sudah hanyut
    Bersama hujan

    (XII)
    Mari kita ulangi
    (Kisah cinta adam-hawa)
    Di dalam hujan
    Lalu ia melontarkan kita
    Ke dunia yang lain

    (XIII)
    Sebuah hari jatuh
    Dari halaman kalender
    Oleh hujan yang datang
    Lalu angka itu hanyut
    Meninggalkan tubuhku

    Kapan aku akan lahir?
    Tanya kalender ragu

    Meski hujan merupakan sebuah peristiwa yang umum terjadi, tetapi dalam proses hujan turun kita bisa memaknainya lebih mendalam kaitannya dengan kehidupan. 

  5. 5. Hujan karya Askar

    Pexels.com/Pixabay
    Pexels.com/Pixabay

    Hujan..
    Engkau hadir membekukan rindu
    Menepis sepi bersama pilu
    Memberi hidup akar alamku
    Menyamari air mata dukaku

    Hujan...
    Hadirlah dengan senyum
    Jangan tampakkan sisi terburukmu
    Hanyutkan seluruh kelam
    Beningkan jiwaku dengan jernihmu

    Hujan..
    Beri aku sejuk
    Beri aku peluk
    Hibur aku dalam senyap
    Dan teruslah jatuh membawa hidup.

    Dalam puisi di atas, hujan diibaratkan sebagai anugerah yang bisa menepis kesedihan dan air mata. Hujan pula yang membawa kehidupan untuk manusia di bumi. 

  6. 6. Bapak Hujan, Ibu Gerimis karya Ihsan Subhan

    pexels.com/hilaryhalliwell
    pexels.com/hilaryhalliwell

    Hujan seperti Bapak
    Dan Ibu adalah gerimis
    Mereka hidup di udara dingin
    Hingga saat bersama
    Terasa hujan begitu hangat
    Terasa hangat begitu hujan

    Hujan jatuh di dadaku
    Dan gerimis memeluk 
    Dari belakang punggungku
    Hujan hampir kehilangan air
    Dan sudah tak ada petir
    Kami selamat dari bahaya banjir

    Bapak sama dengan hujan
    Dan Ibu mirip gerimis
    Mereka datang ke doa-doaku
    Tumbuh subur di kedua belah pipiku
    Hingga menuai jadi pohon harapan
    Buah-buahnya lebat bagai kerinduan

    Peristiwa alam yang satu ini juga bisa diibaratkan seperti orang tua. Sebab, ia bisa memberikan harapan dan kebahagiaan bagi semua orang.

  7. 7. Hujan yang Diam-Diam Membawa Pesan karya Nanang Suryadi

    pexels.com/Chris Kane
    pexels.com/Chris Kane

    Hujan yang turun sore ini, hujan yang diam-diam membawa kata, yang kau titipkan penuh kerinduan

    Ingin kuterjemah kata, dari derai hujan, agar kutahu kabar apa yang tersampai.

    Telah diucapkan awan kepada hujan, rahasia yang sukar dikatakan, mungkin cinta, sebuah peniadaan

    Aku tetapi hujan yang mengembun, di jendela, ada tanda apa di sana, sulit kerja, cinta yang merahasia.

    Jika aku punya angan dan ingin, hujan punya angin, mendesau-desau, menampar kaca jendela

    Apa yang ingin dikatakan hujan kepadaku, rahasia tentang waktu, atau tentangmu? selepas hujan, langit lengang melepas rahasia

    Hujan yang turun sore ini, hujan yang diam-diam membawa pesan, yang kau titipkan penuh kerinduan

    Saat melihat hujan, air yang turun dari langit bisa menjadi pesan kepada semua yang ada di sekitarnya. 

