“Nanti akhirnya mungkin Tiara juga mengajak penonton untuk ikut berkembang dengan karakternya dia juga di film Penerbangan Terakhir. Tiara mungkin lebih ke karakter yang bisa memvisualkan kita sebagai manusia itu seperti apa gitu.
Dalam arti kita nggak selalu senang terus, kita nggak selalu sedih terus. Tapi, sebagai manusia itu juga nggak selalu benar terus. Terkadang kita bisa menjadi orang jahat buat hidup orang lain tapi kita sendiri nggak sadar.
Dan menurut aku itu sesuatu yang manusiawi gitu. Nanti, Tiara juga akan mengajak penonton untuk bagaimana sih caranya untuk bangkit dari keterpurukan yang kita nggak bisa nyalain situasinya juga karena itu dari sisi kita juga, kenapa kita bisa ada di posisi itu,” kata Nadya Arina.
Sulitnya Chemistry Jerome Kurnia-Nadya Arina di 'Penerbangan Terakhir'

- Jerome Kurnia dan Nadya Arina berperan sebagai kapten pilot dan pramugari dalam film Penerbangan Terakhir yang mengangkat tema hubungan toxic.
- Mereka menghadapi tantangan membangun chemistry di film, harus melepaskan pengetahuan tentang satu sama lain dan memisahkan hubungan mereka di dunia nyata dengan karakter yang mereka perankan.
- Mereka belajar lebih menghargai pekerjaan di bidang aviasi setelah mendalami peran mereka melalui workshop dan diskusi dengan pramugari serta pilot asli.
VMS Studios kembali merilis karya terbarunya ke bioskop Indonesia. Kali ini mengambil genre drama romantis dengan latar aviasi. Meski berjudul Penerbangan Terakhir, ternyata ada pesan mendalam dari filmnya tentang hubungan yang toxic. Menariknya, film tersebut dibintangi oleh Jerome Kurnia dan Nadya Arina yang juga menjadi pasangan di dunia nyata.
Keduanya pun berbagi kepada Popbela tentang susahnya membangun chemistry, hingga riset maupun workshop untuk mendalami karakternya. Berikut beberapa fakta menarik yang diungkap oleh Jerome Kurnia dan Nadya Arina tentang film Penerbangan Terakhir yang mulai tayang di bioskop pada 15 Januari 2026 kemarin.
1. Perankan pilot dan pramugari

Setelah memerankan koki, kini Jerome Kurnia dan Nadya Arina kompak berperan menjadi kru penerbangan. Jerome memerankan pilot bernama Kapten Deva, sementara Nadya menjadi seorang pramugari junior bernama Tiara. Keduanya bertemu karena bekerja di perusahaan yang sama.
Tiara baru saja masuk ke dunia penerbangan. Ia merupakan anak pertama di keluarganya dengan satu orang adik perempuan dan dibesarkan oleh single mom karena ayahnya telah tiada. Sama seperti kariernya yang baru ia rintis, Tiara juga masih awam tentang percintaan. Ia tak sadar masuk dalam hubungan tak sehat bersama Kapten Deva. Nadya Arina mengajak para penonton untuk melihat bersama bagaimana perkembangan karakter Tiara dari yang sangat polos sampai akhirnya bisa bangkit dari keterpurukan.
Di sisi lain, Kapten Deva sendiri merupakan sosok yang tampan, tapi red flag. Ia merupakan orang yang ambisius dan agak narsis. Meski semua gerak-geriknya memperlihatkan ia sebagai sosok yang toxic untuk seorang pasangan, tapi Deva tak pernah melihat dirinya seperti itu. Ia percaya apa yang ia lakukan adalah benar dan lazim. Ia hanya melakukan apa yang dianggapnya benar, tanpa mendengarkan pendapat orang lain. Parahnya, Deva adalah seseorang yang suka menjalin hubungan dengan banyak perempuan.
