Musim panas 2026 menghadirkan banyak anime baru dengan tema fantasi, aksi, hingga romance. Namun, di antara deretan judul tersebut, Jaadugar: A Witch in Mongolia berhasil mencuri perhatian berkat premisnya yang tidak biasa. Alih-alih membawa penonton ke dunia penuh sihir, anime garapan Science SARU ini justru mengangkat kisah sejarah yang berlatar Persia dan Kekaisaran Mongol pada abad ke-13.
Fakta Anime 'Jaadugar: A Witch in Mongolia', Tawarkan Kisah Sejarah Berbeda

- Jaadugar: A Witch in Mongolia mengangkat kisah sejarah abad ke-13 di Persia dan Kekaisaran Mongol, menyoroti perjalanan emosional Sitara dalam menghadapi invasi yang menghancurkan keluarganya.
- Anime ini menafsirkan 'sihir' sebagai simbol ilmu pengetahuan dan kecerdasan, menonjolkan pesan bahwa pengetahuan adalah kekuatan utama untuk melawan ketidakadilan dan kekerasan.
- Diproduksi oleh Science SARU bersama Naoko Yamada, anime ini menghadirkan representasi budaya autentik melalui pengisi suara asal Iran dan Mongolia serta telah meraih berbagai penghargaan sebelum penayangan.
Mengikuti perjalanan Sitara, seorang gadis yang kehilangan keluarganya akibat invasi Mongol, Jaadugar: A Witch in Mongolia menyajikan perpaduan drama sejarah, politik, dan pencarian jati diri yang terasa emosional. Menariknya lagi, anime ini menyelipkan berbagai fakta unik yang membuatnya semakin layak masuk daftar tontonanmu. Yuk, simak ulasannya!
1. Berlatar dunia Islam pada abad ke-13
Meski menggunakan kata "Mongolia" dalam judulnya, bagian awal cerita Jaadugar: A Witch in Mongolia justru berlangsung di kota Tus, Persia, yang kini menjadi bagian dari Iran. Pada masa itu, wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
Tokoh utama, Sitara, dibesarkan dalam keluarga cendekiawan Muslim yang mengajarkannya membaca, berpikir kritis, dan menghargai ilmu pengetahuan. Latar inilah yang membuat anime ini terasa berbeda dibandingkan anime fantasi pada umumnya.
Alih-alih menampilkan dunia penuh mantra dan makhluk ajaib, penonton akan diperkenalkan pada budaya Persia, kehidupan masyarakat Islam, hingga perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada zamannya. Karena itulah, banyak penggemar menyebut anime ini memiliki nuansa "anime Islami", meski sebenarnya bukan anime bertema dakwah.
2. "Sihir" yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan

Judul A Witch in Mongolia mungkin membuat banyak orang mengira anime ini dipenuhi adegan sihir. Faktanya, unsur tersebut hampir tidak ada di dalam cerita.
Sebaliknya, "penyihir" dalam kisah ini menjadi simbol kecerdasan, kemampuan berpikir strategis, diplomasi, serta pengetahuan yang dimiliki Sitara untuk bertahan hidup di tengah dunia yang penuh konflik.
Keluarga Sitara juga meyakini bahwa ilmu adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi kekerasan dan ketidakadilan. Pesan tersebut menjadi fondasi utama cerita sekaligus membedakannya dari anime bertema fantasi lainnya.
3. Mengangkat invasi Mongol dari sudut pandang korban

Sebagian besar karya yang mengangkat Kekaisaran Mongol biasanya berfokus pada kejayaan pasukan Genghis Khan dan keberhasilannya menaklukkan berbagai wilayah.
Jaadugar: A Witch in Mongolia memilih pendekatan berbeda. Cerita disampaikan dari sudut pandang Sitara, seorang gadis Persia yang kehilangan keluarganya akibat invasi tersebut.
Pendekatan ini membuat konflik terasa jauh lebih personal. Kamu sebagai penonton akan diajak memahami dampak perang terhadap kehidupan masyarakat biasa, bukan hanya menyaksikan kemenangan di medan pertempuran.
4. Sosok Genghis Khan dibuat tetap misterius

