Popbela.com/Winston Gomez
Atasan denim Kylau&co available at LUMINE JAKARTA
Berkarier sejak kecil, menjadi sorotan publik sudah jadi bagian dalam hidupnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia, mungkin terkunci pada citra ikoniknya, anak perempuan menggemaskan yang berlari di tepi pantai dalam adaptasi musikal Sherina. Hingga hari ini pun, media sosialnya masih dipenuhi oleh komentar-komentar netizen yang terkejut melihat transisinya.
Namun, hidup di bawah lensa ekspektasi publik bukanlah perkara mudah bagi seorang remaja yang sedang mencari jati diri. Maisha tidak menampik bahwa ada kalanya ia harus bertarung dengan rasa cemas. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘Karya ini aneh nggak, ya? Berlebihan nggak, ya?’ suka muncul di kepalanya.
Menyiasati hal tersebut, Maisha menekankan pentingnya memiliki sebuah ruang bermain atau creative playground yang privat. Sebuah tempat di mana dia bisa berbuat salah tanpa dihakimi.
“Sangat penting bagi kita untuk bisa mengeksplorasi kreativitas tanpa ketakutan akan salah, terutama saat kita sedang sendiri, sebelum karya itu diperlihatkan ke orang lain,” jelasnya.
Di ruang itu lah, Maisha mengizinkan dirinya untuk berpikir out of the box, bahkan menjadi sedikit 'gila' untuk mengenali batas kemampuannya. Baginya, kreativitas paling lancar hadir justru saat ia sedang sendiri. Ada kebebasan yang datang dari kesunyian, ketika semua yang ia pikirkan, rasakan, dan tuliskan tak perlu melewati penilaian siapa pun.
Dalam ruang personal itu, semuanya terasa lebih jujur dan mengalir. Entah lewat lagu yang ia tulis tengah malam di kamar, catatan singkat di Notes app, atau halaman-halaman jurnal yang setia menampung isi kepalanya. Maisha menemukan bahwa terkadang proses kreatif terbaik memang lahir dari percakapan paling sunyi antara ia dengan dirinya sendiri.
“Dari situ kita jadi kenal sama diri kita sendiri; sejauh apa kita bisa berpikir dan berkreasi. Jadi, lakukan saja dulu sendirian, pelan-pelan semuanya akan menjadi lebih baik,” katanya dengan penuh semangat.
“Saat sendiri, semua hal yang kamu tulis, yang kamu tumpahkan, yang kamu rasakan, nggak ada orang yang bisa mengomentarinya, apa itu salah atau benar. Tak ada yang benar atau salah tentang dirimu,” lanjutnya lagi.
Artis yang kini berusia 19 tahun itu juga memilih untuk merangkul proses kreatifnya di versi yang lebih dewasa secara apa adanya. Kuncinya sederhana namun mutlak, yakni kejujuran.
“Dalam berkarya, aku hanya mencoba menjadi diriku sendiri. Aku tahu bahwa sebagai manusia aku masih bertumbuh, masih belajar banyak hal, dan masih mencari tahu tentang dunia ini,” ungkapnya.
Menurutnya, seni bukanlah tentang memamerkan kesempurnaan, melainkan sebuah jurnal hidup yang merepresentasikan proses belajarnya sehari-hari, termasuk saat ia merasakan emosi-emosi baru yang belum pernah ditemui sebelumnya.
“Seni itu harus jujur. Aku tidak akan bisa melahirkan karya yang bukan mencerminkan diriku sendiri. Aku tidak bisa memaksakan diri memenuhi ekspektasi orang lain, karena jika dipaksa, aku tidak akan menikmati apa yang aku lakukan,” ujarnya.
Setiap karyanya terasa alami, hangat serta dekat karena lahir dari pengalaman kehidupannya sendiri. Seniman berzodiak Gemini ini memandang dunia dengan lensa artistik personal, di mana setiap interaksi dan orang baru yang ia temui adalah sumber inspirasi.
“Inspirasiku justru datang dari caraku menjalani hidup sehari-hari,” tuturnya.
“Di usiaku yang ke-19 ini, aku sedang mengalami banyak hal baru. Ketika berinteraksi dengan orang lain atau melewati sebuah pengalaman, aku sering tertegun dan mulai mempertanyakan banyak hal: Kenapa ya bisa kayak gitu?” tutupnya dengan excited berbicara tentang inspirasi karya-karyanya.
Rasa penasarannya pun ia olah menjadi sebuah untaian nada dan kata, karya seni yang jujur dan siap menyentuh hati para pendengarnya.