  8. 8. Hujan Turun Berabad-abad karya Wiratmadinata

    pexels.com/Anastasiya Lobanovskaya
    pexels.com/Anastasiya Lobanovskaya

    Hujan turun berabad-abad dalam sejarah kami
    Airmata langit yang meruah ingin dipahami
    Hujan air mata yang tak mampu menembus 
    Kemarau cinta dan kasih sayang bagi bumi

    Hujan turun berabad-abad dalam hati kami
    Keringat Tuhan yang mengirim wahyu
    Hujan keringat yang tak terbayarkan
    Oleh cinta dan kasih sayang yang diberikan

    Hujan turun menderas berabad-abad dijantung kami
    Darah dari nyawa jelata yang tertumbalkan
    Hujan darah yang direnggut berhala ideologi
    Merajam cinta kasih yang diajarkan kitab suci

    Hujan air mata. Hujan keringat. Hujan darah
    Yang turun berabad-abad dalam sejarah
    Dari tubuh mereka yang tak berdosa
    Dengan apakah ia akan terbayarkan?

    Hujan yang turun berabad-abad itu, ya, Tuhanku
    Turunkanlah ia seperti doa menghapus petaka
    Turunkanlah bagai tangan para nabi yang suci
    Yang membasuh kelam, dendam dan benci.

    Kalau kita mengenal hujan sebagai air yang turun dari langit, peristiwa ini sebenarnya bisa dimaknai lebih mendalam. Peristiwa itu bisa berkaitan dengan pertumpahan darah hingga air mata. 

  9. 9. Sajak Hujan karya Sri Wulan Ambarwati

    pexels.com/Pixabay
    pexels.com/Pixabay

    Malam mulai menyepi
    Hujan datang menyapa bumi
    Memulangkan lagi setiap kenangan
    Yang hampir bisa terlupakan

    Hujan membawa pilu
    Memaksa berteduh pada tepian waktu
    Terjebak dalam basah sendu
    Terkekang gigil sembilu

    Hujan menerobos perdu
    Bersama desir angin menderu
    Mencengkeram hati nan pilu
    Sampai tangan pun tak mampu menggenggam rindu.

    Pada beberapa orang, hujan bisa membangkitkan kenangan yang lama sudah dilupakan. Kesedihan dan pilu yang sudah dilupakan bisa kembali datang karena hujan. 

  10. 10. Hujan Kematian karya Muh. Syaifullah

    Pexels.com/Alex Knight
    Pexels.com/Alex Knight

    Dimulai dari mendung
    Saat langit ditutupi awan gelap abu-abu
    Kabar itu mulai terdengar
    Berita entah baik atau buruk
    Kabar kepindahan kepemimpinanmu

    Mendung berganti jatuhan tetesan-tetesan air
    Rindukah namanya ini
    Setelah engkau benar beralih ke yang lain
    Setelah suasana baru bermunculan
    Ketika kau tak ada di sisi

    Hujan semakin menguasai
    Membanjiri asa yang terputus
    Membendung nasib yang terlantar
    Butuh pahlawan
    Butuh pemimpin

    Embun menghampiri dengan sinar matahari pencerahan
    Mengantarkan ibu pemimpin
    Ibu tegas cerdas lagi bijaksana
    Pahlawan kami datang

    Hingga hujan menderas lagi
    Diiringi gelegar petir tangisan
    Kematian ibu pemimpin kami tiba
    Setelah kami pergi tak meninggalkannya

    Kami tak percaya

    Sekarang engkau menyisakan pelangi
    Pelangi yang lebih indah dari pelangi tujuh warna
    Pelangi kejayaan tentunya
    Pelangi dari ibu pemimpin kami
    Bidadari pahlawan kami

    Kami merindu
    Saat proses hujan terjadi
    Kamu rindu sosokmu
    Saat proses kehidupan terjadi
    Kami rindu semuamu.

    Terakhir, hujan bisa diibaratkan seperti kehidupan yang dimulai dari mendung hingga pelangi. 

    Kumpulan puisi tentang hujan di atas bisa kamu baca untuk meromantisasi hujan yang turun dengan syahdu dan indah. Puisi tersebut juga bisa kamu kirimkan kepada orang yang spesial agar ia bisa menikmati keindahan suasana hujan pula. 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More