Do Not Disturb bukan sekedar ruangan biasa. Ini menjadi destinasi wellness baru yang merupakan sebuah ruang yang menggabungkan seni, edukasi, dan pleasure tools untuk mengajak orang memahami keintiman, koneksi, dan kenikmatan seksual tanpa rasa malu dan takut dihakimi.
Di balik toko sekaligus ruang wellness in, ada dua nama yang sudah lama dikenal di industri intimate wellness Indonesia. Mereka adalah Ida Swasti, sosok di balik berkembangnya Nipplets dan GThings dan Rendra Susanti, atau yang lebih dikenal sebagai Susu, founder dari Laci Asmara.
Dua orang yang berbeda generasi ini menginisiasi hadirnya Do Not Disturb yang berawal dari pengalaman orang-orang atas tubuhnya sendiri. Selama bertahun-tahun, keduanya bertemu ribuan pelanggan yang hendak membeli vibrator, pelumas, atau hadiah intim untuk diberikan kepada pasangannya.
Namun semakin lama mereka menyadari, produk bukanlah alasan utama orang mencari mereka. Orang datang untuk mencari jawaban atas keresahan, kegelisahan dan keraguan atas tubuh sendiri, perubahan dalam relasi, koneksi dan intimasi. Pertanyaan-pertanyaan yang sering kali terasa terlalu canggung untuk di diskusikan kepada banyak orang.
“Di Indonesia itu (orangnya) pengen tahuan. Cuma, kita kekurangan ruang untuk bertanya tanpa rasa takut, malu, dan tanpa penghakiman. Do Not Disturb lahir bukan untuk mengubah cara orang berpikir, tetapi untuk menghadirkan ruang di mana percakapan itu akhirnya bisa dimulai," kata Ida.
Alih-alih membuka toko sex toys yang lebih besar, Ida dan Susu memilih membangun sesuatu yang terasa lebih personal.