Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Jolene Marie dan Seni Menjalani Banyak Peran dalam Satu Kehidupan

Jolene Marie dan Seni Menjalani Banyak Peran dalam Satu Kehidupan
Popbela.com/David Andrew
  • Jolene Marie menjalani peran sebagai aktris, penyanyi, entrepreneur, dan aktivis tanpa memilih satu identitas tunggal.
  • Puteri Indonesia 2019 menjadi titik balik Jolene untuk menghadapi rasa tidak percaya diri dan memperluas perspektifnya.
  • Jolene memaknai kesuksesan melalui dampak bagi orang lain, sambil belajar menjaga batas diri dan menerima hasil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pagi itu, sebuah coffee shop di bilangan Jakarta Selatan menjadi tempat Popbela berbincang dengan Jolene Marie. Suasananya santai, tetapi energi Jolene terasa begitu hidup. Ia murah senyum, mudah tertawa, dan sesekali melontarkan candaan kecil di tengah percakapan. Ada kesan ringan yang langsung terasa, meski obrolan pagi itu perlahan membawa kami pada cerita-cerita yang lebih dalam tentang perjalanan hidup, karier, hingga cara Jolene memandang dirinya sendiri hari ini.

Sebelum percakapan dimulai, Jolene datang membawa bukan satu, melainkan dua benda yang dianggapnya merepresentasikan perjalanan hidupnya. "Aku anaknya ekstra," ujarnya sambil tertawa.

Salah satunya adalah sebuah notebook yang dulu selalu dibawanya ke mana-mana. Kini, benda tersebut telah berganti menjadi tablet, tetapi kebiasaannya tidak berubah: menulis segala sesuatu yang ada di kepalanya. Mulai dari ide, pemikiran, hingga rencana untuk yayasan yang sedang ia kerjakan. Bagi Jolene, menulis adalah cara untuk menangkap berbagai hal yang mungkin tidak akan ia ingat jika dibiarkan begitu saja.

Menariknya, kebiasaan tersebut juga menjadi pintu masuk untuk memahami sosok Jolene Marie hari ini. Ia adalah seseorang yang hidup dengan banyak peran, mulai dari aktris, penyanyi, entrepreneur, hingga aktivis. Namun, ketika diminta memilih satu identitas yang paling menggambarkan dirinya, Jolene justru tidak bisa menjawabnya dengan satu kata.

"Aku nggak bisa pilih salah satu, karena semua yang tadi disebutin itu yang menciptakan Jolene Marie today," ucapnya.

Baginya, berbagai peran tersebut bukanlah identitas yang berdiri sendiri, melainkan bagian-bagian yang membentuk dirinya sekarang.

Dan mungkin, di situlah menariknya perjalanan Jolene. Ia tidak sedang berusaha menemukan satu label untuk menetap di dalamnya. Sebaliknya, ia terus membuka ruang untuk mencoba, belajar, dan tumbuh ke arah yang baru.

  1. Dari Rasa Tak Percaya Diri hingga Menemukan Keberanian

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Jika melihat sosok Jolene hari ini, cukup mudah membayangkan bahwa berada di depan kamera merupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian alami dari hidupnya. Namun, ternyata tidak selalu demikian.

    Pemilik nama lengkap Jolene Marie Cholock-Rotinsulu ini mengaku dirinya merupakan sosok yang introvert dan dulu tidak terlalu percaya diri tampil di depan kamera. Sebelum mengikuti Puteri Indonesia 2019, aktivitasnya lebih banyak berkaitan dengan pekerjaan kantoran, meski ia juga sudah sempat terlibat dalam modeling, acting, serta beberapa project lainnya.

    Keputusan mengikuti Puteri Indonesia, yang awalnya datang dari dorongan keluarga, akhirnya menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hidupnya. Bukan semata karena gelar yang kemudian ia dapatkan sebagai Puteri Indonesia Lingkungan 2019, tetapi karena pengalaman tersebut membuat perspektifnya terhadap dunia menjadi jauh lebih luas.

    "Mungkin aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menghadapi ketakutan terdalamku," cerita Jolene.

    Pengalaman itu membawanya bertemu lebih banyak orang, pergi ke berbagai daerah di Indonesia, hingga menjalankan tugas ke luar negeri. Setelah masa jabatannya selesai, perempuan kelahiran 15 Mei 1996 itu kemudian kembali menekuni dunia hiburan.

    Kini, akting menjadi salah satu ruang terbesar bagi Jolene untuk terus berkembang. Tantangan yang ia rasakan pun bukan lagi sekadar soal berada di depan kamera, melainkan bagaimana benar-benar memahami karakter, mendalami script, serta membangun chemistry dengan lawan main.

    Bahkan, ada satu mimpi yang masih ingin ia wujudkan: bermain dalam film bergenre action.

