Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Sejarah dan Makna Jumat Agung, Peringatan Hari Kematian Yesus Kristus

Sejarah dan Makna Jumat Agung, Peringatan Hari Kematian Yesus Kristus
ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Josh Applegate)
Intinya Sih
  • Jumat Agung diperingati umat Kristiani setiap tahun untuk mengenang wafat Yesus Kristus di kayu salib sebagai bentuk pengorbanan demi penebusan dosa manusia.

  • Peristiwa Jumat Agung berakar dari kisah penyaliban Yesus di Bukit Golgota pada abad pertama, yang kemudian menjadi tradisi penting dalam kalender liturgi gereja.

  • Peringatan ini dimaknai sebagai momen refleksi spiritual tentang kasih, pengampunan, dan kerendahan hati melalui ibadah hening, puasa, serta prosesi Jalan Salib.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setiap tahun, umat kristiani memperingati Hari Wafat Yesus Kristus atau yang dikenal sebagai Jumat Agung. Di tahun 2026, peringatan ini jatuh pada tanggal 3 April 2026. Momen sakral ini menjadi waktu refleksi mendalam bagi umat untuk mengenang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib demi penebusan dosa manusia.

Tak sekedar peringatan historis, Jumat Agung memiliki makna spiritual yang kuat tentang kasih, pengorbanan dan harapan akan keselamatan. Berikut sejarah dan makna Jumat Agung untuk semakin menghayati nilai-nilai iman dan memperkuat hubungan dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Jumat Agung

Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Alicia Quan)
Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Alicia Quan)

Mengutip laman Christianity, Jumat Agung adalah hari suci umat Kristiani untuk memperingati peristiwa penyaliban dan kematian Yesus di Bukit Golgota. Hari ini merupakan bagian penting dari rangkaian Pekan Suci, yang dimulai dari Minggu Palma hingga Hari Raya Paskah. Hari Jumat terakhir sebelum Paskah ini juga kerap disebut dengan Jumat Suci, Jumat Agung dan Suci, dan Jumat Hitam.

Berdasarkan pemahaman iman Kristen, Jumat Agung mencerminkan puncak pengorbanan Yesus Kristus demi menebus dosa umat manusia. Tanpa peristiwa penderitaan dan kematian-Nya, tidak akan ada kebangkitan yang dirayakan pada Paskah. Oleh karena itu, Jumat Agung dipandang sebagai momen 'agung' yang menunjukkan kasih Tuhan yang begitu besar, sekaligus menjadi dasar harapan akan keselamatan.

Secara spiritual, Jumat Agung juga dimaknai sebagai waktu untuk merenungkan arti pengorbanan, pengampunan, dan kasih tanpa syarat. Umat kristiani diajak untuk tidak hanya mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga menghayati nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti hidup dalam kerendahan hati, mengasihi sesama, dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan.

Sejarah Jumat Agung

Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Davis Arenas)
Ilustrasi Jumat Agung (pexels.com/Photo by Davis Arenas)

Sejarah Jumat Agung berakar pada kisah penyaliban Yesus Kristus yang tercatat dalam Alkitab, khususnya dalam Injil. Peristiwa ini terjadi pada abad ke-1 Masehi yakni tahun 33 M. Peristiwa ini diawali dengan penangkapan Yesus oleh otoritas Romawi setelah dikhianati oleh salah satu murid-Nya, Yudas Iskariot. Ia kemudian diadili oleh Pontius Pilatus dan dijatuhi hukuman mati dengan cara disalibkan. Penyaliban ini didasari oleh laporan para pemuka agama Yahudi saat itu yang mengatakan bahwa Yesus mengaku sebagai Raja orang Yahudi.

Penyaliban terjadi di Bukit Golgota, tempat Yesus mengorbankan diri-Nya demi menebus dosa umat manusia. Sebelum dieksekusi, Yesus disiksa dengan cara dicambuk, diberi mahkota duri, tangan dan kaki-Nya dipaku di kayu salib, sambil dilontari banyak hinaan.

Sejak masa awal Kekristenan, para pengikut Yesus mulai memperingati hari wafat-Nya sebagai bentuk penghormatan dan refleksi iman. Tradisi ini kemudian berkembang dan menjadi bagian resmi dalam kalender liturgi gereja di seluruh dunia.

Makna Jumat Agung

Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Gianna B)
Ilustrasi Jumat Agung (unsplash.com/Photo by Gianna B)

Jumat Agung memiliki makna yang sangat mendalam bagi umat kristiani. Peristiwa ini melambangkan pengorbanan Yesus Kristus yang rela menderita dan wafat demi keselamatan manusia.

Selain itu, Jumat Agung juga menjadi simbol kasih tanpa batas, pengampunan, dan kerendahan hati. Dari peristiwa ini, umat diajak untuk merenungkan pentingnya pertobatan serta memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama. Lebih dari itu, Jumat Agung juga membawa harapan, karena menjadi bagian dari rangkaian menuju kebangkitan Yesus pada Hari Paskah.

Tradisi dan peringatan Jumat Agung

Perayaan misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah, Jumat (29/3/2024). (IDN Times/Istimewa)
Perayaan misa Jumat Agung di Gereja Katedral Tiga Raja, Timika, Papua Tengah, Jumat (29/3/2024). (IDN Times/Istimewa)

Dalam perayaannya, umat kristiani biasanya mengikuti ibadah khusus di gereja yang berlangsung dengan suasana hening dan penuh khidmat. Tidak seperti perayaan lainnya, lonceng gereja biasanya tidak dibunyikan sebagai tanda duka.

Beberapa tradisi yang umum dilakukan antara lain puasa dan pantang, serta prosesi Jalan Salib yang menggambarkan perjalanan penderitaan Yesus menuju penyaliban. Meskipun terdapat perbedaan tata cara di berbagai denominasi gereja, esensi peringatannya tetap sama, yaitu mengenang pengorbanan Kristus.

Jumat Agung mengingatkan umat kristiani akan besarnya kasih dan pengorbanan Yesus Kristus bagi umat manusia. Peringatan ini bukan hanya menjadi momen mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga kesempatan untuk refleksi diri dan memperdalam iman.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Niken Ari Prayitno
EditorNiken Ari Prayitno
Follow Us

Latest in Career

See More