Pernah nggak sih kamu membayangkan, bagaimana ya perasaan mainan kesayangan kita yang dulu tak pernah lepas dari pelukan kini teronggok begitu saja di sudut kamar? Apakah dia merasa sedih dan terabaikan? Atau merasa cemburu karena posisinya kini tergantikan oleh gawai yang tak lepas dari pandangan kita kecuali saat tidur?
Review 'Toy Story 5': Saat Mainan Tergeser Oleh Dunia Digital

- Toy Story 5 menyoroti perubahan zaman ketika mainan klasik tergantikan oleh gawai, menggambarkan hilangnya ruang bermain dan imajinasi anak-anak di era digital.
- Jessie menjadi pusat cerita menggantikan Woody, membawa kisah emosional tentang keberanian mempertahankan makna bermain dan hubungan nyata di tengah dunia serba layar.
- Film ini menghadirkan nostalgia hangat sekaligus kritik lembut terhadap ketergantungan teknologi, menutup perjalanan Toy Story dengan pesan reflektif tentang pentingnya imajinasi dan kehadiran manusia.
Kurang lebih itulah inti dari kisah Toy Story 5 yang rilis di bioskop pada 17 Juni 2026. Para mainan yang dulu aktif dimainkan, kini tergantikan posisinya oleh gawai yang bahkan kurang dari 24 jam telah merebut perhatian kita. Terdengar familiar dengan apa yang sedang terjadi saat ini, bukan?
Synopsis 'Toy Story 5' (2026)
Toy Story 5 membuka ceritanya dengan situasi yang terasa sangat dekat dengan keseharian kita hari ini. Bonnie (Scarlett Spears) kini tumbuh menjadi anak yang mulai jarang menyentuh mainan. Waktunya lebih banyak dihabiskan bersama Lilypad (Greta Lee), layar yang menawarkan dunia baru, teman baru, dan hiburan instan. Jessie (Joan Cusack) dan Buzz Lightyear (Tim Allen) merasakan perubahan itu paling nyata. Mereka bukan lagi pusat imajinasi Bonnie, melainkan sekadar penghuni rak yang semakin jarang dilirik.
Keresahan para mainan pun mulai muncul. Beberapa dari mereka bahkan merasa inilah saatnya "pensiun", kembali ke gudang, dan menerima kenyataan bahwa masa bermain sudah berakhir. Di tengah kegelisahan itu, Jessie justru mengambil peran paling besar. Ia menolak menyerah pada waktu dan keadaan, dan berusaha menemukan cara agar Bonnie kembali terhubung dengan dunia bermain yang nyata.
Perjalanan emosional film ini membawa kita ke konflik yang lebih luas dari sekadar mainan yang takut dilupakan. Toy Story 5 berbicara tentang hilangnya ruang bermain, bergesernya cara anak-anak membangun relasi, dan perjuangan kecil untuk mempertahankan imajinasi di dunia yang makin digital.
| Producer | Lindsey Collins, Jessica Choi |
| Writer | Andrew Stanton, Kenna Harris |
| Age Rating | SU |
| Genre | Animasi, Keluarga, Komedi, Petualangan |
| Duration | 102 Minutes |
| Release Date | 17-06-2026 |
| Theme | farm, island, pig, horse, rescue mission, rivalry, sequel, love, stranded, wedding, tire swing, walkie talkie, cowgirl, cowboy, buddy comedy, toy comes to life, hippo, abandonment, toilet paper, replacement, toy, cautionary, frog, 3d animation, tablet, ipad |
| Production House | Pixar |
| Where to Watch | Disney+ |
| Cast | Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, Greta Lee, Conan O'Brien |
Trailer 'Toy Story 5' (2026)
'Toy Story 5' Still Images
Nostalgia yang datang lagi

Rasanya seperti bertemu teman lama setelah bertahun-tahun tak bersua. Ada kehangatan, ada rindu, tapi juga ada kesadaran bahwa semuanya sudah berubah. Toy Story 5 hadir tujuh tahun setelah film keempat, dan jeda itu terasa matang. Film ini tidak terburu-buru memancing air mata, tapi membiarkan nostalgia mengalir perlahan.
Sejak menit awal, ada perasaan akrab yang langsung menyapa. Warna, humor, dan ritme khas Toy Story masih ada, namun dengan nada yang lebih reflektif. Film ini seperti tahu bahwa penontonnya pun sudah tumbuh dewasa, dimana banyak di antara kita yang dulu menonton Toy Story sebagai anak-anak, kini duduk di bioskop dengan memori masa kecil masing-masing.
Alih-alih sekadar mengulang formula lama, Toy Story 5 memilih untuk menatap ke depan sambil sesekali menoleh ke belakang. Nostalgia di sini bukan tempelan, tapi bagian dari perjalanan emosional yang menyatu dengan cerita.
Jessie sebagai pusat cerita menggantikan Woody

