15 Wartawan Legendaris Indonesia, Sosok Pahlawan Pers yang Inspiratif!

- Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Indonesia, pelopor jurnalistik modern di Tanah Air.
- Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa dan aktif menulis kritis terhadap kolonialisme Belanda.
- Ernest Douwes Dekker, kritis terhadap kolonialisme Belanda dan pendukung kemerdekaan Indonesia.
Setiap tanggal 9 Februari, Indonesia memperingati Hari Pers Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap peran media dan wartawan dalam membangun informasi, membentuk opini publik, dan memperjuangkan kebenaran. Sejarah pers Indonesia dipenuhi oleh tokoh-tokoh legendaris yang bukan hanya menulis berita, tetapi juga berjuang untuk kemerdekaan, keadilan sosial, dan pendidikan masyarakat. Dari Tirto Adhi Soerjo hingga Ani Idrus, para wartawan ini menjadi pilar penting yang mewarnai dunia jurnalistik Indonesia dan terus menginspirasi generasi penerus untuk menegakkan integritas dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran.
Berikut 15 wartawan legendaris Indonesia, pahlawan pers yang inspiratif!
1. Tirto Adhi Soerjo

Tirto Adhi Soerjo yang lahir dengan nama Raden Mas Djokomono dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia dan pelopor jurnalistik modern di Tanah Air. Awalnya ia menempuh pendidikan kedokteran. Namun di tengah jalan, Tirto memilih berhenti dan banting setir untuk menekuni dunia pers dengan menulis untuk surat kabar Hindia Olanda. Pada 1902, ia menjadi editor di Pembrita Betawi dan menciptakan kolom kritis bernama Dreyfusia, yang berisi sindiran tajam terhadap kebijakan kolonial Belanda.
Seathun kemudian Tirto mendirikan surat kabar Soenda Berita sebagai sarana untuk menyuarakan perlawanan melalui tulisan. Sikap kritisnya terhadap kolonialisme membuatnya sempat dibuang ke Pulau Bacan pada 1904. Setelah kembali, ia kembali mendirikan Medan Prijaji di Bandung yang menjadi surat kabar pribumi pertama yang berbahasa Melayu dan dikerjakan seluruhnya oleh kaum pribumi. Media ini berperan sebagai 'suara rakyat kecil' untuk penyampaikan penentangan terhadap penindasan dan ketidakadilan kolonial. Pada 1910, Medan Prijaji pindah ke Batavia dan terbit harian, namun karena kritiknya yang tajam terhadap pejabat kolonial, media ini dibredel pada 1912, dan Tirto kembali dibuang. Tirto Adhi Soerjo wafat pada 1918 di Batavia, namun jejaknya dalam membangun pers nasional dan menyalakan semangat kemerdakaan tetap dikenang sebagai fondasi penting bagi perkembangan jurnalistik modern Indonesia.
2. Ki Hajar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara memang terkenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional melalui pendirian Taman Siswa. Namun sebelum itu, beliau juga aktif di dunia pers. Ki Hajar Dewantara dikenal karena tulisan-tulisannya yang kritis terhadap kolonialisme Belanda dan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Bersama Ernest Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan surat kabar De Express pada 1912, yang menjadi salah satu media perlawanan penting di masa itu. Salah satu tulisannya yang paling terkenal adalah Seandainya Aku Seorang Belanda (Als ik een Nederlaner was), yang mengecam rencana Belanda merayakan kemerdekaan dari Prancis dengan membebani rakyat pribumi.
Karena aktivitas jurnalistik yang berani ini, kelompok yang dikenal sebagai Tiga Serangkai itu diasingkan Belanda. Setelah kembali ke Indonesia, Ki Hajar Dewantara memfokuskan diri pada bidang pendidikan, mendirikan Taman Siswa sebagai lembaga yang memperjuangkan hak pendidikan rakyat dan memperkuat identitas nasional. Kiprahnya di dunia pers dan pendidikan menjadikannya tokoh sentral dalam sejarah nasional. Ki Hajar Dewantara wafat pada 1959, namun kontribusinya dalam membangun kesadaran kebangsaan melalui tulisan dan pendidikan tetap menjadi teladan hingga kini.
3. Ernest Douwes Dekker

