Ada satu unspoken season yang disetujui hampir semua orang: saat memasuki bulan Oktober, spooky season resmi dimulai. Di belahan dunia lain, warna oranye musim gugur mulai menghiasi sudut kota. Sementara di Indonesia, Oktober kerap menyapa lewat aroma tanah basah dan rintik hujan yang membawa nuansa syahdu sekaligus misterius yang diam-diam kita nikmati.
Dari Penakut Jadi 'Scream Queen': Kisah Refleksi Karier dan Keberanian Taskya Namya

Taskya Namya mengenang transisinya dari genre drama ke horor, meski sejak awal mengaku penakut dan sempat merasa insecure saat harus berteriak.
Film horor Memburu Pemangsa menjadi proyek penting bagi Taskya karena mengangkat isu pelecehan dan kekerasan seksual pada anak-anak.
Perjalanan di genre horor membantu Taskya keluar dari zona nyaman dan menemukan kebebasan untuk berakting tanpa takut terlihat jelek atau aneh.
Suasana inilah yang membingkai kehadiran Taskya Namya sebagai POPCreator POPBELA bulan ini. Lebih dari selusin judul film horor telah ia jelajahi, membuktikan eksistensinya yang begitu kuat di industri perfilman Tanah Air. Dalam interview eksklusif bersama POPBELA, Taskya secara jujur membagikan refleksi perjalanan kariernya, tentang ketakutan, dinamika peran, dan alasan di balik rasa cintanya pada genre horor yang kini menempati porsi besar dalam hidupnya.
Dari Penakut Hingga Harus Menaklukkan Rasa Insecure

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Jessica Hart by ESMOD Jakarta
Kalau mengintip kembali filmografi Taskya di awal kariernya, namanya lebih banyak menghiasi judul genre drama. Transisi menuju genre horor tentu bukan keputusan yang instan, apalagi jika mengingat fakta unik bahwa Taskya sebenarnya adalah sosok yang sangat penakut.
Taskya bahkan mengenang momen manis sekaligus lucu saat awal kariernya. Karena begitu mengagumi aktris Shareefa Daanish di film Di Sini Ada Setan, ia sempat mengutarakan impian uniknya untuk berperan sebagai hantu saat mereka dipertemukan dalam satu proyek serial drama. Keinginan itu baru terwujud bertahun-tahun kemudian ketika ia dipercaya memerankan karakter White Lady di film Pamali. Meski di dua proyek horor pertamanya pada 2018 ia belum menjadi hantu dan justru beradegan dikejar-kejar, tantangan terbesar baginya selalu bermuara pada rasa insecure.
"Sebenarnya memang di 2018 aku sempat membintangi dua film pertama aku di horor, cuma saat itu belum jadi hantu, aku malah yang dikejar-kejar hantu. Memang pas menjalani film horor tuh banyak takutnya sih sebenarnya, karena salah satunya aku memang penakut. Kedua juga, aku tuh paling insecure kalau disuruh teriak, sementara film horor itu kalau kita yang dikejar-kejar hantu biasanya kita yang teriak-teriak. Nggak tahu deh kenapa tiba-tiba jadi main film horor terus," kata Taskya.
Namun di balik rasa canggung itu, proses menaklukkan rasa insecure menjadi awal transisi penting dalam kariernya. Dari yang semula ragu dengan suara teriakannya sendiri, Taskya perlahan belajar menikmati dinamika tersebut dan membuka pintu lebar-lebar menuju berbagai peran ikonik di sinema horor Tanah Air.

