Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Kontroversi Skin Booster dari 'Kulit Mayat' Viral di Korea, Ini Faktanya!

4 min read
Kontroversi Skin Booster dari 'Kulit Mayat' Viral di Korea, Ini Faktanya!
Medical Zone
  • Skin booster ECM di Korea Selatan memakai matriks dermis donor meninggal yang telah dihilangkan selnya, bukan kulit jenazah utuh yang langsung disuntikkan.

  • Material jaringan manusia untuk produk ini diimpor, sementara teknologi acellular dermal matrix sebelumnya digunakan dalam rekonstruksi medis dan kini meluas ke prosedur estetika.

  • Studi awal pada 20 peserta menunjukkan perbaikan kulit, tetapi keamanan jangka panjang masih perlu dikaji; pemerintah membahas regulasi, etika persetujuan donor, dan komersialisasi jaringan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perawatan kecantikan berbahan jaringan manusia tengah menjadi sorotan di Korea Selatan setelah skin booster berbasis extracellular matrix (ECM) ramai diperbincangkan. Bahan perawatan ini berasal dari jaringan dermis manusia yang didonasikan setelah kematian, lalu diproses untuk menghilangkan sel sebelum digunakan dalam prosedur estetika.

Isu tersebut kembali ramai pada April 2026 setelah penggunaan jaringan manusia untuk kecantikan dibahas dalam forum Majelis Nasional Korea Selatan, terutama terkait keamanan, regulasi, dan etika. Lantas, apakah benar skin booster ini menggunakan “kulit mayat” secara langsung? Yuk, simak tujuh fakta mengenai ECM skin booster yang sedang menjadi kontroversi di Korea Selatan, Bela!

  1. 1. Bukan kulit mayat utuh yang langsung disuntikkan

    Kontroversi Skin Booster dari Mayat
    OCME

    Istilah “skin booster dari mayat” memang terdengar cukup mengejutkan. Namun, secara medis, material yang digunakan bukanlah potongan kulit jenazah dalam kondisi utuh yang kemudian langsung disuntikkan ke wajah.

    Jaringan dermis dari donor telah melalui proses deselularisasi, yaitu penghilangan sel dan komponen tertentu yang berpotensi memicu respons imun. Setelah diproses, material tersebut dikenal sebagai human acellular dermal matrix (hADM).

    Dengan kata lain, yang digunakan adalah matriks jaringan manusia yang telah diproses, bukan kulit jenazah dalam bentuk aslinya.

  2. 2. Bahannya berasal dari jaringan donor yang telah meninggal

    Kontroversi Skin Booster dari Mayat
    Research Gate

    ECM skin booster memanfaatkan jaringan dermis manusia dari donor yang telah meninggal. Jaringan tersebut kemudian diproses untuk mempertahankan struktur matriks ekstraseluler atau ECM yang menjadi bagian penting dari jaringan kulit.

    Pada prosesnya, komponen seluler donor dihilangkan. Tujuannya antara lain mengurangi kemungkinan tubuh penerima mengenali material tersebut sebagai jaringan asing dan memicu respons imun.

    Karena itulah, proses pengolahan menjadi bagian penting dalam teknologi ini, bukan sekadar asal-usul jaringan donornya.

  3. 3. Jaringan yang digunakan di Korea Selatan merupakan bahan impor

    Kontroversi Skin Booster dari Mayat
    DW.com

    Meski perawatannya tengah menjadi perbincangan di Korea Selatan, jaringan manusia yang digunakan untuk produk ECM skin booster tersebut bukan berasal dari donor domestik Korea Selatan.

    Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan menyatakan bahwa material jaringan manusia yang digunakan saat ini diimpor dari luar negeri. Informasi ini menjadi salah satu fakta penting di tengah munculnya anggapan bahwa produk tersebut dibuat dari jasad warga Korea yang didonasikan untuk kebutuhan kecantikan.

