Setiap kali kamu bertengkar karena sifatnya, dia akan langsung berubah drastis menjadi sosok yang sangat manis. Dia bisa menangis, membawakan hadiah atau bunga, meminta maaf dengan kalimat-kalimat puitis, dan berjanji akan berubah demi mendapatkan kesempatan kedua.
Kamu mungkin melihatnya sebagai bentuk kedewasaan dan perjuangan untuk mempertahankan hubungan. Padahal, ini adalah siklus klasik dari hubungan yang nggak sehat. Setelah fase ketegangan atau kekerasan emosional, akan selalu ada fase honeymoon, di mana dia bersikap sangat manis agar kamu nggak pergi, dan begitu kamu meluluh, pola yang sama akan terus terulang kembali.
Hubungan yang ideal seharusnya menjadi ruang aman yang membuat kamu merasa dihargai, didukung, dan tetap bisa menjadi diri sendiri tanpa adanya tekanan emosional. Jika kamu merasakan beberapa tanda emotional abuse yang awalnya keliatan romantis seperti di atas dalam hubungan saat ini, jangan ragu untuk mengambil langkah tegas.
Apa bedanya perhatian yang tulus dan kontrol berkedok romantis? | Perhatian yang tulus itu berbasis rasa percaya dan menghargai kebebasanmu. Pasangan akan mendukungmu berkembang dan memberikan ruang pribadi. Sebaliknya, kontrol berkedok romantis didasari rasa nggak aman dan kecurigaan, di mana tujuannya adalah mengatur dan memastikan kamu selalu di bawah pengawasannya. |
Kenapa korban emotional abuse sering kali susah buat putus? | Karena pelaku pandai meruntuhkan rasa percaya diri korbannya lewat manipulasi kata-kata. Akibatnya, kamu merasa nggak berharga dan percaya nggak ada orang lain yang mau bersamamu. Selain itu, fase manis setelah bertengkar sering kali membuat korban terjebak dalam harapan palsu. |
Apa yang harus aku lakukan kalau sadar sedang berada di hubungan yang abusive? | Percayai instingmu jika merasa ada yang nggak beres. Jangan dipendam sendiri, ceritakan kondisimu kepada keluarga atau sahabat terdekat agar kamu mendapat dukungan dan sudut pandang yang objektif. Jika terasa terlalu berat, jangan ragu meminta bantuan psikolog. |