    "Harapannya dengan aku mengatakan ini, semesta akan mendengar dan memberikan aku project tersebut," tutur Jolene antusias.

    Manifesting at its finest, katanya sambil tertawa.

  2. Membawa Indonesia ke Panggung Dunia

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Tahun 2026 ini, sebuah pengalaman baru kembali hadir dalam perjalanan karier Jolene ketika ia menghadiri Cannes Film Festival sekaligus membawa budaya Indonesia lewat busana yang dikenakannya di panggung internasional.

    Salah satu yang menjadi highlight adalah kebaya rancangan Intan Avantie yang diberi nama Kusuma Wijaya. Bukan sekadar busana, kebaya tersebut memiliki makna yang begitu dalam karena terinspirasi dari bunga yang tumbuh di area Keraton Surakarta dan memiliki simbol kemenangan, kewibawaan, serta kebijaksanaan. Jolene juga membawa sentuhan budaya Indonesia lainnya melalui gaun yang dipadukan dengan songket Palembang.

    Bagi Jolene, pengalaman tersebut bukan hanya sebuah pencapaian personal. Ada rasa bangga karena ia bisa membawa identitas Indonesia dalam sebuah kesempatan internasional.

    Namun, ia juga sudah membayangkan langkah berikutnya.

    "Next time ketika aku tampil di sana, aku bukan hanya menghadiri world premiere, tapi aku menghadiri world premiere of my own baby atau my own karya, movie," ungkap Jolene.

    Sebuah harapan yang ia sampaikan sambil kembali melakukan apa yang tampaknya sudah menjadi kebiasaannya: manifesting.

  3. Ternyata, Musik Sudah Lebih Dulu Hadir

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Sebelum dikenal lewat dunia akting, Jolene ternyata telah lebih dulu menulis lagu.

    Ia bercerita bahwa dirinya sempat menulis lagu menggunakan nama alias, sehingga ada beberapa karya yang mungkin tidak diketahui publik sebagai hasil tulisannya. Baginya, menulis lagu juga menjadi ruang untuk menuangkan berbagai cerita, tidak hanya pengalaman pribadi, tetapi juga pengalaman orang-orang di sekitarnya hingga fenomena sosial yang ia amati.

    Mungkin itu pula yang menjelaskan mengapa perjalanan kreatif Jolene tidak pernah benar-benar berjalan dalam satu garis lurus. Ada akting, musik, aktivitas sosial, bisnis, dan berbagai hal lain yang terus ia eksplorasi.

    Lantas, bagaimana ia tahu kapan waktunya mencoba sesuatu yang baru?

    Jawabannya sederhana: God instinct.

    Jolene tidak selalu memiliki perencanaan yang sangat detail tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Menurutnya, seseorang perlu mempersiapkan diri agar ketika dorongan untuk mencoba sesuatu yang baru datang, ia sudah siap untuk melompat ke dalamnya.

  4. Tentang Ambisi: Bekerja Keras, Tanpa Harus Mengontrol Segalanya

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Menariknya, Jolene justru tidak terlalu nyaman menggunakan kata ambisi untuk menggambarkan dirinya.

    Baginya, ambisi terdengar seperti keharusan untuk mencapai sesuatu dengan segala cara. Sementara dirinya lebih merasa sebagai seseorang yang akan memberikan usaha terbaik ketika menginginkan sesuatu, lalu belajar menerima jika hasil akhirnya ternyata tidak sesuai dengan rencana.

    "I'm just doing my best and let God do the rest," tuturnya.

    Cara pandang itu juga membuat Jolene belajar melepaskan kebiasaan untuk mengontrol segala sesuatu. Dulu, ia mengaku cukup micromanage. Kini, ia justru sedang belajar mendelegasikan pekerjaan, memercayai orang lain, dan tidak selalu merasa harus melakukan semuanya sendiri.

    Ada satu hal lain yang menjadi alasan mengapa Jolene terus mendorong dirinya melakukan berbagai hal. Ia ingin menunjukkan kepada perempuan lain bahwa tidak seharusnya ada batasan yang datang hanya karena seseorang adalah perempuan.

    "Jangan sampai ada orang yang bilang bahwa kamu tidak bisa melakukannya hanya karena kamu seorang wanita," tegas Jolene.

    Baginya, keberanian untuk mencoba berbagai hal juga merupakan caranya memberikan contoh kepada perempuan lain bahwa mereka berhak menentukan apa yang ingin dilakukan dalam hidupnya.

  5. Menjadi Perempuan di Tengah Perubahan Generasi

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Sebagai seseorang yang berada di persimpangan generasi Millennial dan Gen Z, Jolene juga punya pandangan menarik tentang bagaimana generasi yang berbeda melihat kehidupan dan kesuksesan.