Ernest François Eugène Douwes Dekker adalah salah satu tokoh pergerakan dan jurnalis Indonesia yang sangat berpengaruh. Setelah kembali dari Perang Boer Kedua (1899–1902), ia menekuni dunia jurnalistik dengan bekerja di surat kabar De Locomotief dan kemudian di Bataviaasch Nieuwsblad. Ernest, yang merupakan kerabat dari penulis terkenal Eduard Douwes Dekker (Multatuli), sangat kritis terhadap kolonialisme Belanda dan menggunakan tulisan sebagai alat perjuangan kemerdekaan. Ia menulis artikel-artikel tajam seperti Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie (“Kebangkrutan Prinsip Etis di Hindia Belanda”) dan Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen? (“Bagaimana Cara Belanda Segera Kehilangan Koloni-koloninya”), yang mengecam kebijakan kolonial dan menyoroti kesalahan kaum pribumi yang mendukung Belanda.
Karena keberaniannya, ia sering menghadapi pengadilan, keluar-masuk penjara, dan diawasi oleh pemerintah kolonial. Selama Perang Dunia II, Ernest dibuang ke Suriname pada 1941 karena memiliki darah Jerman. Setelah kembali ke Indonesia pada 1947, ia mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi dan menyaksikan pengakuan kedaulatan Indonesia secara resmi pada 1949. Ernest wafat pada 1950, meninggalkan warisan sebagai jurnalis dan aktivis yang gigih memperjuangkan kemerdekaan melalui pena dan media, sekaligus sebagai salah satu pendiri Indische Partij yang menekankan kemerdekaan dan kesetaraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
4. Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes dikenal sebagai wartawati perempuan pertama di Indonesia dan tokoh penting dalam perjuangan emansipasi perempuan. Meski tidak menempuh pendidikan formal, perempuan kelahiran 20 Desember 1884, di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat ini memiliki ketertarikan besar pada dunia tulis-menulis dan belajar secara mandiri dari buku-buku ayahnya, hingga mampu menguasai membaca, menulis, dan beberapa bahasa asing. Karier jurnalistiknya dimulai pada 1908 ketika menulis untuk Poetri Hindia, surat kabar perempuan yang didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo.
Saat Poetri Hindia ditutup oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1911, Roehana tidak menyerah. Pada 1912, ia mengirim surat kepada Soetan Maharadja, editor Oetoesan Melajoe, untuk mendirikan surat kabar khusus perempuan. Dari inisiatif ini lahirlah Soenting Melajoe, surat kabar yang mendidik dan memberdayakan perempuan Indonesia, dengan Roehana sebagai pemimpin redaksinya. Pada 1913, Roehana sempat ke Belanda untuk studi, namun tetap aktif menyunting Soenting Melajoe hingga 1921. Selain kiprahnya di pers, Ia juga mendirikan sekolah kerajinan Amai Setia untuk anak perempuan pribumi, memperluas perannya dalam pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Roehana Koeddoes wafat pada 17 Agustus 1972, tepat 27 tahun setelah kemerdekaan Indonesia, dan pada 2019 ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas dedikasinya dalam dunia pers dan perjuangan perempuan.
5. Abdul Moeis

