Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Lyfe With Less, Gerakan yang Ajak Masyarakat Bijak Berkonsumsi
Popbela.com/David Andrew
  • Lyfe With Less bermula dari akun Instagram Cynthia Suci Lestari yang membagikan pengalaman mengurangi barang dan mengubah kebiasaan konsumsi.

  • Bijak berkonsumsi bukan berarti berhenti belanja, melainkan mempertimbangkan kebutuhan dan menghindari pembelian impulsif.

  • Gerakan ini mendorong masyarakat memilih, menggunakan, dan merawat barang secara lebih sadar serta bertanggung jawab.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2017–2018

Cynthia mulai mengunggah pengalaman pribadinya dalam mengurangi barang dan mengubah kebiasaan konsumsi melalui Instagram.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lyfe With Less mengajak masyarakat melihat kembali kebiasaan konsumsi dan membuat keputusan yang lebih sadar serta bertanggung jawab.
  • Who?
    Cynthia Suci Lestari, Founder Lyfe With Less, membagikan pengalaman dan pandangannya tentang bijak berkonsumsi.
  • Where?
    Lyfe With Less awalnya dibagikan melalui akun Instagram Cynthia dan berkembang menjadi ruang berbagi.
  • When?
    Sekitar tahun 2017–2018, Cynthia mulai mengunggah pengalaman pribadinya dalam mengurangi barang dan mengubah kebiasaan konsumsi.
  • Why?
    Karena kebiasaan membeli secara impulsif dapat membuat barang serupa terus menumpuk meski belum tentu digunakan.
  • How?
    Dengan membagikan pengalaman, menggunakan produk sampai habis, mempertimbangkan kebutuhan, serta memilih opsi seperti produk lokal, barang preloved, menyewa, atau meminjam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cynthia membuat Lyfe With Less untuk bercerita tentang memakai barang sampai habis dan membeli dengan lebih hati-hati. Banyak orang ikut belajar, termasuk orang yang akhirnya berani melepaskan barang lama agar bisa dipakai orang lain. Sekarang, gerakan ini mengajak orang memilih barang sesuai kebutuhan, bukan hanya karena sedang tren.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lyfe With Less menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan konsumsi dapat dimulai dari langkah kecil dan tidak harus melalui gaya hidup yang ekstrem. Pengalaman Cynthia dan cerita orang-orang yang mengikutinya memperlihatkan adanya ruang untuk memilih, menggunakan, merawat, atau merelakan barang secara lebih sadar sesuai kebutuhan, kondisi, dan tanggung jawab masing-masing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah tren belanja yang terus berganti dan rekomendasi produk yang bermunculan di media sosial, menahan diri untuk tidak membeli sesuatu terkadang terasa sulit. Apalagi, ketika barang yang awalnya tidak kita butuhkan tiba-tiba terlihat menarik setelah melihat orang lain memilikinya. Tanpa sadar, kebiasaan tersebut bisa membuat kita terus membeli barang baru, meski barang serupa masih menumpuk di rumah.

Berangkat dari pengalaman pribadi menghadapi kebiasaan konsumtif, Cynthia Suci Lestari mulai membagikan proses belajarnya untuk hidup dengan lebih sadar melalui Lyfe With Less. Awalnya hanya berupa akun Instagram untuk berbagi pengalaman, kini Lyfe With Less menjadi ruang yang mengajak masyarakat melihat kembali kebiasaan konsumsi mereka.

Popbela berkesempatan bertemu dan mengobrol langsung dengan Cynthia Suci Lestari, Founder Lyfe With Less, untuk membahas perjalanan komunitas tersebut, kesalahpahaman yang masih sering muncul tentang bijak berkonsumsi, hingga cerita dari orang-orang yang merasakan manfaatnya. 

Berawal dari Akun Instagram untuk Berbagi Pengalaman

Popbela.com/David Andrew

Sebelum dikenal melalui Lyfe With Less, Cynthia sebenarnya sudah memiliki ketertarikan pada kegiatan menulis dan blogging. Namun, pekerjaannya di agensi periklanan membuatnya kesulitan meluangkan waktu untuk menulis artikel panjang. Ia kemudian memilih Instagram sebagai media untuk berbagi karena formatnya terasa lebih praktis.

