Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Review 'Supergirl': Kisah Utuh tentang Perempuan yang Rapuh
Dok. Warner Bros.
  • Film 'Supergirl' menampilkan Kara Zor-El sebagai sosok kompleks yang berjuang menghadapi trauma masa lalu, menjadikannya pahlawan dengan sisi manusiawi dan emosional yang kuat.
  • Kisah ini menonjolkan makna kekuatan perempuan tanpa slogan berlebihan, menggambarkan keberanian dalam keraguan serta empati sebagai bentuk kekuatan sejati.
  • Dengan visual kosmik megah dan koreografi aksi memukau, film ini menutup cerita secara melankolis, menegaskan bahwa bahkan pahlawan sekuat Supergirl tetap butuh ruang untuk rapuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bela, beri sambutan untuk superhero perempuan baru kita: Supergirl! Tak asing dengan namanya? Yup! Supergirl secara silsilah adalah sepupu perempuan dari Clark Kent alias Superman yang sudah lebih dulu punya film solonya. Dalam film ini, kita akan diperkenalkan dengan sosok Kara Zor-El yang memang secara natural memiliki kekuatan yang setara dengan Clark Kent. Cara perkenalan dalam film ini terbilang cukup unik, kita akan dibawa ke dalam kehidupan Kara yang serba berantakan akibat trauma yang dirasakannya.

Seolah ikut bertumbuh, kita akan melihat pula perkembangan Kara yang semakin dewasa dan bisa mulai berdamai dengan apa yang terjadi pada dirinya. Penasaran? simak review POPBELA berikut ini.

Synopsis 'Supergirl' (2026)

Dalam film Supergirl, kita diajak mengikuti Kara Zor-El (Milly Alcock), sepupu Superman yang tumbuh dengan latar hidup yang jauh lebih kelam. Tidak seperti Kal-El (David Corenswet) yang dikirim ke Bumi sebagai bayi dan tumbuh dalam cinta, Kara menghabiskan masa kecilnya di Argo—sebuah kota Krypton yang perlahan mati akibat radiasi kryptonite. Trauma itu melekat, membentuk dirinya menjadi sosok yang sinis, lelah, dan jauh dari gambaran superhero ideal.

Kara menghabiskan hari-harinya berpindah dari satu planet ke planet lain, sering kali hanya untuk melarikan diri dari perasaannya sendiri. Ia bukan pahlawan yang sibuk menyelamatkan dunia. Hingga suatu hari, pertemuannya dengan Ruthye (Eve Ridley)—seorang gadis yang keluarganya dibantai oleh Krem (Matthias Schoenaerts)—memaksanya menghadapi kenyataan bahwa menghindar bukan lagi pilihan. Terlebih ketika Krypto, satu-satunya makhluk yang benar-benar ia cintai, berada dalam bahaya.

Dari titik itulah, film ini berubah menjadi perjalanan emosional yang tak sekadar soal balas dendam atau kejar-kejaran antarplanet. Ini adalah kisah tentang duka, amarah, dan pencarian makna hidup, dibalut dalam petualangan kosmik yang terasa luas tapi justru intim.

Supergirl
2026
3.1/5
Directed by Craig Gillespie
ProducerJames Gunn, Peter Safran
WriterAna Nogueira
Age Rating13+
GenreAksi, Petualangan, Cerita Fiksi
Duration108 Minutes
Release Date24-06-2026
Themegalaxy, hero, superhero, villain, based on comic, space, female protagonist, heroine, solitude, supervillain, dc universe (dcu), cliché, pretentious, galactic journey
Production HouseDC Studios, Troll Court Entertainment, The Safran Company, Domain Entertainment
Where to WatchCinema XXI, CGV
CastMilly Alcock, Eve Ridley, Matthias Schoenaerts, Jason Momoa, David Krumholtz

Trailer 'Supergirl' (2026)

Sosok super yang enggan disebut sebagai 'Superman' versi perempuan

Dok. Warner Bros.

Hal paling menarik dari Supergirl adalah bagaimana film ini menolak menjadikan Kara sebagai "Superman versi cewek". Kara adalah antitesis dari sepupunya. Jika Superman melihat kekuatan sebagai anugerah, Kara justru memandangnya sebagai beban. Ia tidak merasa berutang pada siapa pun, apalagi pada semesta yang telah mengambil hampir segalanya darinya.

Sikap dingin Kara bukan tanpa alasan. Ia menyaksikan kematian, kehilangan rumah, dan tumbuh di lingkungan yang penuh ketakutan. Maka wajar jika ia lebih memilih mabuk di planet bermatahari merah ketimbang berpura-pura menjadi penyelamat. Film ini tidak menghakimi pilihan itu, justru mengajak kita memahami mengapa Kara menjadi seperti sekarang.