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Jessica Hart by ESMOD Jakarta
Saat "Napas" Berakting Diuji Habis-habisan

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Eri
Berada di lokasi syuting film horor jelas menawarkan intensitas yang sangat berbeda dibanding genre drama biasa. Jika di film drama konflik emosi disalurkan lewat dialog dan gestur yang cenderung tenang, horor menuntut ketahanan fisik serta emosional yang tinggi secara bersamaan.
Bagi Taskya, setiap genre film memiliki napas dan energinya masing-masing. Namun jika harus membandingkan, ia merasa tingkat kelelahan berakting di film horor paling mirip dengan film action. Bedanya, jika action bertumpu pada koreografi fisik, film horor menguji stamina lewat adegan kejar-kejaran, napas terengah-engah yang konstan, serta menjaga konsistensi rasa takut dari satu take ke take berikutnya.
"Kalau dibilang energinya double, semua genre film itu menurutku punya energinya masing-masing. Cuma kalau ditanya apa sih yang paling mendekati sama horor, setelah aku menjalani film action, film action mirip banget energinya sama film horor. Bedanya kalau film horor itu banyak sesak napasnya, terus banyak rasa takutnya, tapi kalau misalkan film action kan lebih ke koreografi," lanjut Taskya.
Meski begitu, pengalaman menguras emosi ini justru jadi ruang bermain dan pendewasaan buat Taskya. Dari sini, ia belajar menikmati setiap detik proses syuting yang intens demi memberikan hasil visual yang paling hidup dan jujur untuk penonton.

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Eri | Jessica Hart by ESMOD Jakarta
'Memburu Pemangsa': Menyuarakan Isu Sensitif di Balik Teror Predator

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Nila Baharuddin
Bicara soal proyek terbarunya, film Memburu Pemangsa hadir memberikan warna teror yang berbeda. Judul ini tak sekadar menyajikan ketakutan fisik dari sosok monster atau fenomena mistis, melainkan mengangkat teror nyata dari sosok predator manusia. Bagi Taskya, keberanian film ini mengusung genre horor-investigasi sekaligus menyuarakan isu sensitif terkait pelecehan dan kekerasan seksual pada anak-anak menjadi alasan utama mengapa proyek ini sangat menyentuh naluri personalnya sebagai seorang auntie bagi keponakan-keponakannya.
Ketegangan di film ini bahkan sudah terasa sejak pertama kali Taskya melakukan reading naskah. Memainkan karakter bernama Brina yang harus mengalami siksaan fisik dan emosional berat sempat memicu gejolak batinnya. Namun, empati dan komitmen untuk membela para korban membuatnya pantang menyerah dalam menghidupkan adegan-adegan intens tersebut. Keharuan itu bahkan membekas kuat hingga masa promosi dan gala premiere, di mana ia tak kuasa menahan air mata karena begitu dalamnya pesan kemanusiaan yang diusung.
"Dari film Memburu Pemangsa, pesan yang mau dikasih kepada penonton bahwa ternyata ada iblis yang 'sungkem' sama manusia. Iblis aja sudah menakutkan, ini manusia yang berhati iblis. ‘Memburu Pemangsa’ mempunyai isu penting yang menurutku jarang banget diangkat, yaitu isu tentang pelecehan seksual kepada anak. Itu yang membuat aku sangat tertarik... Aku merasa aku bisa menyuarakan diri aku sebagai seorang onti kepada ketiga keponakanku dan keponakan-keponakanku yang lainnya. Pas baca skripnya aku sesak... Tapi aku menemukan jawabannya dari sisi Taskya dan Brina, yaitu bahwa kami berdua tidak akan menyerah sampai kapan pun untuk membela anak-anak," ungkap Taskya.
Melalui peran ini, Taskya tidak hanya berakting untuk menakuti, tetapi juga menggunakan ruang seninya untuk menyuarakan kepedulian terhadap isu yang sering kali terabaikan. Sebuah pembuktian bahwa genre horor dan thriller bisa menjadi wadah yang sangat kuat untuk menyampaikan pesan kemanusiaan.
Membaca Kompas Horor: Antara Mitos Lokal, Referensi Hollywood, dan Ruang Rekreasi

