Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

20 Kumpulan Puisi Cinta Romantis untuk Meluluhkan Pasangan

20 Kumpulan Puisi Cinta Romantis untuk Meluluhkan Pasangan
Unsplash.com/Toa Heftiba
Share Article

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengungkapkan perasaan cinta kepada pasangan. Ada yang menunjukkannya melalui perhatian, memberikan hadiah, atau mengungkapkan perasaannya melalui puisi cinta romantis. Meski terkesan sederhana, terkadang kata-kata mampu meluluhkan hati sehingga pasangan merasa dihargai dan dicintai.

Bela, apakah kamu ingin melakukan hal yang romantis untuk meluluhkan hati pasanganmu? Jika iya, tak ada salahnya kamu mengungkapkannya melalui puisi cinta romantis.

Nah, kali ini Popbela sudah menyiapkan 20 kumpulan puisi cinta romantis untuk meluluhkan pasangan karya sastrawan ternama. Yuk, simak!

  1. 1. Aku Ada - Dee Lestari

    Unsplash.com/Charly Pn
    Unsplash.com/Charly Pn

    Memanggil namamu ke ujung dunia
    Tiada yang lebih pilu
    Tiada yang menjawabku selain hatiku

    Dan ombak berderu
    Di pantai ini kau slalu sendiri
    Tak ada jejakku di sisimu
    Namun saat ku tiba
    Suaraku memanggilmu akulah lautan

    Ke mana kau s'lalu pulang
    Jingga di bahuku
    Malam di depanku
    Dan bulan siaga sinari langkahku

    Ku terus berjalan
    Ku terus melangkah
    Kuingin kutahu engkau ada
    Memandangimu saat senja
    Berjalan di batas dua dunia

    Tiada yang lebih indah
    Tiada yang lebih rindu
    Selain hatiku
    Andai engkau tahu
    Di pantai itu kau tampak sendiri
    Tak ada jejakku di sisimu

    Namun saat kau rasa
    Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan
    Memeluk pantaimu erat
    Jingga di bahumu
    Malam di depanmu

    Dan bulan siaga sinari langkahmu
    Teruslah berjalan
    Teruslah melangkah
    Ku tahu kau tahu aku ada

    Puisi cinta yang pertama di atas ditulis oleh Dee Lestari. Dee Lestari merupakan nama pena dari Dewi Lestari yang merupakan seorang penulis yang dikenal lewat buku-buku fiksinya. Selain puisi di atas, karyanya yang terkenal di antaranya Supernova, Perahu Kertas, dan Aroma Karsa. 

  2. 2. Aku Ingin - Sapardi Djoko Damono

    Unsplash.com/Devon Divine
    Unsplash.com/Devon Divine

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    Dengan kata yang tak sempat diucapkan
    Kayu kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

  3. 3. Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta - Sapardi Djoko Damono

    Unsplash.com/Devon Divine
    Unsplash.com/Devon Divine

    Mencintai angin
    harus menjadi siut

    Mencintai air
    harus menjadi ricik

    Mencintai gunung
    harus menjadi terjal

    Mencintai api
    harus menjadi jilat

    Mencintai cakrawala
    harus menebas jarak

    Mencintai-Mu
    harus menjelma aku

    Sapardi Djoko Damono memang penyair Indonesia yang dikenal dengan puisi-puisi cintanya yang romantis. Karyanya bahkan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Beberapa puisi yang paling terkenal di antaranya berjudul "Aku Ingin", "Hujan Bulan Juni", dan "Pada Suatu Hari Nanti."

  4. 4. Sajak Puisi - Mustofa Bisri

    Unsplash.com/Devon Divine
    Unsplash.com/Devon Divine

    Cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
    Cinta Romeo kepada Juliet si Majnun Qais kepada Laila belum apa-apa
    Temu pisah kita lebih bermakna
    Dibandingkan temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
    Rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam dan Hawa

    Aku adalah ombak samuderamu
    Yang lari datang bagimu
    Hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
    Aku adalah wangi bungamu
    Luka berdarah-darah durimu
    Semilir bagai badai anginmu

    Aku adalah kicau burungmu
    Kabut puncak gunungmu
    Tuah tenungmu
    Aku adalah titik-titik hurufmu
    Kata-kata maknamu

    Aku adalah sinar silau panasmu
    Dan bayang-bayang hangat mentarimu
    Bumi pasrah langitmu

    Aku adalah jasad ruhmu
    Fayakun kunmu

    Aku adalah a-k-u
    k-a-u
    mu

    Populer dengan nama Gus Mus, Mustofa Bisri merupakan seorang pemuka agama sekaligus sastrawan ternama. Selain menulis karya sastra, Gus Mus juga menulis berbagai buku nonfiksi mengenai Islam. Sementara buku kumpulan puisi yang pernah diterbitkannya berjudul Aku Manusia. 