“Memang mungkin beberapa orang melihat Deva itu red flag. Tapi, Deva itu nggak pernah melihat dirinya red flag karena semua yang dia lakukan itu menurut dia lazim aja, itu normal. Deva adalah seorang pilot, kapten. Masih muda jatuhnya untuk seorang kapten karena dia memang sangat berbakat dalam pekerjaannya gitu. Dia sangat passionate dari kecil dia udah selalu pengen jadi pilot.
Dia banting tulang, dia kerja keras untuk mendapatkan miles yang banyak, jam terbang yang banyak. Untuk bisa menjadi kapten. Dan si Deva ini dia mempunyai kelebihan yang tadi barusan aku sebut.
Tapi dia juga mempunyai mungkin orang melihat sebagai kekurangannya itu, kelemahannya adalah di perempuan. Nah, si Deva ini candunya itu perempuan. Jadi dia mendapatkan kebahagiaan dengan mempunyai banyak hubungan dengan perempuan-perempuan lain,” terang Jerome tentang karakter yang ia mainkan.
2. Tantangan bangun chemistry

Menjalin hubungan hubungan di dunia nyata ternyata tak membuat chemistry di film menjadi lebih mudah, setidaknya untuk Jerome Kurnia dan Nadya Arina. Jerome sendiri mengatakan bahwa ia harus melepaskan semua pengetahuan tentang satu sama lain seperti awal bertemu lagi. Ia harus memisahkan hubungannya sebagai Jerome dan Nadya yang berpacaran, Jerome dan Nadya sebagai lawan main, serta Tiara dan Deva.
“Tantangan buat aku sendiri dan juga main bareng sama Nadya Arina sebagai Tiara juga ada tantangan tersendiri karena ya kita kenal, kita punya hubungan dan dia punya cara kerja sendiri, aku punya cara kerja sendiri dan itu terlihat ketika kita kerja bareng. Tapi, kita selalu menghargai cara kita masing-masing,” ujar aktor 31 tahun itu.
Ini dilakukan agar chemistry antara Tiara dan Deva tak terlihat berlebihan atau canggung sebagai pasangan kekasih yang belum lama berpacaran. Mereka membangun hubungan tersebut dari awal lagi.
“Antara Jerome dan Nadya kita punya chemistry tersendiri yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Antara Jerome dan Nadia untuk film Penerbangan Terakhir sebagai aktor kita tuh punya chemistry lagi yang kita bangun. Antara Deva dan Tiara itu kita juga harus bangun chemistry lagi. Biasanya aku bekerja sama orang cuma di dua atas sini. Nah yang di bawah ini itu justru bisa ada beberapa hal yang diambil dari kebiasaan yang semua kita pernah lakukan. Itu bisa ngebantu, tapi justru juga bisa mempersusah.
Bagaimana contohnya? Mempermudah tentu aku menyentuh pundaknya lebih mudah karena aku sudah sering menyentuh pundak, tapi dengan chemistry berbeda tapi ada juga yang susahnya ketika kita harus men-tone down dan men-tone up lagi di beda sisi di mana ketika kita nggak kelihatan seperti pasangan yang sudah lama. Jadi, harus turun dulu abis itu geser baru naik lagi, sedangkan kalau biasa sama aktor lain kenal, temen tapi ya sebatas co-worker aja,” jelas Jerome.
“Tapi kalau aku mau menambahkan sedikit, sebenarnya menurut aku sebuah kesalahan besar saat orang menganggap bahwa kalau misalnya mereka berpasangan secara aslinya itu akan berarti mereka punya chemistry yang lebih bagus dibandingkan sama orang lain. Karena menurut aku ya mungkin balik lagi, maksudnya pasangan aslinya memang ini, tapi mungkin di layar orang lebih suka misalnya jalan sama siapa atau aku sama siapa karena merasa chemistry-nya lebih bagaimana.
Dan menurut aku sendiri kesulitannya adalah saat bersama orang lain spontanitas itu akan lebih ada karena aku nggak tau misalnya adegan yang kita berantem aku nggak tau kamu marah seperti apa, sedangkan kalau sama Jerome ya aku sudah tau dia marah, dia ketawanya seperti apa, jadi bukan sesuatu yang mengejutkan lagi tapi aku harus bertindak seperti aku sedang terkejut,” tambah Nadya.