Di titik ini, Supergirl terasa sangat manusiawi. Ia kuat, iya. Tapi juga rapuh, lelah, dan bingung. Sebuah potret perempuan yang jarang ditampilkan dalam film superhero besar: tidak selalu ingin jadi pahlawan, tapi tetap berusaha melakukan hal benar ketika hatinya tak lagi bisa diam.

Pelajaran tentang girl power tapi tidak menggurui

Dok. Warner Bros.

Sebagai penonton yang tidak terlalu mengikuti semesta Superman, kekuatan Supergirl justru terasa lebih dekat. Girl power yang dihadirkan film ini tidak berisik atau penuh slogan. Ia hadir dalam pilihan-pilihan kecil, dalam keraguan, dan dalam keberanian untuk tetap melangkah meski hati sedang hancur.

Kara tidak digambarkan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia salah, ragu, bahkan memilih jalan yang secara moral abu-abu. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia belajar bahwa empati bukan kelemahan, dan peduli bukan berarti kalah. Pelajaran ini terasa relevan, terutama bagi perempuan yang sering dituntut untuk selalu kuat tanpa diberi ruang untuk rapuh.

Bagi POPBELA, ini adalah pengingat bahwa perempuan boleh lelah, boleh marah, dan tetap layak menjadi pusat cerita. Kekuatan tidak selalu berarti menyelamatkan dunia. Bahkan, kadang cukup dengan tidak menutup mata pada penderitaan orang lain.

Visual semesta yang megah

Dok. Warner Bros.

Dari sisi visual, sutradara Craig Gillespie berhasil menghadirkan alam semesta yang terasa hidup. Setiap planet memiliki karakter, warna, dan atmosfer yang berbeda, membuat perjalanan Kara terasa seperti odyssey yang panjang dan melelahkan. Ruang angkasa di sini tidak hanya kosong dan indah, tapi juga sunyi dan kadang mengancam.

Sinematografinya membuat kita merasa kecil, seolah menjadi penumpang yang ikut melompat dari satu dunia ke dunia lain. Ada nuansa space-western yang kental—liar, keras, dan tidak selalu ramah terhadap perempuan. Dunia maju secara teknologi, tapi nilai-nilai kemanusiaannya tertinggal jauh di belakang.

Visual yang memukau ini tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tapi juga memperkuat tema cerita: semesta yang luas tidak menjamin tempat aman bagi mereka yang terluka. Dan Kara, dengan segala kekuatannya, tetap harus berjuang untuk bertahan.

Koreografi yang memukau

Dok. Warner Bros.

Seperti banyak film aksi lainnya, Supergirl juga terjebak pada satu kelemahan klasik: pertarungan final yang terasa terlalu panjang. Di satu sisi, koreografi pertarungan Kara benar-benar memukau. Setiap pukulan, lompatan, dan ledakan menegaskan betapa dahsyatnya kekuatan Supergirl.

Namun di sisi lain, durasinya membuat ritme film sedikit mengendur. Ketegangan emosional yang sudah dibangun dengan baik sempat terpecah oleh adegan aksi yang terasa berlarut-larut. Ada momen ketika penonton ingin segera kembali ke konflik batin Kara, bukan sekadar menyaksikan siapa yang menang secara fisik.

Meski begitu, adegan-adegan ini tetap memberi ruang bagi kita untuk mengagumi Kara sebagai pejuang. Ia bukan hanya simbol, tapi tubuh yang benar-benar bertarung, terluka, dan bangkit kembali.

Perempuan kuat yang tetap butuh tempat bersandar

Dok. Warner Bros.

Di balik semua kekuatan kosmik dan keberaniannya, Supergirl pada akhirnya adalah kisah tentang perempuan yang butuh tempat pulang. Kara mungkin bisa mengangkat pesawat luar angkasa, tapi ia tetap membutuhkan seseorang untuk berbagi rasa kehilangan dan kemarahannya.

Film ini menutup ceritanya dengan lembut, nyaris melankolis. Tidak ada kehancuran dunia, tidak ada krisis multiverse. Yang ada hanyalah satu langkah kecil menuju penerimaan diri. Sebuah kemenangan sunyi yang justru terasa lebih membekas.

Dan mungkin, itulah kekuatan terbesar Supergirl. Ia mengingatkan kita bahwa sekuat apa pun seorang perempuan, ia tetap manusia. Dan tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, bersandar, dan mengakui bahwa luka itu ada.

Editorial Team

Related Article