Abdul Moeis asal Sumatra Barat adalah salah satu tokoh jurnalis dan sastrawan terkemuka Indonesia yang juga menjadi pelopor pers modern. Seperti Tirto Adhi Soerjo, Abdul menempuh pendidikan di STOVIA, namun harus berhenti karena sakit. Berasal dari keluarga patriotik, ia dibesarkan dengan nilai-nilai cinta tanah air dan semangat memperjuangkan kemerdekaan. Meskipun tak melanjutkan jalur medis, Abdul justru jatuh cinta pada dunia jurnalistik.
Pada 1912, ia menjadi salah satu pendiri harian Kaoem Moeda, yang digunakan sebagai media untuk mengkritik kezaliman pemerintahan Belanda dan menyuarakan aspirasi rakyat pribumi. Aktivitas jurnalistiknya yang vokal bahkan membuatnya sempat diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Selain menulis di pers, Abdul Moeis juga berkiprah di bidang sastra. Novelnya yang bertajuk Salah Asuhan (1928) menggambarkan dilema rakyat pribumi antara mempertahankan nilai-nilai tradisional Tanah Air atau tunduk pada kehendak kolonial.
Abdul Moeis meninggal di Bandung pada 1959, dan dua bulan kemudian Presiden Soekarno menganugerahi gelar Pahlawan Nasional, menjadikannya tokoh sejarah Indonesia pertama yang menerima kehormatan tersebut. Kontribusinya melalui jurnalistik dan sastra menegaskan pentingnya pers sebagai sarana perjuangan intelektual, sosial, dan politik bagi kemerdekaan Indonesia.
6. Tan Malaka

Tan Malaka lahir dengan nama Ibrahim Simabua Datuak Sutan Malaka. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pers dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bekerja sebagai guru, Tan Malaka mulai menulis propaganda sosial untuk para kuli perkebunan teh di Sumatra Timur, yang diterbitkan dalam media berjudul Deli Spoor. Sebagai jurnalis, ia aktif mengekspos kesenjangan sosial antara kaum kapitalis dan pekerja, serta penderitaan rakyat kecil, melalui tulisan-tulisannya di surat kabar seperti Sumatera Post.
Karya-karya jurnalistiknya sering menyuarakan kritik terhadap sistem kolonial dan ketidakadilan ekonomi, menjadikannya figur yang vokal dalam memperjuangkan hak-hak pribumi. Selain tulisan di pers, pria kelahiran 2 Juni 1897 ini juga menghasilkan karya penting seperti Tanah Orang Miskin, yang dimuat dalam Het Vrije Woord pada 1920, serta buku Naar de Republiek Indonesien (Menuju Republik Indonesia) pada 1924, yang kemudian menjadi salah satu fondasi ideologis terbentuknya Republik Indonesia. Karena pemikiran dan perjuangannya, Tan Malaka dijuluki sebagai “Bapak Republik Indonesia”. Ia wafat pada 1949 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1963, meninggalkan warisan jurnalistik dan intelektual yang sangat berpengaruh dalam sejarah bangsa.
7. Mohammad Hatta

Selain dikenal sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia dan Proklamator Kemerdekaan, Mohammad Hatta juga aktif di bidang jurnalistik. Pada awal 1930-an saat menempuh pendidikan di Belanda, Hatta menulis berbagai artikel tentang politik dan ekonomi untuk harian Daulat Ra’jat (1931–1934), yang bertujuan memberikan analisis kritis dan edukasi bagi pembaca, tanpa memihak kekuatan Barat maupun Jepang. Aktivitas jurnalistiknya tidak berhenti meski ia dipindahkan dari pengasingan di Boven Digoel pada 1934 ke Banda Neira, Papua, pada 1937. Di sana, selain mengurus pertanian, Hatta tetap menulis untuk beberapa surat kabar, termasuk Sin Tit Po (新直報), Nationale Commantaren, dan Pemandangan.
Melalui tulisan-tulisannya, Hatta berperan dalam membangun kesadaran rakyat tentang dinamika politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia dan dunia pada masa itu, menunjukkan bahwa pers bisa menjadi alat edukasi dan intelektual, bukan sekadar propaganda. Mohammad Hatta wafat pada 1980, dan pada 1986 dianugerahi gelar Pahlawan Proklamator, bersama Presiden Soekarno, oleh Presiden Soeharto, sebagai pengakuan atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
8. Djamaluddin Adinegoro