Sekitar tahun 2017–2018, Cynthia mulai mengunggah pengalaman pribadinya dalam mengurangi barang dan mengubah kebiasaan konsumsi. Ia tidak memiliki rencana besar untuk membangun komunitas atau menjadikan akun tersebut sebagai gerakan yang dikenal banyak orang. Saat itu, ia hanya ingin berbagi hal-hal yang sedang dipelajarinya tanpa harus menampilkan identitas pribadi.

“Dari awal aku nggak seniat itu mau membangun komunitas ini besar. Cuma pengen sharing aja,” cerita Cynthia kepada Popbela.

Salah satu konten awalnya membahas kebiasaan membeli sepatu tanpa membawa pulang kotaknya agar tidak menambah tumpukan barang. Ia juga membagikan pengalamannya mengurangi penggunaan kapas dengan beralih ke cleansing balm, serta mencoba menggunakan produk skincare dan makeup sampai habis sebelum membeli yang baru.

Alih-alih sekadar membagikan teori, Cynthia memilih menceritakan proses yang benar-benar ia jalani. Ia bahkan membuat kampanye menggunakan produk sampai habis sebagai pengingat untuk dirinya sendiri agar tidak terus membeli skincare atau makeup baru ketika produk yang dimiliki masih bisa digunakan.

Ternyata, pengalaman tersebut juga dirasakan oleh banyak orang. Semakin banyak orang yang merasa terhubung dengan ceritanya dan mulai membagikan pengalaman mereka sendiri. Dari akun yang awalnya menjadi ruang belajar pribadi, Lyfe With Less perlahan berkembang menjadi wadah untuk berbagi dan mengajak lebih banyak orang mempertimbangkan kebiasaan konsumsinya.

Bijak Berkonsumsi Bukan Berarti Tidak Boleh Belanja

Popbela.com/David Andrew

Salah satu kesalahpahaman yang paling sering ditemui Cynthia adalah anggapan bahwa bijak berkonsumsi berarti tidak boleh membeli barang baru sama sekali. Padahal, menurutnya, konsumsi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang tidak bisa sepenuhnya dihindari.

“Sebenernya nggak ada yang salah sama konsumsi. Kita pasti akan berkonsumsi. Orang minimalis pun pasti akan berkonsumsi juga,” jelas Cynthia.

Masalahnya bukan terletak pada aktivitas membeli itu sendiri, melainkan ketika seseorang terus terdorong untuk membeli sesuatu secara impulsif tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.

Misalnya, ketika melihat produk yang sedang tren di TikTok, kita langsung tertarik dan memasukkannya ke keranjang belanja. Ada pula kebiasaan membeli sesuatu hanya karena terlihat lucu, sedang diskon, atau banyak digunakan orang lain. Padahal, setelah memilikinya, belum tentu barang tersebut benar-benar digunakan.

Menurut Cynthia, perubahan tidak harus dimulai dengan berhenti belanja secara total. Kita bisa memulainya dengan menetapkan tujuan sederhana, seperti mengurangi jumlah barang yang dibeli atau memilih produk dengan lebih cermat.

“Yang jadi masalah itu adalah ketika kita kejebak overconsumerism. Misalnya, pokoknya di TikTok (Shop) ini murah, ada barang apa, langsung checkout,” tuturnya.

Ia mencontohkan kebiasaan membeli pakaian untuk momen tertentu, seperti Hari Raya. Daripada membeli pakaian yang hanya digunakan sekali untuk kebutuhan foto keluarga, kita bisa mempertimbangkan pakaian yang juga dapat dikenakan kembali untuk bekerja atau menghadiri acara lain.

Begitu pula ketika ingin membeli barang baru. Pilihan yang lebih baik tidak selalu berarti harus membeli produk dengan harga mahal. Kita bisa mempertimbangkan produk lokal, mencari barang preloved, atau memilih alternatif lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan nilai yang kita pegang.

Dengan begitu, bijak berkonsumsi bukan tentang membuat diri sendiri merasa bersalah setiap kali berbelanja, melainkan belajar mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Ketika Merelakan Barang Justru Menjadi Bentuk Kepedulian

Popbela.com/David Andrew

Selama membangun Lyfe With Less, Cynthia menerima banyak cerita dari orang-orang yang merasa terbantu oleh konten dan edukasi yang dibagikannya. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika seorang follower menghubunginya melalui pesan langsung dan berterima kasih karena akhirnya berani mengeluarkan barang-barang peninggalan orang tuanya yang telah meninggal.