    Salah satu produk yang menjadi sorotan adalah Elravie Re2O, yang dikembangkan oleh L&C Bio dan diperkenalkan di Korea Selatan pada 2024.

  4. 4. Teknologinya sebenarnya sudah digunakan dalam dunia medis

    Kontroversi Skin Booster dari Mayat
    Research Gate

    Penggunaan jaringan manusia yang telah diproses bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia kedokteran. Acellular dermal matrix telah digunakan dalam berbagai kebutuhan rekonstruksi jaringan, termasuk untuk penanganan luka bakar dan prosedur rekonstruktif tertentu.

    Yang membuatnya menjadi kontroversi sekarang adalah pergeseran penggunaannya ke industri estetika. Material yang sebelumnya dikenal dalam konteks membantu pasien dengan kerusakan jaringan kini digunakan dalam prosedur yang bertujuan memperbaiki kondisi dan tampilan kulit.

    Perubahan konteks inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan mengenai batas penggunaan jaringan donor.

  5. 5. Penelitian awal menunjukkan hasil positif, tetapi masih kecil

    Kontroversi Skin Booster dari Mayat
    OCME

    Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Molecular Sciences pada 2026 menguji particulated human acellular dermal matrix (phADM) untuk perawatan kulit wajah.

    Penelitian tersebut melibatkan 20 orang dan membandingkan penggunaan phADM dengan asam hialuronat pada sisi wajah yang berbeda. Peserta kemudian dipantau selama 20 minggu.

    Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan pada beberapa parameter kulit, termasuk kepadatan, elastisitas, hidrasi, ukuran pori, dan kerutan. Namun, jumlah partisipannya masih sedikit dan masa pengamatannya relatif singkat sehingga penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui efektivitas serta keamanan jangka panjangnya.

  6. 6. Kontroversinya bukan cuma soal keamanan, tetapi juga etika

    Kontroversi Skin Booster dari Mayat
    Medical Zone

    Penggunaan jaringan manusia untuk kecantikan memunculkan pertanyaan mengenai persetujuan donor. Salah satu persoalan yang dibahas adalah apakah persetujuan seseorang untuk mendonasikan jaringan semasa hidup juga mencakup penggunaan jaringan tersebut untuk prosedur estetika yang bersifat komersial.

    Ada pula kekhawatiran bahwa komersialisasi jaringan manusia dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sistem donasi tubuh dan jaringan.

    Survei yang dilakukan Profesor Lee Dong-han dari Sookmyung Women's University terhadap 1.034 orang dewasa menemukan bahwa 60,9 persen responden mendukung pelarangan atau pembatasan ketat penggunaan jaringan manusia untuk tujuan estetika.

  7. 7. Korea Selatan sedang mempertimbangkan aturan yang lebih jelas

    Kontroversi Skin Booster dari Mayat
    DW.com

    Perkembangan ECM skin booster juga membuat pemerintah Korea Selatan menghadapi pertanyaan mengenai bagaimana produk tersebut seharusnya diawasi.

    Dalam forum Majelis Nasional pada 16 April 2026, para ahli dan pejabat membahas penggunaan jaringan manusia untuk kebutuhan medis maupun komersial. Salah satu persoalan yang disoroti adalah perbedaan kerangka pengawasan jaringan manusia dengan obat atau perangkat medis konvensional.

    Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan menyatakan akan berhati-hati dalam menentukan cakupan regulasi agar penggunaan jaringan manusia untuk terapi medis yang sah tidak ikut terdampak. Sementara itu, Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan Korea Selatan atau MFDS tengah mengkaji langkah terkait pemasaran prosedur berbasis jaringan manusia untuk tujuan kosmetik.

    Istilah “skin booster dari mayat” memang terdengar ekstrem, tetapi material yang digunakan merupakan jaringan dermis manusia yang telah diproses dan dihilangkan selnya. Di balik tren ini, masih ada pembahasan mengenai keamanan jangka panjang, persetujuan donor, komersialisasi jaringan manusia, dan batas penggunaannya dalam industri kecantikan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More