Setiap hal dan keputusan punya risikonya masing-masing, ini termasuk saat kamu memilih untuk mengikuti tren solo-maxxing. Tren ini nggak cocok juga untuk semua orang, terutama buat kamu yang di lubuk hatinya sebenarnya merasa sangat kesepian, terisolasi, dan tertekan, namun tetap berusaha menampilkan sisi positif di depan publik.
Solo-maxxing berpotensi jadi alasan orang-orang yang bertipe avoidant untuk menghindar dari menghadapi pasang surut alami dalam hubungan, konflik dan rasa sakit hati, yang seharusnya dihadapi saja karena tak ada hubungan yang sempurna. Tren ini bisa menjadi masalah besar, terutama ketika hal itu lebih berfokus pada menghindari orang lain dan hubungan apa pun secara umum.
Ada batasnya kamu untuk sendirian. Terlalu tenggelam dalam diri sendiri bisa memberikan rasa aman yang palsu, di mana perspektifmu tentang diri sendiri dan segala hal lain tidak pernah dipertanyakan atau ditantang. Ini bisa memunculkan bibit narsistik dan egois, ketika semua harus sesuai dengan maumu.
Menjalin hubungan dengan orang lain, nggak selalu tentang hubungan romantis, itu juga perlu agar kamu bisa melihat sudut pandang lain tentang kehidupan yang akhirnya membantumu untuk lebih berkembang.
Jadi, jika kamu memang sengaja dan sadar memilih untuk tetap lajang, cobalah pahami dengan jelas alasannya. Apa motivasi kamu? Jika tujuannya untuk membantu dirimu tumbuh dan berkembang, itu bagus. Pastikan kamu memiliki cara lain untuk menjalin hubungan dengan orang lain selama proses tersebut. Namun, jika justru disebabkan oleh rasa takut, mungkin kamu perlu berusaha mengatasi rasa takut itu.
Tren solo-maxxing bisa menjadi hal yang bagus jika membantu semua orang lebih memikirkan dengan matang soal kencan dan hubungan. Punya hubungan yang sehat bisa membuatmu bahagia juga kok, sama seperti menjadi lajang. Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk sosial. Dan hidup bukanlah pertunjukan solo, meski nggak ada salahnya juga sesekali bersikap demikian.
Itulah fakta tentang tren solo-maxxing yang lagi ramai diperbincangkan.