Apa Itu Emotional Validation dalam Hubungan? Ini Cara Penerapannya

- Emotional validation adalah mengakui dan menerima perasaan pasangan tanpa harus menyetujui sudut pandangnya, sehingga mereka merasa didengar dan dipahami.
- Saat pasangan bercerita, fokuslah mendengarkan sebelum memberi solusi; perhatikan bahasa tubuh, normalisasi emosi, dan dukung kemampuan mereka mengambil keputusan.
- Validasi emosional tetap memerlukan batas sehat: pahami kemarahan pasangan tanpa membiarkan diri menjadi sasaran ucapan atau pelampiasan yang menyakitkan.
Pernahkah kamu menceritakan sesuatu kepada pasangan, tetapi respons yang diberikan justru membuatmu merasa tidak didengarkan? Misalnya, saat sedang kesal dengan pekerjaan, pasangan malah berkata, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan,” atau langsung memberikan solusi tanpa benar-benar mendengarkan ceritamu.
Dalam hubungan, hal sederhana seperti merasa didengar dan dipahami ternyata punya peran penting. Salah satu cara untuk membangun perasaan tersebut adalah melalui emotional validation. Lantas, apa itu emotional validation dalam hubungan dan bagaimana cara menerapkannya? Yuk, simak ulasannya.
Arti emotional validation dalam hubungan

Woman and man in the city at night (Pexels/Trinity Kubassek) Emotional validation adalah tindakan mengakui dan menerima perasaan yang sedang dialami seseorang tanpa harus selalu menyetujui sudut pandangnya. Sederhananya, emotional validation membuat pasangan merasa bahwa emosi yang mereka rasakan didengar, dipahami, dan tidak dianggap berlebihan.
Memberikan validasi emosional bukan berarti kamu harus setuju dengan pasangan atau menganggap bahwa cara mereka melihat suatu masalah pasti benar. Kamu hanya menunjukkan bahwa kamu memahami perasaan yang sedang mereka alami.
Emotional validation bukan berarti harus memberi solusi

Ilustrasi pasangan ngobrol bersama (freepik.com/freepik) Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam hubungan adalah langsung masuk ke mode mencari solusi ketika pasangan sedang bercerita. Padahal, terkadang seseorang tidak sedang mencari jawaban atau nasihat, mereka hanya ingin didengarkan.
Contohnya, ketika pasangan berkata, “Hari ini aku benar-benar capek menghadapi pekerjaan,” kamu tidak harus langsung menjawab dengan, “Kalau begitu, besok coba ngomong ke atasan.”
Kamu bisa memulainya dengan, “Kedengarannya hari ini memang berat banget buat kamu.” Kalimat sederhana tersebut dapat membuat pasangan merasa bahwa emosinya diterima sebelum pembicaraan berlanjut ke solusi.
Cara menerapkan emotional validation dalam hubungan

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Jep Gambardella) 1. Berikan perhatian penuh

Ilustrasi pasangan ngobrol di dapur (freepik.com/kroshka__nastya) Hal pertama yang bisa dilakukan adalah benar-benar hadir ketika pasangan sedang bercerita. Letakkan ponsel sejenak, hentikan pekerjaan jika memungkinkan, lakukan kontak mata, dan arahkan tubuh kepada pasangan. Jangan sibuk memikirkan jawaban sebelum mereka selesai berbicara. Terkadang, perhatian penuh saja sudah cukup membuat seseorang merasa dihargai.
2. Pahami perasaan tanpa diucapkan

ilustrasi pasangan ngobrol (pexels.com/Helena Lopes) Tidak semua emosi disampaikan secara langsung. Terkadang, kamu perlu memperhatikan nada bicara, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh pasangan.
Misalnya, pasangan mengatakan, “Ya, lumayan sih,” dengan nada yang terdengar kecewa. Kamu bisa bertanya, “Kayaknya kamu sebenarnya cukup kecewa, ya?” Namun, jangan menganggap tebakanmu pasti benar. Berikan ruang agar pasangan bisa menjelaskan perasaannya sendiri.
3. Normalisasi perasaan

Ilustrasi pasangan ngobrol menikmati minuman bersama (freepik.com/freepik) Terkadang, seseorang hanya perlu tahu bahwa dirinya tidak sendirian dalam merasakan sesuatu. Kamu bisa mengatakan, “Kalau ada di posisi kamu, mungkin banyak orang juga akan merasa capek.” Kalimat tersebut dapat membantu pasangan memahami bahwa perasaan mereka bukan sesuatu yang aneh atau memalukan.
4. Tunjukkan kepercayaan pada pasangan

Ilustrasi pasangan ngobrol bersama (freepik.com/freepik) Validasi juga berarti menunjukkan bahwa kamu percaya pasangan mampu menghadapi masalah yang sedang dialaminya. Kamu bisa memberikan dukungan tanpa mengambil alih masalah tersebut. Misalnya, “Aku tahu ini berat buat kamu, tapi aku juga percaya kamu bisa menentukan apa yang terbaik buat dirimu.”
Dengan begitu, kamu memberikan dukungan tanpa membuat pasangan merasa tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Emotional validation tetap membutuhkan batasan

Ilustrasi pasangan ngobrol di sofa (freepik.com/freepik) Memberikan validasi kepada pasangan bukan berarti kamu harus menerima semua perilaku mereka atau bertanggung jawab atas semua emosi yang mereka rasakan.
Misalnya, pasangan sedang marah dan mengatakan sesuatu dengan nada yang menyakitkan. Kamu tetap bisa mengakui perasaannya sambil menetapkan batasan.
Kamu bisa mengatakan, “Aku tahu kamu lagi marah dan butuh didengarkan. Aku mau membicarakannya, tapi kita bisa lanjut kalau kita sudah sama-sama lebih tenang.”
Artinya, kamu tetap berusaha memahami emosi pasangan tanpa membiarkan dirimu menjadi tempat pelampiasan.
Emotional validation bukan berarti menjadi tempat pasangan melampiaskan emosi tanpa batas. Validasi adalah tentang memahami perasaan, sedangkan cara seseorang mengekspresikan perasaan tersebut tetap perlu memiliki batas yang sehat.





