  5. 5. Peluklah Aku dengan Ketabahanmu – Boy Chandra

    Unsplash.com/Candice Picard
    Unsplash.com/Candice Picard

    Aku masih bersedia,
    menyediakan diri untuk mencintaimu
    Tetaplah menetap di hatiku, 
    sebab hidup akan jauh lebih baik berjalan menujumu.

    Menatap matamu,
    sudah membuat duniaku penuh dengan rindu,
    apalagi jikalau memilikimu seusia hidupku,
    tentu akan lebih indah dari itu.

    Peluk tubuhku,
    tabahlah berjuang bersamaku.

    Nama Boy Candra tentu tak asing bagi anak muda masa kini. Sebab, berbagai karyanya termasuk puisi cinta di atas digemari anak muda masa kini. Selain puisi, novel romantis Boy Candra yang bisa kamu baca adalah Origami Hati, Dongeng-Dongeng yang Tak Utuh, dan Setelah Hujan Reda. 

  6. 6. Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta - Aan Mansyur

    Unsplash.com/Kate Kalvach
    Unsplash.com/Kate Kalvach

    Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta
    Kau melihat langit membentang lapang
    Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki

    Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta,
    Aku melihat nasib manusia
    Terkutuk hidup di bumi
    Bersama jangkauan lengan mereka yang pendek
    Dan kemauan mereka yang panjang

    Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta,
    Kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung
    Bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi
    Dari mata peluru para pemburu

    Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta
    Aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa
    Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri

    Ketika ada yang bertanya tentang cinta,
    Apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata
    Atau cukup ketidaksempurnaan kita?

  7. 7. Kerinduan - Khalil Gibran

    Unsplash.com/Josue Michel
    Unsplash.com/Josue Michel

    Merenda sebuah tali kasih
    Kusimpul menjadi satu hati
    Gambaran jiwa yang terluka
    Bagai langit meratap sendu
    Kala bias cinta menghilang
    Sakit itu pun datang tanpa permisi
    Rembulan tak menyisakan senyum.
    Bersama malam, kudekap lirih arti kerinduan

    Puisi cinta di atas datang dari penyair dunia yang juga terkenal dengan karya-karya romantisnya. Ia adalah Kahlil Gibran, seniman, penyair, dan penulis yang lahir di Lebanon. Meski telah tiada, karya-karyanya masih terus dinikmati sampai saat ini. 

  8. 8. Kangen - W.S Rendra

    Unsplash.com/Jonathan Borba
    Unsplash.com/Jonathan Borba

    Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
    menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

    Kau tak akan mengerti segala lukaku
    karena cinta telah sembunyikan pisaunya

    Membayangkan wajahmu adalah siksa
    Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.

    Engkau telah menjadi racun bagi darahku
    Apabila aku dalam kangen dan sepi

    Itulah berarti
    aku tungku tanpa api.

  9. 9. Surat Cinta - W.S Rendra

    Unsplash.com/Jonathan Borba
    Unsplash.com/Jonathan Borba

    Kutulis surat ini
    kala hujan gerimis
    bagai bunyi tambur mainan
    anak-anak peri dunia yang gaib.
    Dan angin mendesah
    mengeluh dan mendesah
    Wahai, Dik Narti,
    aku cinta kepadamu!

    Kutulis surat ini
    kala langit menangis
    dan dua ekor belibis
    bercintaan dalam kolam
    bagai dua anak nakal
    jenaka dan manis
    mengibaskan ekor
    serta menggetarkan bulu-bulunya.
    Wahai, Dik Narti,
    kupinang kau menjadi istriku!

    Willibrordus Surendra Broto Rendra atau dikenal dengan WS Rendra merupakan seorang seniman yang berbakat dalam menulis puisi, cerpen, dan drama. Puisi cinta di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak karyanya. Buku kumpulan puisi yang pernah diterbitkannya antara lain berjudul Balada Orang-Orang Tercinta dan Blues untuk Bonie. 