Djamaluddin Adinegoro awalnya menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA. Namun, kecintaannya pada dunia tulis-menulis membawanya beralih ke jurnalistik. Karena aturan STOVIA melarang mahasiswa menulis, ia menggunakan inisial “DJ” dan kemudian pseudonim “Adinegoro” untuk menarik minat pembaca dari kalangan Jawa. Adinegoro memutuskan berhenti dari STOVIA dan pergi ke Eropa untuk memperdalam ilmu jurnalistik. Selama di sana, ia tetap produktif menulis, menghasilkan artikel-artikel untuk surat kabar seperti Pewarta Deli dan Bintang Timoer, yang kemudian dikompilasi menjadi buku Melawat ke Barat yang diterbitkan Panji Pustaka pada 1930.
Setelah kembali ke Indonesia pada 1931, Adinegoro sempat bekerja di Balai Pustaka sebelum pindah ke Medan, Sumatra Utara, untuk memimpin redaksi Pewarta Deli. Di bawah kepemimpinannya, surat kabar ini berkembang pesat dan menjadi media yang berpengaruh hingga masa pendudukan Jepang pada 1942. Pada 1948, ia ikut mendirikan majalah mingguan Mimbar Indonesia, yang dikenal luas, terutama ketika memberitakan Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949 saat Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya, pada 1951, Adinegoro mengepalai Yayasan Pers Biro Indonesia (PIA) dan hingga akhir hayatnya pada 1967 mengabdi di LKBN Antara. Dedikasinya untuk kemajuan jurnalistik Indonesia diabadikan melalui Anugerah Adinegoro, yang sejak 1974 menjadi penghargaan tertinggi bagi wartawan di Indonesia.
9. S.K Trimurti

Surastri Karma Trimurti, yang lebih dikenal sebagai S.K. Trimurti, adalah salah satu wartawati dan aktivis pergerakan nasional yang berani dan cerdik. Awalnya berprofesi sebagai guru, Trimurti tertarik pada dunia jurnalistik setelah pengalamannya dipenjara di Blitar hingga 1943 karena dianggap menyebarkan propaganda. Minatnya semakin berkembang setelah sering mendengar pidato Soekarno, yang menginspirasinya untuk menulis di berbagai media seperti Suluh Indonesia dan Berdjoang. Dikenal sebagai jurnalis yang kritis terhadap imperialisme dan penindasan, Trimurti sering menggunakan variasi nama “Trimurti” atau “Karma” agar tetap aman dari pengawasan kolonial.
Sejak 1935, ia aktif menerbitkan dan mengelola berbagai majalah serta surat kabar, termasuk Bedug, Terompet, Suara Marhaeni, dan Pesat. Bersama suaminya, Sayuti Melik, Trimurti mendirikan majalah mingguan Pesat pada 1938, yang kemudian ditutup pada masa penjajahan Jepang, di mana Trimurti mengalami tekanan dari otoritas Jepang. Setelah Indonesia merdeka, ia tetap berkiprah dalam pemerintahan sebagai Menteri Tenaga Kerja pertama pada 1947–1948, dan menolak jabatan Menteri Sosial pada 1959 untuk fokus melanjutkan studinya. Trimurti meninggal dunia pada 2008 di Jakarta, dan warisannya di bidang jurnalistik perjuangan diabadikan melalui S.K. Trimurti Awards, yang diberikan sejak 2008 kepada jurnalis dan aktivis perempuan yang menonjol. Sosoknya tetap menjadi simbol keberanian dan integritas dalam jurnalisme Indonesia.
10. Mochtar Lubis

