5 Fakta Menarik Film Pendek 'Bahasa Cinta yang Beda', Sekuel AADC!
- Film pendek 15 menit Bahasa Cinta yang Beda melanjutkan kisah Cinta dan Rangga sekitar 10 tahun setelah AADC 2, menyoroti dinamika rumah tangga mereka.
- Dian Sastrowardoyo kembali sebagai Cinta, sementara Rangga tidak tampil fisik; cerita menekankan perhatian rutin seperti memasak omelette sebagai bahasa cinta.
- Film garapan Teddy Soeriaatmadja ini mengangkat jarak dan kesibukan pasangan LDM, serta menghadirkan Milly bersama karakter baru Rani dan Bella.
Sepuluh tahun setelah Ada Apa dengan Cinta? 2 dirilis, kisah Cinta dan Rangga kembali hadir lewat film pendek Bahasa Cinta yang Beda.
Kali ini, cerita mereka tidak lagi berfokus pada fase jatuh cinta seperti dua film sebelumnya, melainkan kehidupan rumah tangga yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Film pendek berdurasi 15 menit ini merupakan kolaborasi Royco dengan semesta AADC yang kembali menghadirkan Dian Sastrowardoyo sebagai Cinta dan Sissy Prescillia sebagai Milly.
Menariknya, Bahasa Cinta yang Beda juga membawa beberapa cerita baru tentang kehidupan Cinta dan Rangga. Penasaran seperti apa? Yuk, simak fakta menariknya berikut ini!
Table of Content
1. Sudah berada di fase hubungan yang lebih dewasa

Dok. Unilever Indonesia Bahasa Cinta yang Beda membawa Cinta dan Rangga ke fase kehidupan yang berbeda dari cerita AADC sebelumnya. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan bersama, keduanya kini berhadapan dengan rutinitas, kesibukan, dan jarak yang perlahan dapat membuat koneksi dalam hubungan terasa berbeda.
Film ini bahkan mengungkap bahwa Cinta dan Rangga akhirnya menikah dan telah menjalani kehidupan rumah tangga selama sekitar 10 tahun.
Dian Sastrowardoyo pun mengaku senang bisa kembali memerankan karakter Cinta yang sudah melekat dalam perjalanan kariernya. Menurutnya, cerita kali ini tidak lagi berbicara tentang bagaimana seseorang mencari atau menemukan cinta, melainkan bagaimana mempertahankan koneksi setelah hubungan berjalan selama bertahun-tahun.
“AADC selalu punya tempat spesial di hati aku, jadi excited banget bisa mendapat kesempatan untuk melanjutkan chapter hubungan Cinta dan Rangga yang kisahnya bukan soal puisi lagi, tapi lebih mencari bagaimana koneksi di hubungan realita tidak hilang” ujar Dian dalam acara gala premiere di XXI Epicentrum Jakarta pada Jumat (11-9-2026).
2. Mengenal love language yang dibutuhkan

Dok. Unilever Indonesia Salah satu gagasan utama yang diangkat dalam film ini adalah perhatian kecil sebagai bentuk bahasa cinta. Dalam kehidupan sehari-hari, perhatian tersebut dapat hadir melalui hal sederhana yang dilakukan dengan tulus dan konsisten, termasuk ketika seseorang meluangkan waktu untuk membuatkan makanan bagi orang yang disayanginya.
Dalam film, omelette digunakan sebagai simbol dari bentuk perhatian tersebut. Nuning Wahyuningsih, Head of Marketing Foods Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa memasak dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menunjukkan perhatian kepada orang lain.
“Bahasa cinta tidak selalu membutuhkan kata-kata indah ataupun gestur yang romantis, karena justru sering kali perhatian terasa paling bermakna ketika hadir lewat hal-hal kecil yang konsisten kita lakukan,” ungkap Nuning.
Jadi, bahasa cinta yang ditampilkan kali ini bukan lagi sekadar kata-kata romantis atau puisi, tetapi sesuatu yang bisa dilakukan dalam rutinitas sehari-hari.
3. Rangga tidak hadir secara fisik di sepanjang film
Dok. Unilever Indonesia Salah satu hal yang cukup menarik dari Bahasa Cinta yang Beda adalah absennya sosok Rangga secara fisik di layar. Ketiadaan tersebut rupanya memang sengaja dibuat sebagai bagian dari konsep cerita. Lewat situasi ini, film ingin menunjukkan bahwa rasa sayang tetap dapat disampaikan meskipun pasangan tidak selalu berada di tempat yang sama.
Skenario yang ditulis Titien Wattimena di bawah arahan sutradara Teddy Soeriaatmadja kemudian mengalihkan fokus penonton pada tindakan nyata yang dilakukan Cinta. Jika sebelumnya Cinta dan Rangga begitu identik dengan puisi sebagai media untuk mengungkapkan perasaan, kali ini rasa sayang justru hadir lewat aktivitas sederhana seperti memasak di rumah.
4. Dibuat relate dengan kehidupan pasangan LDM

Dok. Unilever Indonesia Tidak hadirnya Rangga secara langsung juga membuat cerita terasa dekat dengan pasangan yang sedang menjalani long-distance marriage (LDM). Kesibukan dan jarak menjadi bagian dari kehidupan Cinta dan Rangga setelah bertahun-tahun bersama, sehingga bentuk perhatian yang diberikan pun harus menyesuaikan keadaan mereka.
Alih-alih menggambarkan hubungan yang selalu romantis, film ini mencoba menunjukkan realitas pasangan dewasa yang terkadang harus berkomunikasi dari tempat berbeda.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara Teddy Soeriaatmadja mempertahankan karakter Cinta dan Rangga, tetapi sekaligus membawa mereka ke situasi yang lebih relevan dengan kehidupan sekarang. Nostalgia AADC tetap terasa, tetapi konflik dan bentuk kasih sayangnya dibuat lebih dekat dengan pengalaman banyak pasangan dewasa saat ini.
5. Lingkaran pertemanan ikut berubah

Dok. Unilever Indonesia Bukan hanya hubungan Cinta dan Rangga yang mengalami perkembangan, kehidupan sosial Cinta dan Milly juga diperlihatkan telah berubah. Dalam Bahasa Cinta yang Beda, Sissy Prescillia kembali sebagai Milly dengan hadir bersama karakter-karakter baru yang menggambarkan lingkungan pertemanan mereka di fase dewasa.
Dua karakter baru yang diperkenalkan adalah Rani yang diperankan Savannah Parapat dan Bella yang dimainkan Devina Bertha. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kehidupan Cinta dan Milly kini tidak hanya berkutat pada lingkaran pertemanan lama yang sudah dikenal sejak film sebelumnya.
Perubahan ini sekaligus menjadi gambaran bahwa waktu memang membawa banyak hal baru dalam kehidupan seseorang. Setelah bertahun-tahun berlalu, karakter-karakter AADC pun tumbuh dan memiliki kehidupan sosial yang lebih luas, tanpa harus kehilangan identitas yang sudah melekat sejak awal.





