“Tapi ada terkejutnya juga lebih kompleks dari itu. Misalnya, aku tahu Nadya sedih itu seperti apa, aku tahu Nadya marah kayak apa, aku tahu Nadya ketawa seperti apa, tapi ini Nadya sebagai Tiara yang ketawanya sedikit berbeda, marahnya lebih beda dan itu tuh ada kayak ada extra effort bagaimana caranya untuk hilangkan semua pengetahuan aku tentang dia itu sih yang kesulitan salah satunya,” timpal Jerome lagi.
3. Beda real life vs karakter

Jika berbicara tentang karakter yang diperankan dengan diri mereka sendiri, Jerome dan Nadya mengungkapkan mereka punya perbedaan dan persamaannya masing-masing. Nadya sendiri mengatakan kalau dirinya sangat berbeda dengan Tiara, mulai dari pekerjaan, secara usia, maupun tentang percintaan.
Jerome Kurnia justru menemukan sebuah persamaan antara dirinya dengan Deva. Mereka sama-sama suka dunia aviasi. Jerome sangat tertarik dengan pesawat, bahkan sebelum syuting dramanya. Ia juga suka mengulik tentang fakta-fakta menarik pesawat atau dunia aviasi.
“Aku juga lumayan tertarik sama pesawat-pesawat gitu sih sebenarnya. Sebelum syuting drama ini. Aku suka itu gara-gara takut pesawat. Jadinya ngulik, terus aku jadi suka gitu. Lama-lama jadi kayak aku pengen banget naik pesawat tipe ini. Kenapa sih ada turbulence. Apa sih arti-arti suara-suara, kayak gitu sih,” ungkap Jerome.
4. Lebih menghargai para pekerja di bidang aviasi

Untuk mendalami perannya, semua pemeran diajarkan mengikuti workshop selama 2-3 minggu dan berkesempatan untuk berdiskusi dengan pramugari dan pilot asli. Ini membuat mereka lebih mengenal tentang pekerjaan dan istilah yang ada di sana, bahkan sampai politik yang ada di dalamnya.
“Kalau dari aku sendiri jadi VMS production house-nya memang memberikan kita workshop juga. Sama pramugari asli dan pilot asli. Dan selain itu penulis kita juga tadinya pramugari. Kalau aku banyak berkomunikasi sama si pramugari ini.
Tapi mungkin yang lebih dipelajari apa aja yang kita butuhkan untuk scene-scene-nya. Kayak misalnya safety demo, terus lalu ada istilahnya hierarki di cabin crew itu seperti apa. Terus kita juga belajar gimana sih mereka pramugari-pramugari ini berkomunikasi sama pilot Sebelum di-take off atau misalnya landing atau apa saja yang di-announce,” cerita aktris 28 tahun ini
“Kalau untuk karakter Deva, ya sama kita juga diberi fasilitas oleh VMS. Aku sempat ngobrol banyak sama salah satu pilot maskapai Indonesia yang masih aktif. Dari yang seumuran sama aku dan seumuran sama Deva. Dan dari situ banyak ngobrol dan banyak nanya. Bisa nanya soal kebiasaan pilot di dalam ruang kerja dan di luar.
Contoh kayak ada beberapa adegan di mana kita diperlukan untuk ngomong sama tower. Misalnya ngomongnya bagaimana, sama siapa, apa sih yang harus disampaikan persisnya biar nggak salah. Terus di luar itu juga banyak nanya sama dia kalau pilot tuh kayak gimana sih hierarkinya antara pilot sama kapten sama flight attendant, cabin crew-nya tuh kayak gimana senioritasnya. Normalnya tuh seperti apa,” ujar aktor kelahiran Jakarta ini.
