Dengan segala hormatÂ
Kami harapkan kedatangan Tuan, Nyonya, dan NonaÂ
untuk menghadiri kami dikawinkan….Â
Bahan roti dalam adonanÂ
tepung dan ragi disatukan.Â
Pohonan bertunas dan berbuahÂ
benih tersebar dan berkembang biakÂ
di seluruh muka bumi.Â
Tempat:Â
Di Gereja St. Josef, Bintaran, Yogyakarta….Â
Rumah Tuhan yang tuaÂ
pangkuan yang aman Bapa TercintaÂ
Segala kejadianÂ
mesti bermula di suatu tempat.Â
Pohon yang kuatÂ
berakar di bumi keramat.Â
Waktu:Â
Selasa, tanggal 31 Maret 1959Â
jam 10 pagi, waktu di Jawa….Â
Hari baru terbukaÂ
menyambung lingkaran waktuÂ
berputar tak bermulaÂ
Sejak cahaya yang pertamaÂ
bumi dan lading telah diolahÂ
oleh tangan Sang Sabda yang AgungÂ
Dengan segala hormatÂ
kami ucapkan terima kasihÂ
sebelum dan sesudahnya.
Romantis! Ini Kumpulan Puisi Pernikahan Terindah

Pernikahan selalu identik dengan hari yang penuh kebahagiaan dan paling dinanti-natikan oleh semua orang. Hari pernikahan sejatinya dibalut dengan suasana romantis yang menyelimuti kedua pengantin. Salah satu cara menambah nuansa romantis tersebut ialah melalui puisi pernikahan yang dibacakan dalam momen bahagia tersebut.
Puisi dinilai memiliki cita rasa seni yang tinggi karena ditunjang oleh bahasa sastra yang selalu indah. Lewat puisi, seseorang dapat mengekspresikan perasaannya kepada pasangan secara terbuka. Terlebih lagi jika mengutarakannya tepat di hari pernikahan, di mana semua perasaan bercampur menjadi satu. Berikut ini Popbela telah merangkum kumpulan puisi pernikahan karya para penyair Tanah Air.
Undangan

Unsplash.com/Wedding Photography — W. S. Rendra
Kakawin kawin

Unsplash.com/Jeremy Wong Weddings Aku datang. Aku datang padamu.Â
Dengan pakaian pengantin.Â
Kujemput kau ke rumahmuÂ
dan kubawa ke gereja.Â
Aku datang. Aku datang padamu.Â
Kubawa ke langit beledu.Â
Fajar pertama kaum wanitaÂ
kusingkapkan padamu dengan perkasa.Â
Maka hujan pun turunÂ
karena hujan adalah rahmatÂ
dan rahmat adalah bagi pengantin.Â
Angin jantan yang derasÂ
menggosoki sekujur badan bumiÂ
menyapu segala nasib yang malang.Â
Pohon-pohonan membungkukÂ
bamboo dan mahoni membungkukÂ
segala membungkuk bagi rahmatÂ
dan rahmat hari iniÂ
adalah bagi penganti.Â
Aku datang. Aku datang padamu.Â
Dan hujan membersihkan jalananÂ
Kuketuk pintu rumahmuÂ
dan rahmat sarat dalam tanganku.Â
Kau gemetar menunggukuÂ
dengan baju pengantin hijauÂ
dan sanggulmu penuh bunga.Â
Permata-permata yang gemerlapan di tubuhmuÂ
bagai hatimu yang berdebar-debarÂ
gemerlapanÂ
menunggu kedatanganku.— W. S. Rendra
Nyanyian Para Malaikat

Unsplash.com/Petr Ovralov Di pagi penuh rahmat itu
seorang teman surgawi
memukulkan lidah lonceng
yang keras itu
ke dindingnya yang dingin.
Maka kami pun turun
ke bumi yang sedang mandi.
Dinginnnya!
Wahai! Wahai!Sambil meluncur-luncur
di atas atap licin basah
dari gereja yang tua itu
kami tunggu
kedatangan sepasang pengantin
yang muda remaja
bagai mentari muda yang malu
di pagi dingin itu/
Dinginnya!
Wahai! Wahai!Koster gereja yang rajin
telah siapkan roti dan anggur
untuk missa yang suci itu
sementara lilin-lilin telah dipasang
dan bunga-bunga bersebaranTuhan Allah Yang Esa
yang selalu dipuja
dalam mazmur bani Israel,
akan menyatukan dua remaja
dalam pelukan cintanya.
Ah, ya!
Dua orang pengantin remaja
akan berpelukan
dalam pagi yang dingin.
Dinginnya!
Wahai! Wahai!Pagi yang dingin itu
adalah pagi yang mesra,
pagi bunga-bunga mawar,
pagi kemenyan dan kayu cendana.
Dalam sakramen telah disatukan:
dua badan satu jiwa
selapik seketiduran.— W. S. Rendra
Sampan Kehidupan