Perubahan paling signifikan di film ini adalah pergeseran tokoh utama. Jika dulu Sheriff Woody (Tom Hanks) selalu menjadi pusat semesta, kini Jessie mengambil alih kendali cerita. Dan jujur saja, rasanya tepat. Jessie adalah karakter yang paling lantang menyuarakan ketakutan akan dilupakan, tapi juga paling berani melawan takdir itu.
Sebagai tokoh utama, Jessie digambarkan lebih kompleks dan emosional. Ia bukan hanya mainan yang ingin dimainkan lagi, tapi sosok yang percaya bahwa bermain itu penting, bukan cuma untuk anak-anak, tapi untuk jiwa mereka. Keberaniannya mempertahankan harapan menjadi motor penggerak cerita.
Woody sendiri tidak benar-benar menghilang. Ia hadir sebagai figur pendukung yang penting, muncul di momen-momen krusial dengan kebijaksanaan dan keteguhan yang terasa seperti "orang tua". Kehadirannya di klimaks film terasa emosional, bukan karena ia kembali menjadi pusat cerita, tapi karena ia tahu kapan harus melangkah maju dan kapan harus memberi ruang.
Kritik halus tentang anak, gawai, dan dunia digital

Salah satu kekuatan terbesar Toy Story 5 adalah keberaniannya mengangkat isu yang sangat relevan hari ini. Film ini dengan jujur menyoroti kebiasaan anak-anak yang kini lebih nyaman berinteraksi lewat layar dibanding bermain langsung dengan teman sebaya. Kritik ini tidak disampaikan dengan nada menghakimi, tapi lewat observasi yang jujur dan menyentuh.
Film ini paham bahwa teknologi bukan musuh. Gawai digambarkan sebagai alat yang membantu, membuka koneksi, dan mempermudah hidup. Namun, ada garis tipis yang dilanggar ketika ketergantungan mulai menghapus ruang untuk imajinasi dan interaksi nyata. Di situlah kegelisahan Toy Story 5 berada.
Pesan moralnya terasa dewasa dan relevan, bahkan untuk penonton dewasa. Ia mengingatkan kita bahwa dunia digital memang penting, tapi jangan sampai kita lupa rasanya duduk di lantai, bermain, dan benar-benar hadir bersama orang lain.
Imajinasi yang perlahan menghilang

Film ini juga menyoroti sesuatu yang lebih dalam: menghilangnya imaginative play. Bermain bukan sekadar aktivitas, tapi ruang di mana anak-anak memproses dunia, emosi, dan identitas mereka. Ketika imajinasi Bonnie mulai memudar, film ini menggambarkannya sebagai kehilangan dimensi—sesuatu yang tak kasat mata, tapi terasa kosong.
Adegan-adegan imajinatif dalam Toy Story 5 tetap menjadi salah satu yang paling memikat. Warna-warna cerah, situasi absurd, dan logika khas dunia anak-anak hadir dengan penuh energi. Momen-momen ini terasa seperti pengingat tentang betapa liarnya imajinasi dulu, sebelum semuanya dipersempit oleh layar.
Namun dunia tidak lagi sepenuhnya mendukung ruang bermain itu. Tekanan sosial, standar pertemanan digital, dan rasa ingin “cepat dewasa” membuat bermain terasa kuno. Di sinilah film ini diam-diam terasa menyedihkan, tapi juga jujur.
Penutup yang hangat dan terasa sebagai perpisahan

Lima film berjalan, dan Toy Story 5 terasa seperti sebuah rangkuman besar. Seperti album terakhir band legendaris, film ini menyatukan semua tema yang pernah hadir: kehilangan, pertumbuhan, perpisahan, dan kelahiran kembali. Semuanya terasa utuh, tanpa perlu menjadi terlalu sentimental.
Klimaks film ini bukan sekadar tentang penyelamatan atau aksi besar, tapi tentang pilihan. Pilihan untuk melambat, untuk tetap bermain, dan untuk hadir sepenuhnya di dunia nyata. Ada momen-momen yang hangat, lucu, tapi juga diam-diam menghantam emosi.
Apakah ini akhir yang sempurna? Mungkin. Atau setidaknya, ini adalah penutup yang terasa jujur. Toy Story 5 tidak berteriak perpisahan, tapi berbisik lembut: bahwa bermain itu penting, bahwa imajinasi layak diperjuangkan, dan bahwa kenangan masa kecil, seperti mainan lama yang akan selalu punya tempat di hati kita.

















