- Stres dan cemas: Hormon kortisol dapat meningkatkan keinginan makan manis, berlemak, atau asin.
Apa Itu Emotional Eating? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Emotional eating adalah kebiasaan makan yang dipengaruhi kondisi emosional.
Stres, cemas, bosan, hingga pola diet yang terlalu ketat bisa menjadi pemicunya.
Mengenali pemicu dan memberi jeda sebelum makan dapat membantu mengatasinya.
Pernah tiba-tiba ingin makan sesuatu saat stres atau sedang sedih? Bisa jadi, kamu sedang melakukan emotional eating.
Emotional eating adalah salah satu hal yang mungkin tanpa sadar pernah kamu alami. Supaya makin paham dengan kondisi tubuh, yuk simak penjelasan lengkap berikut!
Table of Content
1. Apa itu emotional eating?

pexels.com/Alena Darmel Emotional eating adalah kebiasaan makan sebagai respons perasaan tertentu, bukan karena lapar fisik. Menurut Cleveland Clinic, sekitar 75% aktivitas makan dipengaruhi oleh emosi. Nah, hal ini sebenarnya umum terjadi, tetapi pada tahap yang ekstrem perlu diwaspadai.
Dalam emotional eating, makanan digunakan untuk mengalihkan perasaan yang sedang dirasakan. Biasanya, keinginan makan tertuju pada makanan tertentu, seperti makanan manis, berlemak, atau asin.
2. Penyebab emotional eating

pexels.com/cottonbro studio Setelah mengetahui gambaran emotional eating, kamu juga perlu memahami penyebabnya sebagai berikut.
- Bosan: Makan dianggap aktivitas untuk mengisi waktu atau mencari hiburan.
- Sulit mengenali rasa lapar: Seseorang kesulitan membedakan lapar fisik dan lapar emosional.
- Diet terlalu ketat: Membatasi makanan secara berlebihan bisa memicu keinginan makan yang lebih kuat.
- Situasi tertentu: Kesepian, perubahan rutinitas, atau tekanan dari lingkungan juga dapat menjadi pemicu.
3. Ciri emotional eating

pexels.com/Tim Samuel Ciri-ciri emotional eating adalah salah satu hal yang bisa membantu kamu mengenali kebiasaan ini. Beberapa tandanya, antara lain:
- Keinginan makan muncul secara tiba-tiba.
- Hanya menginginkan makanan tertentu.
- Tetap ingin makan meski tidak lapar.
- Makan dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.
- Makan untuk meredakan stres, sedih, atau bosan.
- Merasa bersalah atau malu setelah makan.
4. Cara mengatasi emotional eating

freepik.com/skawee Oleh karena menyimpan bahaya tersembunyi, emotional eating tetap bisa diatasi, lho. Kebiasaan sederhana berikut bisa bantu kamu untuk makan lebih sehat.
- Beri jeda: Sebelum mengambil makanan, tanyakan apakah kamu benar-benar lapar atau sedang merasakan emosi tertentu.
- Jangan terlalu membatasi makanan: Tetap konsumsi makanan secara seimbang agar tidak terlalu lapar.
- Makan dengan mindful: Fokus pada makanan dan perhatikan rasa kenyang saat makan.
- Cari pelampiasan lain: Berjalan sebentar, melakukan hobi, beristirahat, atau berbicara dengan orang terdekat bisa menjadi alternatif.
Jadi, emotional eating adalah kebiasaan yang bisa dikenali dan dikelola dengan sederhana. Yuk, mulai lebih peka dengan rasa lapar dan emosi kamu!





















