Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Hadapi Keluarga yang Terlalu Ikut Campur dalam Persiapan Nikah
magnific.com/shurkin_son
  • Pasangan disarankan menyampaikan keinginan secara terbuka dan tenang, termasuk alasan memilih konsep acara atau jumlah tamu, agar keluarga memahami tanpa merasa diabaikan.

  • Memahami alasan keluarga, seperti tradisi atau harapan kerabat, dapat membantu mencari solusi bijak tanpa harus menuruti seluruh keinginan mereka.

  • Batasi informasi persiapan yang dibagikan, sepakati pembagian biaya sejak awal, dan tetapkan batasan keputusan bersama secara sopan agar tanggung jawab tidak dibebankan pada satu pihak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Persiapan pernikahan memang bisa menjadi momen yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Ada banyak hal yang perlu dipikirkan bersama pasangan, mulai dari menentukan konsep acara, memilih venue, menyusun daftar tamu, hingga mengatur anggaran. Namun, proses ini bisa terasa semakin rumit ketika keluarga terlalu banyak ikut campur dalam setiap keputusan.

Niat keluarga mungkin baik karena ingin pernikahan berjalan lancar dan berkesan. Namun, jika setiap pilihan harus mengikuti keinginan mereka, kamu dan pasangan bisa merasa kesulitan menentukan hari bahagia sesuai impian sendiri. Lantas, bagaimana cara hadapi keluarga yang terlalu ikut campur dalam persiapan nikah? Yuk, simak ulasannya.

1. Bicarakan keinginanmu

ilustrasi seseorang ngobrol bersama calon mertua (freepik.com/teksomolika)

Salah satu cara hadapi keluarga yang terlalu ikut campur dalam persiapan nikah adalah membicarakan keinginanmu secara terbuka. Daripada terus memendam kekesalan atau langsung membantah setiap saran mereka, cobalah menjelaskan apa yang kamu dan pasangan inginkan dengan tenang.

Misalnya, jika keluarga ingin mengundang banyak tamu sementara kamu menginginkan acara yang lebih intim, sampaikan alasanmu dengan jelas. Jangan menggunakan nada bicara yang menyudutkan agar pembicaraan tidak berubah menjadi pertengkaran. Dengan begitu, keluarga bisa lebih memahami sudut pandangmu tanpa merasa diabaikan.

2. Coba pahami sudut pandang keluarga

ilustrasi ibu mertua (pexels.com/RDNE Stock project)

Saat keluarga terus memberikan saran atau menolak pilihanmu, wajar jika kamu merasa kesal. Namun, sebelum menganggap mereka sengaja mempersulit persiapan pernikahan, cobalah memahami alasan di balik sikap tersebut.

Bagi banyak orang tua, pernikahan anak merupakan momen emosional yang menandai perubahan besar dalam keluarga. Mereka mungkin ingin memberikan yang terbaik, menjaga tradisi, atau merasa perlu memenuhi harapan kerabat. Memahami alasan tersebut bukan berarti kamu harus menuruti semua keinginan mereka, tapi bisa membantumu mencari solusi yang lebih bijak tanpa mengabaikan kebutuhan sendiri.

3. Batasi pembicaraan soal pernikahan

ilustrasi berbicara dengan ibu mertua (pexels.com/cottonbro studio)

Kalau setiap obrolan dengan keluarga selalu berakhir dengan perdebatan tentang persiapan nikah, kamu bisa mulai membatasi pembicaraan mengenai hal tersebut. Tidak semua hal perlu didiskusikan setiap kali bertemu, apalagi jika kamu belum membutuhkan pendapat atau bantuan mereka.

Misalnya, kamu tidak harus menceritakan setiap pilihan vendor yang sedang dipertimbangkan atau semua perubahan kecil dalam rencana pernikahan. Cukup sampaikan informasi yang memang perlu diketahui keluarga. Dengan begitu, kamu dan pasangan punya lebih banyak ruang untuk berdiskusi secara mandiri tanpa merasa terus-menerus ditekan.

4. Sesuaikan anggaran dengan kemampuan sendiri

Ilustrasi pasangan membuat rencana keuangan (freepik.com/Man and woman calculating domestic budget at home pressfoto)

Urusan biaya sering menjadi salah satu sumber konflik saat mempersiapkan pernikahan. Ketika keluarga ikut membiayai acara, mereka mungkin merasa berhak memberikan pendapat lebih besar tentang bagaimana uang tersebut digunakan, termasuk menentukan vendor, jumlah tamu, hingga konsep resepsi.

Jika kamu dan pasangan memiliki pilihan yang berbeda, cobalah membicarakan pembagian biaya sejak awal. Apabila ada kebutuhan yang benar-benar ingin kalian tentukan sendiri, pertimbangkan untuk membayarnya menggunakan dana pribadi selama tidak mengganggu kondisi keuangan. Namun, pastikan keputusan ini dibuat berdasarkan kemampuan, bukan karena merasa terpaksa membuktikan sesuatu kepada keluarga.

5. Tetapkan batasan dengan jelas

ilustrasi pasangan berkomunikasi dengan ibu mertua (istockphoto.com/JackF)

Memahami keinginan keluarga bukan berarti kamu harus selalu mengikuti semua keputusan mereka. Kamu dan pasangan tetap berhak menentukan pernikahan yang sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan kemampuan kalian. Karena itu, penting untuk menetapkan batasan sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Sampaikan dengan sopan keputusan mana yang masih bisa didiskusikan dan mana yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Kamu juga bisa meminta pasangan untuk ikut menyampaikan batasan tersebut kepada keluarganya sendiri. Dengan begitu, tanggung jawab menghadapi keluarga tidak hanya dibebankan kepada satu pihak.

Ingat, menetapkan batasan bukan berarti tidak menghormati keluarga, melainkan belajar mengambil keputusan sebagai pasangan yang sedang membangun kehidupan bersama.

Cara hadapi keluarga yang terlalu ikut campur dalam persiapan nikah memang membutuhkan kesabaran dan komunikasi yang baik. Kamu tidak harus mengikuti semua keinginan keluarga, tapi tetap bisa menghargai masukan mereka sambil mempertahankan keputusan yang penting bagi kalian.

Curated For You

Editorial Team

Related Article