Jika dihitung berdasarkan penanggalan modern atau Gregorian, saat ini kita hidup di zaman Masehi, yakni sebuah era di mana penghitungan waktu dimulai sejak kelahiran Yesus Kristus sekitar 2 ribu tahun lalu. Namun, sebelum adanya penanggalan modern seperti saat ini, beberapa kalender kuno sudah digunakan oleh banyak peradaban di masa lalu.

Nah, bagaimana kalender dan penanggalan internasional bisa diterapkan seperti saat ini? Apa yang melatarbelakangi sejarahnya? Well, ketimbang penasaran, sebaiknya simak penjelasan singkatnya dalam artikel berikut.

1. Kalender Mesopotamia adalah penanggalan internasional awal yang dipakai oleh peradaban manusia

5 Fakta Sejarah Penanggalan Internasional yang Digunakan di DuniaWorldhistory.org

Jauh sebelum era Masehi, penanggalan atau kalender internasional pernah digunakan oleh umat manusia, tepatnya di era Babilonia Kuno. Yup, penanggalan kuno tersebut dinamakan Kalender Mesopotamia atau Kalender Babilonia. Kalangan akademisi bahkan meyakini bahwa penanggalan dan penghitungan waktu sudah ada di zaman Sumeria, yakni sebuah peradaban yang ada di awal-awal keberadaan manusia di Mesopotamia Selatan.

Menurut laman Britannica, rumusan mengenai kalender di Mesopotamia sudah ada sejak 3000 SM atau lebih dari 5 ribu tahun yang lalu. Sejarah mencatat bahwa di zamannya, Mesopotamia pernah ditempati oleh peradaban-peradaban maju, di antaranya Sumeria dan Babilonia.

Jika Sumeria menemukan penghitungan angka pada kalender sederhana, maka Babilonia yang menyempurnakannya menjadi sebuah penanggalan yang kala itu dipakai di banyak negeri. Uniknya, di zaman kuno, peradaban Sumeria dan Babilonia sudah bisa menghitung perubahan waktu yang didasarkan pada pergerakan Bulan dan Matahari (lunisolar).

2. Kalender Zoroaster dan Ibrani menggantikan sistem penanggalan sebelumnya

5 Fakta Sejarah Penanggalan Internasional yang Digunakan di DuniaBlendspace.com

Kalender atau penanggalan Zoroaster dan Ibrani muncul pada era penanggalan Persia. Kala itu, pembagian waktu di dunia memang dipisah-pisah berdasarkan peradaban manusia yang tersebar di seluruh permukaan Bumi. Artinya, setelah era keemasan Sumeria dan Babilonia, peradaban baru yang muncul tidak memiliki sistem kalender yang kerumitannya bisa menyamai peradaban sebelumnya.

Praktis hanya sistem penanggalan milik Persia (Zoroaster) dan Ibrani (Bangsa Yahudi) yang dianggap memiliki mekanisme paling kompleks. Bahkan, sistem penanggalan Ibrani masih digunakan oleh bangsa Yahudi hingga saat ini. Laman Calendar melansir bahwa sebetulnya Kalender Ibrani juga dipengaruhi oleh penghitungan Babilonia.

Ahli sejarah meyakini bahwa orang-orang Yahudi di zaman Pembuangan Babilonia (586 SM) sudah mampu membuat sistem penanggalan yang saat itu hanya digunakan secara tertutup. Hal ini dibuktikan dari sistem kalender Ibrani modern yang sedikit di antaranya mengadopsi nama-nama dari penanggalan Babilonia Kuno.

3. Giliran peradaban Romawi Kuno menerbitkan sistem kalender baru

5 Fakta Sejarah Penanggalan Internasional yang Digunakan di DuniaUnsplash.com/David Libeert

Peradaban Romawi pernah menguasai dunia di masa lampau. Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan sebagian Asia merupakan wilayah kekuasaan mereka selama berabad-abad lamanya. Dilansir laman Britannica, kalender awal Romawi dibuat oleh Romulus sekitar 700 SM. Pada saat itu, tahun dimulai pada Maret dan hanya ada 10 bulan sebagai penanda waktu.