  10. 10. Hanya - Sapardi Djoko Damono

    Unsplash.com/Jonathan Borba
    Unsplash.com/Jonathan Borba

    Hanya suara burung yang kau dengar
    dan tak pernah kau lihat burung itu
    tapi tahu burung itu ada di sana

    Hanya desir angin yang kau rasa
    dan tak pernah kau lihat angin itu
    tapi percaya angin itu di sekitarmu

    Hanya doaku yang bergetar malam ini
    dan tak pernah kau lihat siapa aku
    tapi yakin aku ada dalam dirimu

  11. 11. Taman Dunia - Asrul Sani

    Unsplash.com/Toa Heftiba
    Unsplash.com/Toa Heftiba

    Kau masukkan aku ke dalam taman- dunia, kekasihku !
    kau pimpin jariku, kau tunjukkan bunga tertawa, kuntum tersenyum.
    kau tundukkan huluku tegak, mencium wangi tersembunyi sepi.
    Kau gemalaikan di pipiku rindu daun beldu melunak lemah.

    Tercengang aku takjub, terdiam.
    berbisik engkau:
    "Taman swarga, taman swarga mutiara rupa".

    Engkau pun lenyap.

    Termanggu aku gilakan rupa.

    Penulis puisi di atas adalah seorang sastrawan, penulis skenario, dan sutradara bernama Asrul Sani. Ia dikenal sebagai pelopor angkatan 45 dalam dunia sastra. Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, Asrul Sani menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Tiga Menguak Takdir.

  12. 12. Sajak Putih – Chairil Anwar

    Unsplash.com/Sergey Sokolov
    Unsplash.com/Sergey Sokolov

    Bersandar pada tari warna pelangi
    Kau depanku bertudung sutra senja
    Di hitam matamu kembang mawar dan melati
    Harum rambutmu mengalun bergelut senda

    Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
    Meriak muka air kolam jiwa
    Dan dalam dadaku memerdu lagu
    Menarik menari seluruh aku

    Hidup dari hidupku, pintu terbuka
    Selama matamu bagiku menengadah
    Selama kau darah mengalir dari luka
    Antara kita mati datang tidak membelah

  13. 13. Aku Tengah Menantimu - Sapardi Djoko Damono

    Unsplash.com/Radu Florin
    Unsplash.com/Radu Florin

    Di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
    Berapa Juni saja menguncup dalam diriku dan kemudian layu
    Yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas
    Awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu

    Musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
    Kudengar berulang suara gelombang udara memecah
    Nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah
    Telah rontok kemarau-kemarau yang tipis; ada yang mendadak sepi

    Di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun menanti
    Barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
    Dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama
    Dibaca, diresapi, sungguh bisa memulihkan perasaan.

  14. 14. Cintaku Jauh di Pulau - Chairil Anwar

    Unsplash.com/Michael Easterling
    Unsplash.com/Michael Easterling

    Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri

    Perahu melancar, bulan memancar di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar angin membantu/laut terang, tapi terasaaku tidak 'kan sampai padanya.

    Di air yang tenang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala melaju. Ajal bertakhta, sambil berkata: "Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

    Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! Perahu yang bersama 'kan merapuh! Mengapa Ajal memanggil dulu. Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

    Manisku jauh di pulau, kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri. 

    Chairil Anwar merupakan penyair yang namanya tak akan pernah mati dalam puisi Indonesia. Ia juga merupakan pelopor angkatan 45. Sampai dengan akhir hayatnya, Chairil Anwar menulis puisi cinta di atas dan beberapa sajak di antaranya "Derai-Derai Cemara", dan "Aku Berada Kembali".

  15. 15. Episode - W.S Rendra

    Unsplash.com/Niki Sanders
    Unsplash.com/Niki Sanders

    Kami duduk berdua
    di bangku halaman rumahnya.

    Pohon jambu di halaman itu
    berbuah dengan lebatnya
    dan kami senang memandangnya.

    Angin yang lewat
    memainkan daun yang berguguran.

    Tiba-tiba ia bertanya:

    “Mengapa sebuah kancing bajumu
    lepas terbuka?”

    Aku hanya tertawa.

    Lalu ia sematkan dengan mesra
    sebuah peniti menutup bajuku.

    Sementara itu aku bersihkan
    guguran bunga jambu
    yang mengotori rambutnya.

