Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Romantis! Ini Kumpulan Puisi Pernikahan Terindah

Romantis! Ini Kumpulan Puisi Pernikahan Terindah
Unsplash.com/Jonathan Borba
Share Article

Pernikahan selalu identik dengan hari yang penuh kebahagiaan dan paling dinanti-natikan oleh semua orang. Hari pernikahan sejatinya dibalut dengan suasana romantis yang menyelimuti kedua pengantin. Salah satu cara menambah nuansa romantis tersebut ialah melalui puisi pernikahan yang dibacakan dalam momen bahagia tersebut.

Puisi dinilai memiliki cita rasa seni yang tinggi karena ditunjang oleh bahasa sastra yang selalu indah. Lewat puisi, seseorang dapat mengekspresikan perasaannya kepada pasangan secara terbuka. Terlebih lagi jika mengutarakannya tepat di hari pernikahan, di mana semua perasaan bercampur menjadi satu. Berikut ini Popbela telah merangkum kumpulan puisi pernikahan karya para penyair Tanah Air.

  1. Undangan

    Unsplash.com/Wedding Photography
    Unsplash.com/Wedding Photography

    Dengan segala hormat 
    Kami harapkan kedatangan Tuan, Nyonya, dan Nona 
    untuk menghadiri kami dikawinkan…. 

    Bahan roti dalam adonan 
    tepung dan ragi disatukan. 
    Pohonan bertunas dan berbuah 
    benih tersebar dan berkembang biak 
    di seluruh muka bumi. 

    Tempat: 
    Di Gereja St. Josef, Bintaran, Yogyakarta…. 

    Rumah Tuhan yang tua 
    pangkuan yang aman Bapa Tercinta 
    Segala kejadian 
    mesti bermula di suatu tempat. 
    Pohon yang kuat 
    berakar di bumi keramat. 

    Waktu: 
    Selasa, tanggal 31 Maret 1959 
    jam 10 pagi, waktu di Jawa…. 

    Hari baru terbuka 
    menyambung lingkaran waktu 
    berputar tak bermula 
    Sejak cahaya yang pertama 
    bumi dan lading telah diolah 
    oleh tangan Sang Sabda yang Agung 

    Dengan segala hormat 
    kami ucapkan terima kasih 
    sebelum dan sesudahnya.

    — W. S. Rendra

  2. Kakawin kawin

    Unsplash.com/Jeremy Wong Weddings
    Unsplash.com/Jeremy Wong Weddings

    Aku datang. Aku datang padamu. 
    Dengan pakaian pengantin. 
    Kujemput kau ke rumahmu 
    dan kubawa ke gereja. 

    Aku datang. Aku datang padamu. 
    Kubawa ke langit beledu. 
    Fajar pertama kaum wanita 
    kusingkapkan padamu dengan perkasa. 

    Maka hujan pun turun 
    karena hujan adalah rahmat 
    dan rahmat adalah bagi pengantin. 
    Angin jantan yang deras 
    menggosoki sekujur badan bumi 
    menyapu segala nasib yang malang. 
    Pohon-pohonan membungkuk 
    bamboo dan mahoni membungkuk 
    segala membungkuk bagi rahmat 
    dan rahmat hari ini 
    adalah bagi penganti. 

    Aku datang. Aku datang padamu. 
    Dan hujan membersihkan jalanan 
    Kuketuk pintu rumahmu 
    dan rahmat sarat dalam tanganku. 
    Kau gemetar menungguku 
    dengan baju pengantin hijau 
    dan sanggulmu penuh bunga. 
    Permata-permata yang gemerlapan di tubuhmu 
    bagai hatimu yang berdebar-debar 
    gemerlapan 
    menunggu kedatanganku. 

    — W. S. Rendra

  3. Nyanyian Para Malaikat

    Unsplash.com/Petr Ovralov
    Unsplash.com/Petr Ovralov

    Di pagi penuh rahmat itu
    seorang teman surgawi
    memukulkan lidah lonceng
    yang keras itu
    ke dindingnya yang dingin.
    Maka kami pun turun
    ke bumi yang sedang mandi.
    Dinginnnya!
    Wahai! Wahai!

    Sambil meluncur-luncur
    di atas atap licin basah
    dari gereja yang tua itu
    kami tunggu
    kedatangan sepasang pengantin
    yang muda remaja
    bagai mentari muda yang malu
    di pagi dingin itu/
    Dinginnya!
    Wahai! Wahai!

