Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perbedaan Validasi dan Menyetujui, Jangan Sampai Keliru!
magnific.com/magnific
  • Validasi emosional berarti mendengarkan dan memahami perasaan seseorang tanpa harus menyetujui pandangan, kesimpulan, atau tindakannya.
  • Pencarian validasi dapat menjadi ketergantungan emosional ketika seseorang membutuhkan persetujuan orang lain untuk mengatur emosi, mengambil keputusan, atau merasa aman.
  • Validasi tidak membenarkan kesalahan; praktiknya melibatkan mendengarkan, mengakui dampak tindakan, serta membangun self-validation agar dukungan orang lain tidak menjadi satu-satunya sumber rasa aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam sebuah hubungan, setiap orang tentu ingin merasa didengar, dipahami, dan dihargai. Namun, memahami perasaan seseorang bukan berarti harus selalu setuju dengan pendapat atau tindakannya. Kemampuan untuk mengakui dan memahami emosi inilah yang disebut sebagai validasi emosional atau emotional validation.

Lalu, apa itu emotional validation dalam hubungan, bagaimana cara menerapkannya, dan apakah memvalidasi perasaan berarti harus selalu menyetujui seseorang? Penting untuk memahami terlebih dahulu perbedaan antara validasi dan menyetujui sebagai berikut.

1. Apa perbedaan validasi dan menyetujui?

ilustrasi mendapatkan validasi dari pasangan (pexels.com/Yasmin Luisa Krug)

Perbedaan validasi dan menyetujui terlihat dari cara kita merespons perasaan orang lain. Validasi tidak berarti kita harus memiliki pandangan yang sama atau menyetujui kesimpulan mereka. Kamu tetap bisa berbeda pendapat sambil mengakui bahwa perasaan mereka tetap valid, misalnya dengan mengatakan, “Aku mungkin melihatnya berbeda, tapi aku mengerti kenapa kamu merasa terluka.”

Sebaliknya, seseorang bisa saja menyetujui pendapatmu tanpa benar-benar memahami perasaanmu. Karena itu, validasi bukan sekadar memberikan persetujuan atau mengatakan bahwa seseorang benar. Validasi berarti hadir, mendengarkan, dan berusaha memahami pengalaman emosional orang lain.

2. Ketika validasi berubah menjadi ketergantungan emosional

ilustrasi mendapatkan validasi dari pasangan (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk mendapatkan validasi. Pada dasarnya, setiap orang memang ingin merasa didengar dan dipahami. Namun, kalau kita mulai bergantung pada validasi orang lain untuk mengatur emosi atau menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri, hal ini bisa berubah menjadi ketergantungan emosional.

Contohnya, ketika kamu sulit mengambil keputusan tanpa meminta pendapat orang lain, terus-menerus butuh diyakinkan bahwa kamu tidak berlebihan. Dalam kondisi seperti ini, mencari validasi bukan lagi sekadar untuk merasa terhubung dengan orang lain, tapi untuk mendapatkan rasa aman. Karena itu, penting untuk membedakan antara ingin dipahami dan membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa kita benar.

3. Validasi bukan berarti membenarkan kesalahan

ilustrasi mendapatkan validasi dari pasangan (pexels.com/Mikhail Nilov)

Validasi bukan berarti membenarkan perilaku seseorang atau membuatnya terbebas dari tanggung jawab. Justru, dengan memahami perasaan di balik suatu tindakan, kita bisa lebih mudah membicarakan masalah dan mencari solusi.

Misalnya, mengakui bahwa seseorang bereaksi karena merasa takut bukan berarti membenarkan reaksinya. Validasi membantu kita memahami alasan di balik emosi tersebut, sehingga orang yang terlibat bisa lebih terbuka untuk bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahannya.

4. Self-validation: belajar memvalidasi diri sendiri

Ilustrasi tidak butuh validasi/pexels.com/Matthias Cooper

Pada akhirnya, bentuk validasi yang paling penting adalah validasi dari diri sendiri. Bukan sekadar mengatakan hal-hal positif, tapi mau mengakui dan memahami perasaan yang sedang kita alami.

Self-validation bukan berarti kamu tidak lagi peduli dengan pendapat orang lain. Namun, kamu tidak lagi bergantung pada respons mereka untuk merasa bahwa perasaanmu benar-benar valid. Dengan begitu, kamu tetap bisa mencari dukungan dari orang lain tanpa menjadikan validasi mereka sebagai satu-satunya sumber rasa aman.

5. Cara memberi validasi ke orang lain

iustrasi pasangan tipe validasi (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kalau ingin memberikan validasi kepada orang lain, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mendengarkan. Bukan langsung mencari solusi, membela diri, atau mengoreksi ceritanya. Cukup dengarkan dan coba pahami apa yang sedang mereka rasakan. Kamu juga bisa mengakui dampak dari ucapan atau tindakanmu meski sebenarnya tidak bermaksud menyakiti.

Validasi mungkin terasa sulit, terutama ketika kamu sendiri sedang terbawa emosi. Namun, jika dilakukan dengan tulus, validasi membuat seseorang merasa lebih aman untuk terbuka, membantu memperbaiki konflik, dan membuat hubungan tetap terasa dekat meski sedang menghadapi masalah.

Memahami perbedaan validasi dan menyetujui penting agar kita tidak keliru dalam merespons perasaan orang lain. Validasi berarti memahami perasaan seseorang tanpa harus selalu setuju dengan pendapat atau tindakannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article