Berdampak Pada Kehidupan Sosial, Ini yang akan Kamu Alami Jika Kurang Tidur

Berapa lama waktu tidur yang kamu miliki sekarang, Bela? Jika dipikirkan baik-baik, rasanya lebih sebentar ketimbang saat kamu kecil dulu. Pengurangan ini cukup wajar terjadi karena seirin bertambahnya usia, waktu istirahatmu pun berkurang. Namun, bukan berarti tidur hanya sebentar atau nggak sama sekali itu diperbolehkan lho. Kamu tetap harus beristirahat dengan cukup karena tubuhmu membutuhkannya. Kalau nggak, ada banyak gangguan yang kamu rasakan, baik secara fisik maupun mental.
Kurang tidur nggak hanya memunculkan kantong mata yang menghitam dan ketergantungan pada kafein. Melansir dari Bustle, beberapa penelitian menunjukkan kalau kurang tidur dapat berdampak pada terganggunya kehidupan sosialmu!

Para peneliti melakukan dua eksperimen untuk menyelidiki hubungan antara kurang istirahat dan isolasi sosial. Hasil pengamatan yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature mengungkapkan kalau seseorang akan mengalami penolakan aktivitas sosial yang kuat dalam otaknya ketika kekurangan tidur. Juga, mereka akan menunjukkan sikap seakan ruang pribadinya diserang atau merasa sedang terancam.

Pada eksperimen kedua, peneliti menemukan kalau mereka yang berada dalam kondisi kurang tidur dinilai sebagai orang yang kesepian dan kurang diinginkan oleh lingkungan sosialnya. Hasil ini didapatkan dari 1,000 partisipan yang terlibat dalam uji coba dan saling menilai satu sama lain ketika saling berinteraksi. Kemudian, partisipan ini diminta untuk mengukur sendiri tingkat isolasi sosialnya setelah ditunjukkan video interaksinya. Hasilnya? Mereka semakin merasa ingin mengasingkan diri.

Penulis penelitian Matthew Walker, profesor Psikologi dan ilmu saraf menyimpulkan kalau kurang waktu tidur memiliki dampak yang cukup serius pada kehidupan sosial. "Semakin kurang waktu tidur yang seseorang miliki, semakin malas keinginan untuk melakukan interaksi sosial. Sebagai balasannya, orang lain akan melihat dirinya sebagai pribadi yang malas bersosialisasi. Lebih jauh lagi, kurang tidur akan meningkatkan isolasi sosial," tuturnya yang juga penulis buku Why We Sleep.

Pada tahun 2017, peneliti dari Marche Polytechnic University di Itallia menyimpulkan kalau dampak serius dari kurang tidur dapat membuat otak 'memakan organnya sendiri'. Secara ilmiah, yang dimaksud adalah sel glial, termasuk astrocyte (yang bertugas menghancurkan 'sinapses nggak diperlukan' dalam otak) dan sel microglial (yang membuang sel rusak), akan jadi lebih aktif ketika seseorang kurang tidur. "Jumlah sinapses dalam otak benar-benar dimakan oleh astrocytes karena kurang tidur," ujar penulis penelitian Michelle Bellesi.

Dalam jangka pendek, aktivitas otak ini terdengar cukup menguntungkan karena astrocytes dan microglial bekerja aktif menghancurkan sinapses yang memiliki potensi berbahaya dan membangun sirkuit yang telah terpakai dapat melindungi koneksi otak yang sehat. Namun dalam jangka panjang, peningkatan aktivitas microglial dapat memicu penyakit degeneratif saraf, termasuk penyakit Alzheimer.

Selain berdampak buruk pada kehidupan sosial dan kesehatan otak, berbagai penelitian juga menemukan kalau kurang tidur dapat meningkatkan risiko kesehatan organ tubuh. Mulai dari gangguan jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Overall, kurang tidur cukup berbahaya, Bela.

Terkadang, mengorbankan waktu tidur bukan menjadi keinginan, melainkan sebuah keharusan karena tuntutan rutinitas. Jika seperti itu, National Health Service (NHS) dari Inggris menyarankan agar kamu dapat membayar waktu istirahatmu yang terpotong, misalnya menambah jam tidur di akhir pekan. Juga, hindari kafein sepanjang hari dan berusaha mengikuti jadwal tidur yang sama setiap harinya. Kalau mengalami insomnia yang cukup buruk, coba berkonsultasi dengan ahli kesehatan.
Yuk, mulai tidur secara teratur agar kesehatan tubuh dan kehidupan sosialmu terjaga dengan baik, Bela!



















