Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
5 Tren Skincare yang Mulai Meredup di Tahun 2026
freepik.com
  • Industri kecantikan tahun 2026 bergeser ke arah skin minimalism, dengan fokus pada rutinitas sederhana dan produk berkualitas sesuai kebutuhan kulit.
  • Konsumen kini lebih sadar pentingnya menjaga skin barrier, menghindari over-exfoliation, serta memilih formula lembut dan stabil dibanding kandungan aktif tinggi.
  • Tren DIY skincare dan tampilan glass skin ekstrem mulai ditinggalkan, digantikan preferensi terhadap hasil natural, sehat, dan berbasis formulasi ilmiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri kecantikan memang tak pernah berhenti berevolusi. Jika dulu tren ditentukan oleh viralitas di media sosial, kini konsumen semakin cerdas dan selektif. Banyak orang mulai memahami pentingnya skin barrier, ingredients yang evidence-based, hingga konsep skin minimalism.

Hal ini membuat sejumlah tren yang dulu booming kini mulai ditinggalkan. Bukan berarti sepenuhnya buruk, tetapi pendekatannya dianggap kurang relevan dengan kebutuhan kulit jangka panjang. Berikut lima tren skincare yang tidak lagi populer di tahun 2026.

1. 10-Step Routine

freepik.com/pikisuperstar

Beberapa tahun lalu, rutinitas skincare dengan 8–10 langkah sempat menjadi standar kecantikan, terinspirasi dari tren K-beauty. Mulai dari double cleansing, toner, essence, serum berlapis, ampoule, hingga sleeping mask—semuanya digunakan sekaligus secara bertahap.

Namun di 2026, tren ini mulai bergeser ke arah skin minimalism. Banyak orang menyadari bahwa terlalu banyak layering justru bisa memicu iritasi, over-exfoliation, bahkan merusak skin barrier.

Kini, pendekatan yang lebih disukai adalah rutinitas sederhana namun efektif yaitu cleanser, treatment utama, moisturizer, dan sunscreen. Fokusnya bukan lagi pada banyaknya produk, melainkan kualitas dan kebutuhan spesifik kulit.

2. Over-exfoliation Setiap Hari

freepik.com

Chemical exfoliant seperti AHA, BHA, dan PHA pernah menjadi “primadona” karena mampu membuat kulit tampak lebih cerah dan halus dalam waktu singkat. Tak sedikit yang menggunakannya hampir setiap hari demi hasil instan. Sayangnya, penggunaan berlebihan justru bisa menyebabkan kulit menipis, kemerahan, hingga breakout akibat skin barrier yang rusak.

Memasuki tahun 2026, tren skincare lebih menekankan pada barrier repair dibanding over-exfoliation. Eksfoliasi tetap penting, tetapi dilakukan secukupnya—biasanya 1–2 kali seminggu, tergantung kondisi kulit. Kesadaran akan pentingnya microbiome kulit dan keseimbangan alami juga membuat orang lebih berhati-hati dalam memilih produk eksfoliasi.

3. Skincare dengan Kandungan Aktif Super Tinggi

freepik.com

Pernah ada masa di mana produk dengan persentase tinggi—seperti retinol dosis maksimal atau acid berkadar tinggi—dianggap lebih ampuh dan lebih menarik. Kini, pendekatan tersebut mulai ditinggalkan. Banyak brand dan dermatolog menekankan bahwa efektivitas tidak selalu berbanding lurus dengan kadar tinggi.

Di tahun 2026, konsumen lebih memilih formula yang stabil, lembut, dan diformulasikan dengan teknologi enkapsulasi atau slow-release agar minim iritasi. Tujuannya untuk memberikan hasil optimal tanpa mengorbankan kesehatan kulit jangka panjang.

4. DIY Skincare

freepik.com/jnemchinova

Masker kopi, lemon langsung ke wajah, hingga campuran baking soda sempat viral karena dianggap natural dan murah. Namun seiring meningkatnya edukasi tentang pH kulit dan potensi iritasi, tren DIY skincare mulai meredup.

Bahan alami memang terdengar menarik, tetapi tidak semua aman digunakan langsung tanpa formulasi yang tepat. Lemon, misalnya, memiliki pH sangat rendah yang bisa mengganggu keseimbangan kulit.

Di tahun 2026, konsumen lebih mempercayakan perawatan kulit pada produk yang sudah melalui uji dermatologis dan formulasi ilmiah, meskipun tetap mengusung konsep natural.

5. Glass Skin yang Terlalu Basah

freepik.com/benzoix

Tren glass skin—kulit super glowing, mengilap, dan tampak seperti kaca—pernah mendominasi media sosial. Banyak orang berlomba-lomba menciptakan efek dewy ekstrem dengan layering hydrating products secara berlebihan.

Namun kini, definisi kulit sehat mulai bergeser. Alih-alih tampilan terlalu mengkilap, orang lebih menyukai healthy glow yang natural dan realistis. Makeup artist dan skincare enthusiast pun lebih fokus pada tekstur kulit yang sehat, pori-pori terawat, serta kilau yang seimbang—bukan hasil yang terlihat berat atau overly glazed.

Tren bisa menjadi inspirasi, tetapi bukan patokan utama. Yang paling penting adalah mengenali jenis kulit, memahami reaksi kulit terhadap suatu bahan, dan memilih produk berdasarkan kebutuhan, bukan viralitas. Kalau kamu pernah coba tren skincare yang mana, Bela?

Editorial Team