Mochtar Lubis adalah salah satu jurnalis dan sastrawan paling berpengaruh di Indonesia, yang kiprahnya dimulai sejak masa pendudukan Jepang. Ia memainkan peran penting dalam dunia pers nasional, antara lain dengan mendirikan harian Indonesia Raya dan aktif di Kantor Berita Antara. Sebagai jurnalis kritis, tulisan-tulisannya sering menentang ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga Indonesia Raya sempat dibredel oleh pemerintah. Selain itu, pria kelahiran 7 Maret 1922 tersebut juga mendirikan majalah sastra Horizon, yang menjadi wadah bagi karya-karya intelektual dan sastra Indonesia pada masa itu.
Pada masa pemerintahan Soekarno, Mochtar Lubis dipenjara hampir sembilan tahun karena tulisan-tulisannya yang vokal dan kritis terhadap pemerintah. Pengalaman tersebut ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980), yang menjadi dokumen penting sejarah pers Indonesia. Selain sebagai wartawan, Lubis dikenal pula sebagai novelis berbakat dengan karya-karya terkenal seperti Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, dan Jalan Tak Ada Ujung, yang menggabungkan kritik sosial dengan kekayaan naratif. Dedikasinya dalam pers dan sastra menegaskan perannya sebagai salah satu pilar jurnalistik dan intelektual modern Indonesia.
11. B.M Diah
Burhanuddin Mohammad Diah atau yang lebih dikenal sebagai BM Diah, adalah salah satu tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat, dan pengusaha nasional. Ia memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, termasuk berjasa menyelamatkan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan yang sempat dibuang setelah diketik oleh Sayuti Melik. Sejak usia 17 tahun, BM Diah merantau ke Jakarta untuk menekuni dunia jurnalistik di Ksaatriaan Instituut, dan memulai kariernya sebagai redaktur di Harian Sinar Deli serta sejumlah media lain.
Pada masa pendudukan Jepang, ia bekerja sebagai penyiar bahasa Inggris di Radio Hosokyoku dan Asia Raja, tetap produktif dalam menyebarkan informasi walau dalam situasi yang penuh tekanan. Setelah Indonesia merdeka, BM Diah mengambil alih percetakan Djawa Shimbun milik Jepang dan pada 1 Oktober 1945 mendirikan Harian Merdeka, yang dipimpinnya hingga akhir hayatnya. Selain itu, ia juga menerbitkan Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris yang memperluas jangkauan informasi Indonesia ke dunia internasional. Melalui dedikasi panjangnya dalam jurnalistik, BM Diah menjadi figur penting yang menghubungkan perjuangan kemerdekaan, pembangunan bangsa, dan perkembangan pers modern di Indonesia.
12. Abdurrahman Baswedan

H. Abdurrahman Baswedan dikenal luas sebagai diplomat ulung yang berhasil memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Mesir. Namun, perannya sebagai jurnalis juga sangat menonjol. Fasih dalam empat bahasa, Baswedan termasuk 111 perintis pers nasional, yang tanpa pamrih mengabdikan diri untuk kemerdekaan dan pers Indonesia. Karier jurnalistiknya dimulai di Sin Tit Po pada 1932 dengan upah 75 gulden, namun ia rela berpindah ke Soeara Oemoem milik Dr. Soetomo dengan hanya 15 gulden, dan kemudian ke Matahari pada 1934 dengan upah 120 gulden, demi mengutamakan tujuan perjuangan nasional di atas materi.
Sebagai keturunan Arab-Indonesia, Baswedan memanfaatkan tulisan dan suaranya untuk menyatukan komunitas Arab dalam mendukung kemerdekaan. Salah satu kiprah pentingnya adalah memimpin Sumpah Pemuda Keturunan Arab di Semarang pada 1934, yang menegaskan solidaritas dan semangat nasionalisme. H. Abdurrahman Baswedan wafat pada 1986, dan baru pada 2018 ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo sebagai penghargaan atas dedikasi dan jasanya dalam pers, diplomasi, dan perjuangan kemerdekaan.
13. Herawati Diah

