Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
For
You

Profil Kak Seto, Ketua LPAI yang Disorot Karena Buku 'Broken Strings'

Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260115_103542_0004.png
Instagram.com / kaksetosahabatanak
Intinya sih...
  • Kak Seto, psikolog anak dan Ketua LPAI, disorot usai buku Aurelie Moeremans yang mengungkap dugaan eksploitasi psikologis saat remaja.
  • Seto Mulyadi lahir di Klaten, Jawa Tengah, bercita-cita menjadi dokter sebelum menemukan panggilan hidupnya sebagai psikolog anak.
  • Kak Seto aktif dalam pendidikan alternatif, mendirikan Homeschooling Kak Seto dan meraih berbagai penghargaan atas dedikasinya pada dunia anak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Nama Kak Seto kembali menjadi perbincangan hangat publik. Sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sahabat anak dan pejuang hak-hak anak ini terseret sorotan setelah memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurélie Moeremans viral pada awal 2026. Buku tersebut membuka kembali luka lama terkait dugaan eksploitasi psikologis yang dialami Aurélie semasa remaja.

Sorotan publik tak hanya tertuju pada kisah Aurélie, tetapi juga pada peran lembaga perlindungan anak yang pernah menangani kasus tersebut, termasuk dugaan Komnas Perlindungan Anak dan figur Kak Seto yang kala itu menjabat sebagai ketua, tidak menindaklanjuti laporan dari keluarga Aurélie. Lantas, siapa sebenarnya Kak Seto? Mari simak profilnya dalam artikel berikut ini, Bela!

Latar belakang dan pendidikan

Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260115_103542_0000.png
Instagram.com / kaksetosahabatanak

Seto Mulyadi, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Kak Seto, lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1951. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Pengalaman masa kecilnya, termasuk menghadapi fobia akibat beberapa kali terjatuh, justru membentuk karakter tangguh yang kelak berpengaruh besar pada pendekatannya terhadap dunia anak.

Awalnya bercita-cita menjadi dokter, Kak Seto sempat mengalami kekecewaan karena tidak diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Universitas Indonesia. Namun, pertemuannya dengan tokoh pendidikan anak Pak Kasur mengubah arah hidupnya. Atas saran Pak Kasur, ia beralih ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan menemukan panggilan hidupnya.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi pada 1981, Magister Psikologi pada 1989, dan meraih gelar Doktor Psikologi pada 1993, seluruhnya di Universitas Indonesia. Pada 2021, Kak Seto dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Psikologi di Universitas Gunadarma.

Perjalanan karier dan dedikasi pada dunia anak

Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260115_103542_0003.png
Instagram.com / kaksetosahabatanak

Karier Kak Seto tak bisa dilepaskan dari dunia anak-anak. Ia memulai langkah profesionalnya sebagai asisten Pak Kasur, kemudian dikenal luas lewat acara televisi legendaris Aneka Ria Taman Kanak-Kanak. Dalam acara tersebut, Kak Seto mendongeng, bernyanyi, bermain sulap, dan menghadirkan pendekatan edukasi yang menyenangkan.

Dari pengalaman itulah lahir karakter ikonik Si Komo, boneka dinosaurus hijau yang menjadi simbol edukasi kreatif bagi anak-anak Indonesia. Popularitas Si Komo turut mengangkat nama Kak Seto sebagai pendidik dan psikolog anak yang dekat dengan dunia imajinasi anak.

Selain aktif di media, Kak Seto juga berperan dalam berbagai lembaga perlindungan anak. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dan kini dikenal sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).

Kehidupan pribadi Kak Seto

Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260115_103542_0001.png
Instagram.com / kaksetosahabatanak

Dalam kehidupan pribadi, Kak Seto menikah dengan Deviana pada 1988. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak yaitu Eka Putri, Bimo yang kemudian berganti nama menjadi Alden Daze, Shelomita, dan Dhea Seto. Salah satu putrinya, Dhea Seto, juga dikenal publik dan mengikuti jejak sang ayah di dunia pendidikan dan seni. Kak Seto memiliki saudara kembar, Kresno Mulyadi atau Kak Kresno, yang juga berprofesi sebagai psikiater anak, serta seorang kakak bernama Maruf Mulyadi.

