Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Cosmeticorexia? Obsesi agar Punya Kulit Sempurna

Apa Itu Cosmeticorexia? Obsesi agar Punya Kulit Sempurna
pexels.com/Polina Tankilevitch
Intinya Sih
  • Cosmeticorexia adalah kondisi obsesi berlebihan terhadap kulit sempurna yang membuat seseorang, termasuk anak-anak, memakai skincare atau kosmetik secara berlebihan dan tidak sesuai usia.

  • Fenomena ini dipicu oleh tren kecantikan digital serta paparan media sosial dan influencer yang menanamkan standar penampilan ideal hingga mendorong anak membandingkan diri dengan orang lain.

  • Dampaknya bisa mengalami iritasi kulit akibat bahan aktif seperti retinol serta gangguan psikologis seperti kecemasan dan rendah diri, sehingga penting bagi orang tua memberi edukasi dan pendampingan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tak hanya perempuan dewasa yang ingin mendapatkan kulit flawless tanpa cela, kini anak-anak pun terobsesi dengan kulit mulus. Alhasil, banyak dari mereka yang mulai menggunakan produk skincare atau kosmetik walaupun belum sesuai dengan umurnya.

Kondisi itulah yang kemudian disebut dengan cosmeticorexia. Sayangnya, penggunaan yang tidak tepat bisa memunculkan berbagai masalah kulit, apalagi kulit anak-anak cenderung cukup sensitif. Nah, supaya lebih jelas, yuk simak penjelasan apa itu cosmeticorexia dan dampaknya di bawah ini.

1. Apa itu cosmeticorexia?

apa itu cosmeticorexia
pexels.com/Kampus Production

Menurut Jurnal Dermatology and Therapy, cosmeticorexia atau dermorexia adalah situasi di mana seseorang memiliki obsesi berlebihan untuk mendapatkan kulit yang dianggap sempurna. Kondisi ini membuat seseorang menggunakan produk skincare atau kosmetik secara berlebihan, bahkan tidak sesuai dengan usia atau kebutuhannya.

Adapun ciri-ciri dari cosmeticorexia antara lain menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk perawatan kulit, merasa cemas jika rutinitas skincare terlewat, hingga menjadikan skincare sebagai cara mengelola emosi.

Kebiasaan itu bisa terus berlanjut meskipun sudah menimbulkan iritasi kulit, membebani keuangan, atau tekanan psikososial. Sebab, hal ini dipicu oleh tren media sosial, influencer, dan kebiasaan membandingkan penampilan dengan orang lain.

2. Penyebab fenomena cosmeticorexia

ilustrasi seorang influencer melakukan live streaming menggunakan ponsel
pexels.com/Hanna Pad

Cosmeticorexia umumnya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya saja, anak perempuan yang terlalu fokus pada penampilan atau kerap memeriksa kondisi kulit di cermin berulang kali justru lebih rentan mengalami fenomena ini.

Perkembangan tren kecantikan di era digital juga menjadi salah satu pemicunya. Perawatan kulit yang awalnya merupakan pilihan, kini dianggap sebagai rutinitas yang wajib dilakukan untuk mendapatkan penampilan ideal.

Selain itu, paparan media sosial dan konten dari influencer membuat anak lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, konten rutinitas kecantikan pun seakan terlihat seperti standar yang harus diikuti oleh banyak orang.

3. Dampak fenomena cosmeticorexia

apa itu cosmeticorexia
pexels.com/AI25.Studio Studio

Fenomena cosmeticorexia tidak hanya memengaruhi kondisi psikologis anak, tetapi juga bisa merusak kesehatan kulit, lho. Penggunaan skincare tanpa pengawasan, terutama produk dengan bahan aktif yang tidak sesuai usia berisiko menyebabkan kulit iritasi hingga dermatitis kontak.

Salah satu bahan yang mendapat perhatian adalah retinol. Bahan ini biasanya ditujukan untuk kulit dewasa sehingga pada kulit anak yang masih sensitif justru dapat merusak lapisan pelindung kulit dan memicu kemerahan, ruam, serta kulit menjadi lebih sensitif.

Dari sisi mental, cosmeticorexia bisa membuat anak terus membandingkan penampilannya dengan orang lain di media sosial sehingga memicu rasa cemas dan tidak percaya diri. Bahkan, di beberapa kasus, kondisi tersebut juga dikaitkan dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD), yakni gangguan yang membuat seseorang terus-menerus merasa tidak puas dengan penampilannya.

4. Cara mencegah terjadinya cosmeticorexia pada anak

apa itu cosmeticorexia
pexels.com/Vitaly Gariev

Sebagai orang tua, sudah menjadi hal wajib untuk selalu memperhatikan apa yang dilakukan oleh anak. Sebelum terkena pengaruh cosmeticorexia yang lebih jauh, berikut beberapa cara yang perlu dilakukan:

  • Edukasi anak tentang fungsi skincare yang sebenarnya
    Ajarkan anak bahwa skincare digunakan untuk menjaga kesehatan kulit, bukan untuk mengejar standar kecantikan tertentu. Jelaskan pula jika produk-produk yang ada harus digunakan sesuai dengan usia dan kebutuhan kulit.
  • Batasi paparan konten kecantikan di media sosial
    Dampingi anak saat menggunakan media sosial dan ajak mereka berpikir kritis terhadap konten dari influencer atau iklan skincare, ya. Kamu juga bisa menjelaskan jika tidak semua rutinitas kecantikan yang viral itu cocok atau diperlukan oleh semua orang.
  • Bangun rasa percaya diri anak di luar penampilan
    Dorong anak untuk menghargai diri sendiri lewat kemampuan, prestasi, atau lainnya, bukan hanya penampilan fisik. Dukungan dari orang tua bisa membantu anak punya citra diri yang lebih positif dan terhindar dari obsesi terhadap kulit sempurna.

Itu dia penjelasan seputar apa itu cosmeticorexia, penyebab, dampak, dan cara mencegahnya. Jangan sampai terjebak pada standar kecantikan yang dibentuk media sosial, ya!

FAQ seputar cosmeticorexia

Apa itu cosmeticorexia?

Cosmeticorexia adalah istilah untuk menggambarkan obsesi berlebihan terhadap skincare dan penampilan kulit, terutama pada anak serta remaja.

Apa penyebab utama cosmeticorexia?

Pengaruh media sosial, tren skincare, dan tekanan untuk memiliki kulit yang dianggap sempurna.

Bagaimana cara mencegah cosmeticorexia pada anak?

Orang tua perlu membatasi paparan konten kecantikan di media sosial, mengajarkan konsep body positivity, serta memastikan anak hanya menggunakan produk perawatan kulit sesuai usia dan kebutuhan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More