    Koster gereja yang rajin
    telah siapkan roti dan anggur
    untuk missa yang suci itu
    sementara lilin-lilin telah dipasang
    dan bunga-bunga bersebaran

    Tuhan Allah Yang Esa
    yang selalu dipuja
    dalam mazmur bani Israel,
    akan menyatukan dua remaja
    dalam pelukan cintanya.
    Ah, ya!
    Dua orang pengantin remaja
    akan berpelukan
    dalam pagi yang dingin.
    Dinginnya!
    Wahai! Wahai!

    Pagi yang dingin itu
    adalah pagi yang mesra,
    pagi bunga-bunga mawar,
    pagi kemenyan dan kayu cendana.
    Dalam sakramen telah disatukan:
    dua badan satu jiwa
    selapik seketiduran.

    — W. S. Rendra

  4. Sampan Kehidupan

    Unsplash.com/Freestocks.org
    Unsplash.com/Freestocks.org

    Bersama putaran alunan waktu 
    Teriring langkah kaki terbalut rindu 
    Teduh senyumu hiasi cinta yang berlabuh 
    Terpaku, hari yang kunanti telah menunggu 

    Bersama siang dan malam yang berdekapan 
    Merangkai lembar selimut kenangan 
    Terpatri menjawab semua penantian 
    Terpaku, cintamu menuntunku ke singgasana peraduan 

    Padamu, yang selalu bersemayam 
    Janji suci telah kau ikatkan 
    Eja namamu telah kugenggam 
    Mendayung bersama sampan kehidupan

    — Ulviyana Herman 

  5. Lengkung Janur Kuning di Depan Rumah

    Unsplash.com/Eliza Szablinska
    Unsplash.com/Eliza Szablinska

    Semarak. 
    Awan berarak, riang. 
    Sabana menghijau. 
    Kupu-kupu bersabda; "hari bahagia segera dimulai!" 

    Perlahan, kuncup-kuncup doa mulai merekah. 
    Wangi, semerbak aromanya melingkari sapta penjuru mayapada. 
    Ranting-ranting bernyanyi. 
    Dedaun menari, ikuti irama angin. 
     
    Tidak ada pinta istimewa yang kuperbincangkan bersamaNya, tentangmu. 
    "Berjuanglah untuk mimpi yang kelak menghantui" 
    Kemudian, laut mensemogakan pintaku, lewat deburnya. 
    Kerumunan riak putih di pantai, turut mengaminkan segenap pinta. 

    Menjelang malam, langit meledakkan bintang-bintang. 
    Purnama tersenyum. 
    Sepi tak lagi sendiri. 
    Kebahagiaan nan hakiki baru saja dimulai. 
    "Selamat menempuh hidup baru"

    — Pemadat Kata 

  6. Di Bawah Langit Ada Cinta

    Unsplash.com/Jonathan Borba
    Unsplash.com/Jonathan Borba

    Seketika dunia menjadi punya kita berdua 
    Saat kau menghalalkanku dari orangtua 
    Seperangkat alat salat jadi mahar cintamu 
    Dan aku hanya perlu cinta untuk membeliku 

    Lihatlah betapa banyak senyum yang mengiringi cinta kita 
    Dengarlah betapa banyak doa yang diaminkan untuk kebahagiaan kita 
    Bukan semata-mata asmara berbuah dosa 
    Kini, asmara kita adalah ibadah penyempurna iman 

    Di bawah langit cinta ini sudah kita abadikan rasa 
    Dipersaksikan mata mata penuh cinta 

    Dan di sinilah kita memulai bahtera rumah tangga 
    Menjadi satu di dalam puas cita 

    Kau dan aku jadi kita 
    Dalam puas dan derita

    — Unknown

  7. Akad

    Unsplash.com/Beatriz Perez Moya
    Unsplash.com/Beatriz Perez Moya

    Akan tiba saatnya 
    Jiwa ini terlilit cinta 
    Tak lagi cuman permainan 
    Namun menjadi sebuah perjanjian 
     
    Cinta tulus ini 
    Terpadu termasuk didalam sebuah akad 
    Perjanjian diri tuk saling setia 
    Sehidup semati, mengumpulkan separuh jiwa 

    Saat akad terucap, 
    Resmi diri ini seluruhnya milikmu 
    Resmi hidup ini ku serahkan untukmu 

    Konsekuesikan ucap akad itu 
    Sebagai wujud cinta kita 
    Berjanjilah tuk katakan yang sebenarnya 
    Bahwa kita saling cinta.

    — Unknown

    Nah, itulah 7 kumpulan puisi pernikahan terindah karya penyair Tanah Air. Mana yang paling romantis menurutmu, Bela?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More