Di samping itu, keduanya kompak bahwa mereka menjadi lebih menghormati dan menghargai orang-orang yang bekerja di bidang tersebut. Menurut mereka, pekerjaan tersebut tidaklah mudah, perlu banyak kesiapan dan kesehatan baik mental maupun tubuh.
“Tapi semenjak syuting ini, jadi yang kayak setiap kita naik pesawat jadi ‘gila ya, ini beneran sebuah pekerjaan yang sangat sulit. Bukan sesuatu yang semudah itu’ gitu. Sesederhana safety demo aja kita harus bisa straight lihat ke depan gitu. Dan kita sadar semua orang melihat kita.
Iya maksudnya benar-benar berjasa banget ya, karena ketemu sama banyak orang yang berbeda-beda. Belum lagi penumpang-penumpang yang banyak maunya gitu. Maksudnya ternyata menjadi pramugari dan pramugara, jadi cabin crew itu sulit sekali. Yang kita lihat kan pasti cuma enak-enak,” tutur Nadya.
“Dari aku tuh betapa susah dan beratnya pekerjaan seorang pilot. Dengan kamu harus fit secara raga dan jiwa. Dan banyak yang bergantung pada diri kamu gitu. Dan kamu juga harus banyak belajar dan terus belajar. Karena pesawat itu berubah-berubah terus kan. Jadi kayak benar-benar harus tajam gitu sih. Jadi, singkatnya aku jadi tambah respect kepada pekerjaan orang-orang aviasi,” kata Jerome.
5. Pesan Jerome dan Nadya dari karakter mereka

Memerankan karakter yang tak sempurna dan amat toxic, Nadya dan Jerome mendapat banyak pelajaran yang berharga, khususnya tentang hubungan. Nadya belajar bahwa kontrol terbesar atas dirinya adalah dia sendiri, bukan orang lain. Ia juga belajar bahwa sebagai manusia pasti akan ada aja ujiannya, tapi jangan terus terpuruk melainkan bangkit dan lebih maju.
“Ya kalau mungkin dari karakter aku sendiri, kita tuh sering kali memberikan kontrol akan diri kita sama orang lain tanpa kita sadari. Padahal yang harusnya punya kontrol penuh akan diri kita adalah diri kita sendiri, itu satu.
Dan yang kedua yang namanya juga hidup ya yang pasti selalu ada aja ujiannya gitu dan seberat apapun itu pasti akan berlalu. Menurut aku, jadi jangan terus terpuruk tapi malah maju untuk mencari solusinya apa.
Selain itu, juga support system itu penting banget. Jadi, banyak-banyak bergaul dengan orang-orang yang positif, tetap jaga hubungan dengan keluarga. Support system dari keluarga walaupun kita jauh tapi itu sesuatu yang berdampak banget gitu sih,” pesan Nadya.
Jerome juga belajar banyak tentang karakternya, seperti orang akan keras kepala dan teguh pada pendiriannya saat sudah suka akan sesuatu dan merasa dirinya benar. Hal ini juga yang berpengaruh kepada integritas, di mana ia akan melakukan
“Kalau dari Deva, aku belajar banyak hal tapi yang aku mau bahas dua. Pertama adalah kalau manusia itu sudah tahu dan sudah suka akan sesuatu dan dia merasa dia itu benar mau siapa pun yang ngomong ke dia itu nggak bakal bisa diubah. Jadi, kalau menurut dia ini benar ya ini benar intinya gitu.
Dan itu menguatkan aku ke poin kedua bahwa untuk mengingatkan diri lagi bahwa jadi orang itu harus penuhi integritas. Jadi apa itu integritas? Integritas adalah melakukan hal yang baik ketika nggak ada orang yang melihat, itu sih. Jadi, Deva salah nggak juga kalau dia percaya apa yang dia lakukan baik gitu, jadi itu integritasnya dia, dari aku,” ungkap aktor berzodiak Aquarius itu.
Itulah beberapa fakta menarik tentang film Penerbangan Terakhir yang diungkap langsung oleh Jerome Kurnia dan Nadya Arina.


