Kak Seto mendirikan homeschooling hingga raih sejumlah penghargaan

Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260115_103542_0005.png
Instagram.com / kaksetosahabatanak

Pada 2007, Kak Seto mendirikan Homeschooling Kak Seto (HSKS), sebuah lembaga pendidikan alternatif yang menempatkan anak sebagai subjek utama pembelajaran. Dengan pendekatan “at home”, HSKS menawarkan sistem belajar fleksibel yang menyesuaikan minat, bakat, dan kenyamanan anak. Homeschooling Kak Seto dikenal sebagai salah satu pelopor pendidikan alternatif di Indonesia, dengan alumni dari berbagai latar belakang, termasuk figur publik seperti Prilly Latuconsina, Nikita Willy, Citra Scholastika, hingga kreator konten Windah Basudara.

Selain menulis buku Anakku, Sahabat, dan Guruku, Kak Seto juga terlibat dalam dunia perfilman, baik sebagai pemeran maupun produser. Dedikasinya pada dunia anak membuahkan berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:

  • The Outstanding Young Person of the World (1987)
  • Peace Messenger Award dari Sekretaris Jenderal PBB (1987)
  • The Golden Balloon Award, New York (1989)
  • Men’s Obsession Award (2006)
  • Bintang Jasa Nararya (2025)

Penghargaan-penghargaan tersebut menegaskan kiprahnya sebagai salah satu tokoh penting dalam isu perlindungan dan pendidikan anak di Indonesia.

Klarifikasi Kak Seto soal kasus Aurélie Moeremans

Salinan dari Salinan dari BEFORE_20260115_103542_0002.png
Instagram.com / kaksetosahabatanak

Nama Kak Seto kembali menjadi sorotan usai Aurélie Moeremans merilis buku Broken Strings yang mengungkap dugaan child grooming saat dirinya masih berusia 15 tahun. Kasus tersebut disebut pernah dilaporkan ke lembaga perlindungan anak pada 2009–2010, ketika Kak Seto masih memimpin Komnas Perlindungan Anak. Menanggapi hal itu, Kak Seto menyampaikan klarifikasi melalui Instagram Story pada 13 Januari 2026. Ia meminta publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

“Mohon kepada para sahabat semua, kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih, tanpa memelintir fakta ke arah pemahaman yang keliru,” tulisnya dalam Instagram Story @kaksetosahabatanak, pada Selasa (13/01/2026).

Kak Seto menegaskan pihaknya telah menjalankan peran sesuai kewenangan saat itu.

“Pada masanya, kami telah berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab kami saat itu,” ujarnya.

Ia berharap pengangkatan kembali kasus lama tidak menjadi ruang saling menyalahkan dan mengajak publik tetap fokus pada isu perlindungan anak.

“Saat ini, kita masih dihadapkan pada begitu banyak persoalan anak di tanah air. Masih banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian, kepedulian, dan kerja bersama secara sukarela serta profesional,” pungkasnya.

Perkembangan kasus ini masih terus menjadi perhatian publik, seiring munculnya berbagai sudut pandang dan klarifikasi dari pihak-pihak yang merasa terkait. Publik pun diimbau untuk terus menyimak kabar selanjutnya dengan sikap bijak, empati, dan mengedepankan kepentingan terbaik bagi perlindungan anak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ayu Utami
EditorAyu Utami
Follow Us

Latest in Career

See More

Profil Kak Seto, Ketua LPAI yang Disorot Karena Buku 'Broken Strings'

15 Jan 2026, 12:15 WIBCareer