- Sutradara: Eddie Cahyono
- Program: Kompetisi Utama
6 Film Indonesia di Busan International Film Festival 2026, Ada Laut Bercerita

BIFF 2026 menayangkan enam film yang melibatkan Indonesia, mencakup empat karya nasional serta dua produksi bersama internasional.
Ibuku dan Laut Bercerita masuk Kompetisi Utama, mengangkat perjuangan ibu menghadapi hukuman mati putrinya serta gerakan mahasiswa di tengah tekanan politik 1998.
Empat Musim Pertiwi, αLPα, 9 Temples to Heaven, dan Hearing hadir di program Asia, membawa cerita kepulangan, rehabilitasi moral, perjalanan spiritual, serta relasi keluarga.
Busan International Film Festival (BIFF) 2026 kali ini menjadi sorotan dengan hadirnya sejumlah film Indonesia. Tak hanya karya dari dalam negeri, Indonesia juga terlibat dalam produksi bersama sejumlah film internasional yang akan diputar di festival bergengsi Korea Selatan tersebut.
Kira-kira apa saja film Indonesia di Busan International Film Festival 2026? Yuk, simak daftar film yang mendapat kesempatan ditayangkan di BIFF 2026 berikut ini.
Table of Content
1. Ibuku (24 September 2026)
Film Indonesia di Busan International Film Festival 2026 yang pertama, yakni Ibuku. Film ini mengisahkan Sumiati (Christine Hakim), seorang ibu yang berjuang menemui putrinya, Sri (Ayushita). Sri tengah mendekam di penjara Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya dan dijatuhi hukuman mati.
Upayanya bertemu sang anak, membuat Sumiati harus kembali berhadapan dengan berbagai luka lama yang mewarnai hubungan mereka. Tak hanya menyoroti kisah emosional antara ibu dan anak, film tersebut juga mengangkat isu buruh migran, perempuan, dan hak asasi manusia.
2. Laut Bercerita (29 Oktober 2026)
- Sutradara: Yosep Anggi Noen
- Program: Kompetisi Utama
Terinspirasi dari kisah nyata tragedi penculikan aktivis di masa Orde Baru tahun 1998, Laut Bercerita membawa kisah Biru Laut, mahasiswa di Yogyakarta yang gemar membaca dan menulis. Di tengah situasi kelam saat mahasiswa bisa ditangkap hanya karena membaca buku terlarang, Laut mulai tergerak hatinya dan ikut terjun dalam gerakan mahasiswa.
Bersama teman-temannya, Laut bergabung dalam kelompok studi Winatra. Dari diskusi hingga aksi, mereka berusaha menyuarakan kebebasan berekspresi di tengah situasi yang penuh tekanan politik.
3. Empat Musim Pertiwi (8 Oktober 2026)
- Sutradara: Kamila Andini
- Program: A Window on Asian Cinema
Four Seasons in Java (Empat Musim Pertiwi) menceritakan Pertiwi (Putri Marino) yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun pergi untuk menata kembali hidupnya. Namun, desa yang dulu dipenuhi harapan akan perubahan karena masuknya listrik, kini justru terasa makin kelam.
Kepulangannya membawa Pertiwi berhadapan dengan berbagai persoalan. Mulai dari sahabatnya menikah dengan mantan kekasihnya, orang tuanya bersikap memusuhi kepulangannya, hingga sosok keibuan yang dulu menjadi tempatnya berlindung telah terusir. Parahnya lagi, orang-orang yang pernah membuat Pertiwi dipenjara, kini justru menjadi pihak yang berkuasa.
4. αLPα
- Sutradara: Dhiwangkara Seta
- Program: Wide Angle - Asian Short Film Competition
Setelah ditangkap, Banyu (Elang El Gibran), seorang vokalis punk, dikirim ke pusat rehabilitasi moral. Dari situ, ia bertemu Deri (Whani Darmawan), hantu dari masa lalunya sekaligus ulama terhormat di kota tersebut.
Banyu pun berusaha melawan sistem yang mengurungnya, hanya untuk menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk bebas ada pada orang terakhir yang ingin ia temui.
5. 9 Temples to Heaven
Selain empat film sebelumnya, Indonesia juga turut terlibat dalam dua film internasional yang ditayangkan melalui program A Window on Asian Cinema. Salah satunya adalah 9 Temples to Heaven garapan sutradara Sompot Chidgasornpongse.
Film ini merupakan hasil produksi bersama Thailand, Singapura, Prancis, Norwegia, China, Hong Kong, Indonesia, dan Qatar. 9 Temples to Heaven menceritakan perjalanan Sakol (Surachai Ningsanond) ke sembilan kuil setelah seorang peramal memperingatkan tentang kematian ibunya (Amara Ramnarong) yang akan segera terjadi.
6. Hearing
Sama seperti 9 Temples to Heaven, Hearing juga termasuk film yang melibatkan produksi bersama dari Singapura, Vietnam, Norwegia, Prancis, Indonesia, Arab Saudi, Kamboja, Thailand, dan Taiwan. Film ini menceritakan Ninh yang tinggal bersama ibunya dan masih merindukan mantan istrinya, Ngoc, serta anak-anak mereka.
Sebagai mekanik yang memasang alat pengukur kebisingan di ruang publik dan rumah, ia menyaksikan bagaimana keheningan bisa memengaruhi sebuah hubungan. Di sisi lain, Ninh berharap kedua orang tuanya yang telah lama berpisah bisa kembali berdamai. Rasa takut kehilangan orang-orang yang dicintainya membuat Ninh harus menghadapi ritme kehidupan yang tak terduga.
Itu dia beberapa film Indonesia di Busan International Film Festival 2026. Mana nih film yang sudah kamu tunggu tayang perdananya di bioskop?



