Salah satu hal unik dari manga aslinya adalah sosok Genghis Khan hampir tidak pernah diperlihatkan secara jelas. Setiap kali namanya disebut, pembaca biasanya hanya melihat siluet atau bagian belakang tubuhnya. Teknik ini membuat sang pemimpin Mongol terasa seperti sosok legendaris yang selalu membayangi jalannya sejarah tanpa benar-benar hadir di depan layar.
Dalam adaptasi anime, pendekatan tersebut sedikit berubah. Genghis Khan kini memiliki pengisi suara sehingga kehadirannya terasa lebih nyata, meski aura misteriusnya tetap dipertahankan.
5. Dua pegulat sumo asal Mongolia ikut menjadi seiyuu

Salah satu keputusan casting paling menarik dalam anime ini adalah melibatkan dua pegulat sumo asal Mongolia sebagai pengisi suara. Ichiro Tamawashi dipercaya mengisi suara Genghis Khan, sementara Manpei Tamashoho memerankan salah satu prajurit Mongol.
Ini menjadi debut keduanya sebagai seiyuu anime televisi. Kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan nuansa budaya Mongolia yang lebih autentik dalam setiap adegan.
6. Menghadirkan aktris kelahiran Iran sebagai pengisi suara

Tak hanya memperhatikan visual dan cerita, tim produksi juga berupaya menghadirkan representasi budaya melalui jajaran pengisi suara. Karakter Zumurrud, seorang budak Persia berdarah Barat, diperankan oleh Farahnaz Nikray yang lahir di Iran.
Pemilihan ini dinilai memberikan kedekatan budaya dengan latar cerita sehingga dialog dan penyampaian emosi terasa lebih alami. Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian tim produksi terhadap keaslian latar sejarah yang diangkat.
7. Diproduksi Science SARU bersama Naoko Yamada

Dari sisi produksi, Jaadugar: A Witch in Mongolia berada di tangan studio Science SARU yang dikenal lewat berbagai anime populer seperti DAN DA DAN, Keep Your Hands Off Eizouken!, hingga DEVILMAN crybaby.
Proyek ini juga semakin menarik karena melibatkan Naoko Yamada sebagai chief director. Namanya dikenal luas berkat gaya penyutradaraan yang emosional dan penuh detail visual.
Sementara itu, Abel Góngora bertugas sebagai sutradara utama. Kombinasi keduanya membuat banyak penggemar menaruh ekspektasi tinggi terhadap kualitas animasi dan penyampaian cerita anime ini.
8. Manganya sudah memenangkan banyak penghargaan

Sebelum diadaptasi menjadi anime, manga karya Tomato Soup lebih dulu mendapat berbagai penghargaan bergengsi di Jepang. A Witch's Life in Mongol berhasil menempati peringkat pertama kategori perempuan dalam Kono Manga ga Sugoi! 2023. Selain itu, manga ini juga masuk nominasi Manga Taisho selama dua tahun berturut-turut.
Menariknya lagi, bahkan sebelum tayang resmi, adaptasi animenya telah terpilih dalam kompetisi TV Films di Annecy International Animation Film Festival 2026, salah satu festival animasi paling prestisius di dunia. Hal ini menjadi bukti bahwa Jaadugar: A Witch in Mongolia sudah menarik perhatian industri animasi sejak awal pengembangannya.
Jaadugar: A Witch in Mongolia menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dibandingkan kebanyakan anime musim panas 2026. Dengan memadukan sejarah, budaya, politik, dan nilai pentingnya ilmu pengetahuan, anime ini menghadirkan kisah yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton melihat sisi lain dari sebuah peristiwa besar dalam sejarah dunia.
Kalau kamu mencari anime dengan cerita yang segar, visual memukau, dan tema yang lebih dewasa, Jaadugar: A Witch in Mongolia bisa menjadi salah satu tontonan yang wajib masuk dalam daftar musim ini.




















