Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Sumatera, Papua, dan Kalimantan kembali menjadi perhatian. Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 27 Oktober 2026, penanganan karhutla masih berlangsung di tujuh provinsi prioritas, termasuk Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Menghirup Asap Karhutla?

Asap karhutla di wilayah terdampak mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan, memicu mata berair, batuk, tenggorokan gatal, hidung meler, hingga sakit kepala.
Partikel halus PM2.5 dapat mencapai paru-paru, menyebabkan peradangan, batuk berkepanjangan, napas berbunyi, sesak, serta berisiko mengganggu jantung dan pembuluh darah.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung atau paru, dan pekerja luar ruangan lebih rentan; pantau kualitas udara, batasi aktivitas luar, gunakan N95, dan kurangi asap di rumah.
Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, kebakaran ini juga menghasilkan asap yang dapat mencemari udara dan mengancam kesehatan masyarakat di wilayah terdampak. Dampaknya pun beragam, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pada sistem pernapasan dan jantung. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saat menghirup asap kebakaran hutan?
Table of Content
1. Mata dan Saluran Pernapasan Mengalami Iritasi

magnific.com/benzoix Dampak yang paling cepat dirasakan setelah menghirup asap karhutla adalah iritasi pada mata dan saluran pernapasan. Asap mengandung campuran gas dan partikel yang dapat mengganggu jaringan sensitif pada mata, hidung, dan tenggorokan.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami mata perih dan berair, hidung meler, tenggorokan gatal, batuk, hingga sakit kepala. Gejala yang muncul dapat berbeda-beda, tergantung konsentrasi asap, durasi paparan, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Meski keluhannya bisa mereda setelah menjauh dari sumber asap, paparan dengan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan gejala yang lebih serius. Karena itu, penting untuk segera mengurangi paparan ketika udara mulai dipenuhi asap.
2. Partikel Halus Bisa Masuk hingga ke Paru-Paru

magnific.com/benzoix Asap kebakaran hutan mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yaitu partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru.
Partikel halus dapat memicu peradangan dan memperburuk fungsi pernapasan. Dampaknya bisa berupa batuk berkepanjangan, napas berbunyi, hingga sesak napas, terutama pada orang yang sensitif terhadap polusi udara.
Paparan PM2.5 juga dikaitkan dengan gangguan kardiovaskular. Artinya, bahaya asap karhutla tidak hanya berkaitan dengan kesehatan paru-paru, tetapi juga dapat memengaruhi jantung dan pembuluh darah.
3. Asap Bisa Memicu Serangan Asma

magnific.com/diana.grytsu Bagi penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap karhutla dapat memperburuk gejala yang sudah ada. Zat iritan di dalam asap bisa menyebabkan saluran udara meradang dan menyempit, sehingga proses bernapas terasa lebih sulit.
Gejalanya dapat berupa batuk yang semakin sering, dada terasa berat, napas berbunyi, hingga sesak napas. Pada kondisi tertentu, paparan asap dapat memicu serangan asma yang membutuhkan penanganan medis.
Namun, dampak ini tidak hanya dialami oleh orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Orang sehat juga bisa mengalami gangguan pernapasan ketika terpapar asap dalam konsentrasi tinggi.
4. Kesehatan Jantung Juga Bisa Terdampak

magnific.com/jcomp Selain paru-paru, sistem kardiovaskular juga berisiko mengalami dampak akibat paparan asap kebakaran hutan. Partikel halus dapat memicu respons peradangan dan memengaruhi fungsi pembuluh darah.
Paparan polusi partikel dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan jantung, termasuk memburuknya penyakit jantung yang sudah dimiliki seseorang. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai adalah jantung berdebar, nyeri dada, dan sesak napas.
Risiko ini perlu mendapat perhatian khusus pada lansia serta orang yang memiliki penyakit jantung. Jika muncul nyeri dada atau kesulitan bernapas yang berat, segera cari pertolongan medis.
5. Paparan Berulang Perlu Diwaspadai

magnific.com/jcomp Dampak asap kebakaran hutan bergantung pada konsentrasi polutan, durasi paparan, dan kondisi kesehatan individu. Paparan jangka pendek dapat memicu keluhan pernapasan maupun gangguan kesehatan lainnya, sedangkan paparan berulang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap. Orang yang bekerja di luar ruangan juga berisiko mengalami paparan lebih tinggi karena berada lebih lama di lingkungan yang tercemar.
Untuk mengurangi risiko, pantau informasi kualitas udara dan batasi aktivitas di luar ruangan ketika polusi meningkat. Jika harus keluar, gunakan respirator partikulat seperti N95 yang terpasang rapat di wajah. Masker kain dan masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus dalam asap.
Saat berada di dalam rumah, tutup pintu dan jendela ketika asap masuk dari luar, serta gunakan pembersih udara dengan filter HEPA jika tersedia. Jika kondisi udara di dalam rumah tetap buruk, pertimbangkan mencari tempat yang memiliki udara lebih bersih.
Karhutla bukan hanya persoalan kerusakan lingkungan, tetapi juga ancaman bagi kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga masalah pada paru-paru dan sistem kardiovaskular. Stay safe, Bela!