Selama ini, orang tersebut menyimpan barang-barang itu karena merasa sayang untuk melepaskannya. Ada ikatan emosional yang membuatnya sulit menentukan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap barang-barang tersebut.

Namun, setelah mengikuti Lyfe With Less, ia mulai mengevaluasi pemahamannya tentang kepemilikan. Ia menyadari bahwa menyayangi seseorang tidak selalu berarti harus menyimpan semua barang peninggalannya selamanya.

Cynthia menceritakan bahwa salah satu hal yang ingin dibagikan melalui Lyfe With Less adalah sudut pandang berbeda tentang barang yang sudah tidak digunakan.

“Dulu kan mikirnya sayang itu harus disimpan. Tapi kita juga mengajak orang berpikir, kalau barang itu nggak kepakai, mungkin kita bisa membiarkan barang itu dipakai orang lain,” ungkapnya.

Dengan merelakannya, barang tersebut bisa kembali dipakai, dirawat, dan memiliki fungsi baru. Pemahaman ini membantu orang tersebut merasa lebih lega ketika akhirnya melepaskan barang-barang yang memang sudah tidak digunakan.

Cerita serupa juga datang dari orang-orang yang mulai mengubah kebiasaan belanja mereka. Ada yang sebelumnya terbiasa membeli baju setiap bulan, kemudian mulai membatasi pembelian pada momen tertentu. Ada pula yang mulai mempertimbangkan barang preloved, menyewa, atau meminjam sebelum memutuskan untuk membeli sesuatu yang baru.

Bagi Cynthia, perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang bisa memulai perjalanan bijak berkonsumsi dari titik yang berbeda. Tidak harus langsung mengubah seluruh gaya hidup, karena kebiasaan kecil yang dilakukan secara bertahap pun bisa menjadi awal yang berarti.

Belajar Memilih, Bukan Sekadar Mengurangi

Popbela.com/David Andrew

Melalui Lyfe With Less, Cynthia ingin mengajak masyarakat memahami bahwa bijak berkonsumsi tidak harus disertai label tertentu. Seseorang tidak perlu mengidentifikasi dirinya sebagai seorang minimalis atau menjalani gaya hidup yang dianggap ekstrem untuk mulai membuat keputusan konsumsi yang lebih baik.

Setiap orang memiliki kebutuhan, kondisi finansial, kebiasaan, dan fase kehidupan yang berbeda. Karena itu, cara seseorang menerapkan prinsip bijak berkonsumsi pun bisa berbeda-beda.

Bagi Cynthia, hal terpenting adalah memahami bahwa keputusan konsumsi bukan sekadar transaksi jual beli, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran dan tanggung jawab.

“Ketika kita berkonsumsi, bukan sekadar tindakan jual beli. Ada bagian dari kesadaran dan tanggung jawab juga,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kesadaran tersebut perlu hadir sebelum, selama, dan setelah kita mengonsumsi sesuatu. Artinya, kita tidak hanya mempertimbangkan alasan membeli barang, tetapi juga memikirkan bagaimana barang itu akan digunakan dan dirawat setelah menjadi milik kita.

Pertanyaan sederhana seperti apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah akan digunakan dalam jangka panjang, atau adakah pilihan lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan dapat membantu kita mengambil jarak dari dorongan sesaat.

Lyfe With Less mengajak kita untuk tidak hanya memikirkan apa yang ingin dimiliki, tetapi juga bagaimana barang tersebut akan digunakan dan dirawat setelah dibeli. Sebab, memiliki uang untuk membeli sesuatu tidak selalu berarti kita harus memilikinya.

Lewat gerakan ini, Cynthia berharap semakin banyak orang dapat membangun hubungan yang lebih sadar dengan barang dan kebiasaan konsumsinya. Bukan untuk membatasi diri dari hal-hal yang disukai, melainkan agar setiap keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan tanggung jawab masing-masing.

Curated For You

Editorial Team

Related Article