Nah, baru pada pemerintahan Pompilus (600 SM), dua bulan tambahan dimasukkan ke dalam kalender resmi mereka, yakni Januari dan Februari. Sebelumnya, dalam satu tahun terdapat 304 hari. Pada saat era Pompilus, setahun menjadi 354 hari. Di zaman Romawi Kuno, sistem kalender sudah memiliki 12 bulan, tapi masih belum sempurna karena hanya memiliki 354--355 hari.

Hal tersebut tak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat Romawi terhadap takhayul pada angka genap. Ada bulan dengan jumlah hari yang dikurangi, ada pula yang ditambahkan untuk mengimbangi kepercayaan dari mayoritas rakyat Romawi di zaman Pompilus.

4. Kalender Julius sebagai penanggalan modern di era Romawi

5 Fakta Sejarah Penanggalan Internasional yang Digunakan di DuniaHistory.com

Pada 45 SM, Julius Caesar meresmikan dan memberlakukan penanggalan baru di Romawi, yakni Kalender Julius atau Julian. Nah, sistem ini dibuat dan dipelopori oleh Sosigenes, seorang astronom dan ahli matematika dari Aleksandria. Penanggalan ini sudah dianggap lebih baik jika dibandingkan dengan kalender yang dibuat di era Pompilus. Bahkan, mayoritas dunia sempat mengaplikasikan sistem ini sebagai penanggalan waktu yang berlaku umum.

Ada 365 hari setiap 3 tahun sekali dan pada tahun ke-4, hari akan bertambah menjadi 366. Uniknya, selain mengambil dari sistem edar Matahari, kalender ini juga menyerap perputaran atau perubahan musim. Itu sebabnya, ada penyisipan beberapa jumlah hari di tahun-tahun tertentu untuk mengimbangi fase tahun tropis.

Julius Caesar sendiri merupakan tokoh yang cukup genius di bidang penghitungan angka. Pada zamannya, diterapkan sistem kabisat selama 4 tahun sekali untuk mendekati ketepatan dengan pergantian musim. Sayangnya, setelah Julius Caesar meninggal, penerapan kabisat pada penanggalan Julius sering salah diaplikasikan.

5. Diperbarui dengan sistem Masehi Gregorian

5 Fakta Sejarah Penanggalan Internasional yang Digunakan di DuniaTimeanddate.com

Nah, sampai detik ini, kita masih menggunakan sistem kalender dan penanggalan Masehi Gregorian. Apa itu? Secara umum, penanggalan ini merupakan sistem yang dibangun oleh Dr. Aloysius Lilius dari Italia dan diresmikan oleh Paus Gregorius XIII pada 24 Februari 1582. Patokan dari sistem penanggalan ini adalah Masehi atau kelahiran Yesus Kristus pada 2 ribu tahun lalu.

Dicatat dalam laman History, penanggalan Masehi Gregorian sebetulnya masih merupakan bentuk modifikasi dan penyempurna dari penanggalan Julius. Sistem kabisat dan penghitungan pergerakan Matahari lebih disempurnakan lagi, mengingat ada banyak musim yang silih berganti di seluruh dunia.

Oh, ya, dalam Masehi Gregorian, dihitung pula waktu revolusi Bumi sebanyak 365 hari 5 jam 48 menit dan 46 detik. Hal inilah yang tidak pernah bisa dilakukan oleh Julius Caesar. Sehingga, dengan sistem Masehi Gregorian, selisih waktu yang terjadi di seluruh dunia bisa dikonversi dengan tepat sesuai dengan pergerakan Bumi.

Nah, beberapa perkembangan mengenai sistem kalender di dunia ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama, bukan? Penanggalan pun berevolusi dan terus mengalami perubahan sesuai zaman serta mengikuti pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Disclaimer: artikel ini sudah pernah tayang di laman IDNTimes.com dengan judul "5 Fakta Sejarah Penanggalan Internasional yang Digunakan di Dunia" ditulis oleh Dahli Anggara

Baca Juga: Kalender Jawa 2022 Lengkap, Bantu Cari Hari Baik Berdasarkan Weton

Baca Juga: Mengenal 12 Nama Bulan dalam Kalender Islam dan Keutamaannya

Baca Juga: Cara Menghitung Kalender Jawa Weton untuk Pernikahan