Siti Latifah Herawati Latip, yang lebih dikenal sebagai Herawati Diah, adalah tokoh jurnalis perempuan modern Indonesia yang mengawali kariernya sejak masih menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Sambil belajar, ia menulis untuk majalah Doenia Kita, yang didirikan oleh ibunya, menunjukkan bakat jurnalistiknya sejak muda. Setelah kembali ke Indonesia pada 1942, Herawati bekerja sebagai wartawan lepas di United Press International (UPI) dan menjadi penyiar di Radio Hosokyoku. Pada tahun yang sama, ia menikah dengan Burhanuddin Mohammad Diah, yang saat itu menjadi asisten editor di Asia Raja.
Bersama suaminya, Herawati mengembangkan harian Merdeka pada 1945 dan kemudian mendirikan The Indonesian Observer pada 1955, yang menjadi surat kabar berbahasa Inggris pertama di Indonesia dan debutnya bertepatan dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Di samping kiprah jurnalistik, Herawati aktif memperjuangkan hak-hak perempuan dan ikut mendirikan Komnas Perempuan. Ia juga memimpin majalah Merdeka Mingguan dan Keluarga, memperkuat pengaruhnya sebagai perempuan di dunia pers. Herawati Diah wafat pada 2016 pada usia 99 tahun, meninggalkan warisan besar sebagai pionir pers dan advokat hak perempuan di Indonesia.
14. Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka)

Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, adalah sosok serba bisa. Ia merupakan novelis ternama, pemuka Muhammadiyah, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), sekaligus jurnalis. Karya-karya novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1938) dan Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938) menjadikannya ikon sastra Indonesia, namun kiprah jurnalistiknya juga patut diacungi jempol. Setelah menunaikan ibadah haji pada 1927, Hamka pulang ke Medan dan mulai menulis pengalamannya di surat kabar Pelita Andalas. Selain itu, ia aktif menulis artikel keagamaan dan sosial di berbagai media, termasuk Seruan Islam, Suara Muhammadiyah, dan Bintang Islam, sambil tetap mengabdi sebagai guru.
Buya Hamka dikenal memadukan keilmuan agama dengan kepedulian sosial, menggunakan tulisan sebagai sarana pendidikan dan pembinaan masyarakat. Dedikasinya pada pers dan pendidikan Islam berlangsung sepanjang hidup, hingga beliau melepaskan jabatan sebagai Ketua MUI pada Mei 1981 dan meninggal dua bulan kemudian. Sekitar tiga dekade kemudian, pada 2011, Buya Hamka resmi dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional, menegaskan perannya sebagai figur penting dalam dunia jurnalistik, pendidikan, dan sastra Indonesia.
15. Ani Idrus

Ani Idrus adalah wartawati senior legendaris kelahiran Sawahlunto, Sumatra Barat. Ia bersama suaminya, H. Mohammad Said mendirikan Harian Waspada pada tahun 1947 dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan pers modern di Tanah Air. Karier jurnalistiknya dimulai sejak 1930 di Majalah Panji Pustaka. Sejak saat itu, ia aktif menulis, menerbitkan majalah dan memimpin beberapa media. Ani terakhir menjabat sebagai Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Harian Waspada serta Majalah Dunia Wanita di Medan, yang memperkuat pengaruhnya dalam dunia pers pasca kemerdekaan.
Selain kiprah jurnalistik, Ani juga berperan besar dalam pendirian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan aktif dalam pendidikan melalui Yayasan Pendidikan Ani Idrus. Ia bahkan menjabat Ketua Umum Sekolah Sepak Bola Waspada, Direktur PT Prakarsa Abadi Press, dan Ketua Yayasan Asma Cabang Sumatera Utara, menunjukkan dedikasi yang luas untuk masyarakat dan pendidikan. Ani Idrus tetap aktif hingga usia lanjut dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Satya Penegak Pers Pancasila pada 1988. Ia wafat dan dimakamkan di Pemakaman Umum Jalan Thamrin, Medan, meninggalkan warisan besar sebagai pionir jurnalisme perempuan dan tokoh pers Indonesia.
Itu dia 15 wartawan legendaris Indonesia, sosok pahlawan pers yang inspiratif. Tanpa jasa mereka dunia pers Indonesia tak akan sekuat sekarang, Selamat Hari Pers Nasional, Bela!

