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Nila Baharuddin
Shoes: Jessica Hart by ESMOD JakartaPerkembangan industri horor Tanah Air yang kian pesat membawa warna tersendiri bagi para pelakunya. Jika sinema Hollywood kaya akan subgenre seperti slasher, psychological horror (seperti film favoritnya Smile, Evil Dead Rise, hingga Hereditary), horor Indonesia punya magis tersendiri yang berakar pada tradisi, mitos, dan kultur lokal. Taskya mengaku sangat mengagumi karya horor klasik Indonesia seperti Kuntilanak versi Julia Estelle hingga Rumah Dara (Bunian) karya Kimo Stamboel.
Ia pun mengapresiasi keberanian para kreator horor lokal saat ini yang makin eksploratif dan tak lagi melulu bergantung pada formula mistis atau ritual seram yang seragam. Kendati begitu, walau sering bersinggungan dengan dunia mistis di lokasi syuting dan selalu membiasakan diri berdoa serta "meminta izin" secara spiritual sebelum memerankan sebuah karakter, Taskya menekankan pentingnya menjaga batasan agar tidak terlalu larut dalam rasa takut yang berlebihan.
"Jujur kalau aku malah makin ke sini makin happy ngelihat film horor (Indonesia) banyak yang beragam. Aku percaya banget bahwa ada dunia lain selain dunia yang kita pijak, cuma saling menghormati aja. Cuma yang menurutku, nonton film horor atau main ke tempat wahana horor itu jadikanlah sebagai rekreasi, tapi jangan pernah untuk terlalu mendalami itu sampai jadinya melenceng," katanya.
Pendekatan ini membuat Taskya tetap berpijak bumi, menikmati setiap dinamika peran supernatural tanpa harus terbawa suasana misterius di luar panggung aktingnya.
Pendewasaan Karier Lewat Teror: Saat Keberanian Tak Lagi Soal Tampil Sempurna

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Rama Dauhan, Eri
Refleksi perjalanan karier Taskya Namya di genre horor pada akhirnya bermuara pada sebuah proses pendewasaan yang utuh. Menembus batas ketakutan bukan sekadar tentang seberapa kuat ia menahan rasa takut di lokasi syuting, melainkan tentang keberanian melepaskan ego sebagai seorang figur publik.
Genre horor telah membukakan pintu bagi Taskya untuk mengeksplorasi sisi-sisi emosi tergelap dan paling jujur dalam dirinya. Dari aktris yang semula merasa ragu dengan ekspresi dan suaranya saat berteriak, kini ia menemukan kemerdekaan penuh dalam berakting, tanpa lagi dibayangi rasa takut untuk terlihat jelek di layar bioskop.
"Menurut aku, (horor itu) keluar dari zona nyaman sih. Karena seorang Taskya itu banyak takutnya, takut teriak, takut tidak bisa memberikan yang terbaik, takut banyak hal. Tapi di film horor akhirnya aku mengeluarkan sisiku yang lain, menemukan sisiku juga yang lain, dan bisa akhirnya menjadi Taskya yang sepenuhnya di mana tidak takut kelihatan jelek dan tidak takut kelihatan aneh," pungkasnya.
Pada akhirnya, keberanian Taskya untuk keluar dari zona nyaman membuktikan bahwa rasa takut bukanlah penghalang. Justru dari balik teror dan ketakutan itulah, seorang Taskya Namya berhasil menemukan versi terbaik dari dirinya di panggung sinema Indonesia.
Perjalanan Taskya Namya membuktikan bahwa melangkah keluar dari zona nyaman sering kali membawa kita pada potensi terbaik yang tak pernah kita duga sebelumnya. Dari seorang penakut yang insecure dengan suaranya saat berteriak, kini ia berdiri tangguh sebagai salah satu aktris yang diperhitungkan di kancah film horor Indonesia. Spooky season kali ini bukan cuma tentang merayakan rasa takut, tapi juga merayakan keberanian seorang Taskya Namya untuk terus tumbuh, bersuara lewat peran, dan melampaui batas dirinya sendiri.

POPBELA.com/Andre Wiredja Wardrobe: Rama Dauhan
Shoes: Jessica Hart by ESMOD JakartaCredit:
Photographer: Andre Wiredja
Fashion & Beauty Editor: Michael Richards
Stylist: TBM Yudi
Makeup: Ranggi Achmad
Hair: Kai
Interview by: Niken Ari
POPBELA.com crew: Natasha Cecilia, Windari Subangkit






