Unsplash.com/Freestocks.org Bersama putaran alunan waktuÂ
Teriring langkah kaki terbalut rinduÂ
Teduh senyumu hiasi cinta yang berlabuhÂ
Terpaku, hari yang kunanti telah menungguÂ
Bersama siang dan malam yang berdekapanÂ
Merangkai lembar selimut kenanganÂ
Terpatri menjawab semua penantianÂ
Terpaku, cintamu menuntunku ke singgasana peraduanÂ
Padamu, yang selalu bersemayamÂ
Janji suci telah kau ikatkanÂ
Eja namamu telah kugenggamÂ
Mendayung bersama sampan kehidupan— Ulviyana HermanÂ
Lengkung Janur Kuning di Depan Rumah

Unsplash.com/Eliza Szablinska Semarak.Â
Awan berarak, riang.Â
Sabana menghijau.Â
Kupu-kupu bersabda; "hari bahagia segera dimulai!"Â
Perlahan, kuncup-kuncup doa mulai merekah.Â
Wangi, semerbak aromanya melingkari sapta penjuru mayapada.Â
Ranting-ranting bernyanyi.Â
Dedaun menari, ikuti irama angin.Â
Â
Tidak ada pinta istimewa yang kuperbincangkan bersamaNya, tentangmu.Â
"Berjuanglah untuk mimpi yang kelak menghantui"Â
Kemudian, laut mensemogakan pintaku, lewat deburnya.Â
Kerumunan riak putih di pantai, turut mengaminkan segenap pinta.Â
Menjelang malam, langit meledakkan bintang-bintang.Â
Purnama tersenyum.Â
Sepi tak lagi sendiri.Â
Kebahagiaan nan hakiki baru saja dimulai.Â
"Selamat menempuh hidup baru"— Pemadat KataÂ
Di Bawah Langit Ada Cinta

Unsplash.com/Jonathan Borba Seketika dunia menjadi punya kita berduaÂ
Saat kau menghalalkanku dari orangtuaÂ
Seperangkat alat salat jadi mahar cintamuÂ
Dan aku hanya perlu cinta untuk membelikuÂ
Lihatlah betapa banyak senyum yang mengiringi cinta kitaÂ
Dengarlah betapa banyak doa yang diaminkan untuk kebahagiaan kitaÂ
Bukan semata-mata asmara berbuah dosaÂ
Kini, asmara kita adalah ibadah penyempurna imanÂ
Di bawah langit cinta ini sudah kita abadikan rasaÂ
Dipersaksikan mata mata penuh cintaÂ
Dan di sinilah kita memulai bahtera rumah tanggaÂ
Menjadi satu di dalam puas citaÂ
Kau dan aku jadi kitaÂ
Dalam puas dan derita— Unknown
Akad

Unsplash.com/Beatriz Perez Moya Akan tiba saatnyaÂ
Jiwa ini terlilit cintaÂ
Tak lagi cuman permainanÂ
Namun menjadi sebuah perjanjianÂ
Â
Cinta tulus iniÂ
Terpadu termasuk didalam sebuah akadÂ
Perjanjian diri tuk saling setiaÂ
Sehidup semati, mengumpulkan separuh jiwaÂ
Saat akad terucap,Â
Resmi diri ini seluruhnya milikmuÂ
Resmi hidup ini ku serahkan untukmuÂ
Konsekuesikan ucap akad ituÂ
Sebagai wujud cinta kitaÂ
Berjanjilah tuk katakan yang sebenarnyaÂ
Bahwa kita saling cinta.— Unknown
Nah, itulah 7 kumpulan puisi pernikahan terindah karya penyair Tanah Air. Mana yang paling romantis menurutmu, Bela?



