  16. 16. Tapi - Sutardji Calzoum Bachri

    unsplash.com/Pierre Bamin
    unsplash.com/Pierre Bamin

    aku bawakan bunga padamu
    tapi kau bilang masih
    aku bawakan resahku padamu
    tapi kau bilang hanya
    aku bawakan darahku padamu
    tapi kau bilang cuma
    aku bawakan mimpiku padamu
    tapi kau bilang meski
    aku bawakan dukaku padamu
    tapi kau bilang tapi
    aku bawakan mayatku padamu
    tapi kau bilang hampir
    aku bawakan arwahku padamu
    tapi kau bilang kalau
    tanpa apa aku datang padamu
    wah ! 

    Dikenal dengan kredo puisinya, Sutardji Calzoum Bachri merupakan penyair kontemporer yang terkenal di Indonesia. Ia dijuluki sebagai presiden penyair Indonesia dan menjadi pelopor penyair angkatan 70-an. Pembacaan puisinya yang unik dan karyanya yang berbeda menjadi ciri khas seorang Sutardji Calzoum Bachri. 

  17. 17. Perjalanan Pulang - Joko Pinurbo

    unsplash.com/Rowan Heuvel
    unsplash.com/Rowan Heuvel

    Ah padang pasir.
    Panasmu ingin menghanguskan perkemahan.
    Kau pikir para pengungsi mau dilumat kelaparan?
    Lihatlah, sungai itu tetap saja hijau.

    Kematian dienyahkan ke bukit-bukit karang,
    kanak-kanak bermain terompet di lubang persembunyian.
    Katakan pada ibu, si buyung mau lebih lama merantau.

    Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan,
    pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan.
    Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada.
    Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. 

    Penikmat puisi tentu sudah tak asing lagi dengan nama Joko Pinurbo. Ia merupakan seorang penyair yang dikenal karya-karyanya nyeleneh dan unik. Beberapa judul karyanya adalah "Di Bawah Kibaran Sarung" dan "Srimenanti". 

  18. 18. Cinta yang Agung - Kahlil Gibran

    unsplash.com/Casey Horner
    unsplash.com/Casey Horner

    Adalah ketika kamu menitikkan air mata
    dan masih peduli terhadapnya..
    Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih
    menunggunya dengan setia..

    Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
    dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
    turut berbahagia untukmu’

    Apabila cinta tidak berhasil…bebaskan dirimu…
    Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
    dan terbang ke alam bebas lagi ..
    Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
    kehilangannya..
    tapi..ketika cinta itu mati..kamu tidak perlu mati
    bersamanya…

    Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang..
    melainkan mereka yang tetap tegar ketika
    mereka jatuh

  19. 19. Barangkali Telah Kuseka Namamu - Goenawan Mohamad

    pexels.com/văn-thắng
    pexels.com/văn-thắng

    Barangkali telah kuseka namamu
    dengan sol sepatu
    Seperti dalam perang yang lalu
    kauseka namaku

    Barangkali kau telah menyeka bukan namaku
    Barangkali aku telah menyeka bukan namamu
    Barangkali kita malah tak pernah di sini
    Hanya hutan, jauh di selatan, hujan pagi

    Goenawan Mohamad atau dikenal sebagai GM merupakan seorang wartawan sekaligus budayawan. Ia merupakan salah satu pendiri majalah Tempo yang gemar menulis puisi dan esai. Karya puisi dan esainya yang melimpah membuatnya menjadi salah satu tokoh sastra Indonesia yang berpengaruh. 

  20. 20. Tidak ada New York Hari Ini - Aan Mansyur

    unsplash.com/Redd F
    unsplash.com/Redd F

    Tidak ada New York hari ini.

    Tidak ada New York kemarin.
    Aku sendiri dan tidak berada di sini.
    Semua orang adalah orang lain.

    Kupeluk tubuh sendiri.

    Dan cinta-kau tak ingin aku
    mematikan mata lampu.
    Jendela terbuka
    dan masa lampau
    memasukiku sebagai angin.

    Meriang. Meriang. Aku meriang.

    Kau yang panas di kening.

    Kau yang dingin di kenang.

    Nah, puisi cinta yang terakhir di atas merupakan karya dari Aan Mansyur. Ia merupakan seorang penulis puisi dan cerpen yang kebanyakan bergenre romantis. Kumpulan puisi lainnya di antaranya berjudul Kukila dan Melihat Api Bekerja. 

    Itulah 20 puisi cinta romantis untuk meluluhkan pasangan karya sastrawan ternama. Ada yang paling pas menggambarkan perasaanmu saat ini, Bela?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More