    Ia merasa lebih dekat dengan Millennial, tetapi melihat ada perbedaan yang cukup jelas dari Gen Z yang ia amati. Menurut Jolene, Gen Z cenderung lebih memperhatikan well-being dan kesehatan mental, sementara generasinya lebih terbiasa dengan pola "harus diselesaikan sampai tuntas".

    Namun, perbedaan tersebut tidak membuatnya melihat salah satunya sebagai generasi yang lebih baik. Justru, ada sesuatu yang bisa dipelajari dari masing-masing cara pandang.

    Bagi Jolene sendiri, kesuksesan pun tidak lagi semata-mata diukur dari pencapaian finansial. Ia lebih tertarik pada seberapa besar sesuatu yang ia kerjakan bisa memberikan dampak bagi orang lain.

    "Cara aku memandang kesuksesan adalah ketika apa yang aku kerjakan itu bisa memiliki impact buat orang lain," pungkasnya.

    Dampak tersebut, menurutnya, tidak harus selalu berbentuk uang. Membagikan ilmu, membantu orang lain, atau melakukan sesuatu yang membawa perubahan pun merupakan bentuk keberhasilan.

  6. Prinsip Hidup yang Membawanya Sampai Hari Ini

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Ketika ditanya tentang prinsip hidup, Jolene mengingat sebuah filosofi yang berasal dari Sam Ratulangi:

    "Manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain."

    Dalam bahasa Inggris, ia menerjemahkannya sebagai "we live so that other people can live."

    Prinsip tersebut kemudian menjadi fondasi dari cara Jolene melihat pekerjaan dan kehidupannya. Apa pun yang dilakukan, ia ingin sesuatu tersebut bisa memberikan dampak bagi orang lain.

    Namun, seiring bertambahnya usia, prinsip tersebut mendapatkan satu lapisan baru. Ia ingin menjadi seseorang yang cerdik seperti ular, tetapi tulus seperti merpati.

    Menurutnya, menjadi pintar saja tidak cukup jika seseorang lupa untuk tetap tulus kepada orang lain. Sebaliknya, menjadi terlalu baik tanpa memiliki batas juga bisa membuat seseorang membiarkan orang lain melanggar batas dirinya.

    "Kita harus cerdik seperti ular, tapi kita juga harus tulus seperti merpati," ucapnya.

    Mungkin, kalimat tersebut menjadi salah satu gambaran paling tepat tentang fase hidup Jolene sekarang: tetap terbuka dan peduli, tetapi juga semakin memahami pentingnya batas diri.

  7. Di Balik Kesibukan, Ada Jolene yang Sederhana

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Di tengah berbagai pekerjaan, project, dan perjalanan, cara Jolene melakukan recharge ternyata jauh dari kata rumit.

    Ia cukup pulang ke rumah, bermain bersama anjingnya, berjalan santai di taman, atau membaca buku. Baginya, yang terpenting adalah memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

    "Aku butuh zen time, aku butuh me time."

    Sesekali, ia juga memilih pergi hiking, naik gunung, atau ke pantai.

    Sementara itu, berbagai hobinya juga memiliki cerita masing-masing. Berkuda, misalnya, bukan hanya menjadi aktivitas yang ia sukai. Jolene merasa kuda merupakan hewan yang sangat sensitif terhadap energi manusia. Ia bahkan pernah mengalami momen ketika kudanya menolak melakukan jumping saat dirinya sedang berada dalam kondisi emosional yang kurang baik.

    Golf menjadi perpaduan antara hobi dan pekerjaan karena Jolene juga memiliki bisnis di bidang sustainable golf attire. Sedangkan menembak membantunya melatih fokus karena mengharuskannya berkonsentrasi pada satu target.

    Dan untuk urusan beauty secret, jawabannya justru sangat sederhana: tidur.

    Jolene mengaku membutuhkan setidaknya delapan jam tidur agar mood-nya tetap baik. Ditambah dengan cukup minum air putih, dua hal tersebut menjadi rutinitas sederhana yang ia anggap penting untuk menjaga tubuh.

  8. Tidak Takut Bermimpi, Tidak Takut Gagal

    Jolene Marie
    Popbela.com/David Andrew

    Jolene mungkin belum mau membocorkan seperti apa kehidupan yang ia bayangkan sepuluh tahun mendatang. Ia bahkan mengaku sudah tahu apa yang ingin dilakukannya, tetapi memilih menyimpannya untuk diri sendiri karena tidak ingin "jinx" rencana tersebut.

    Namun, ada satu hal yang dengan yakin ingin ia bagikan kepada perempuan lain.

    "Jangan pernah takut bermimpi dan jangan pernah takut gagal," tegas Jolene.

    Menurut Puteri Indonesia Lingkungan 2019 ini, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, kegagalan menjadi bagian dari proses belajar yang membuat seseorang semakin dekat dengan apa yang ingin dicapai.

    Ketika kemudian diminta melengkapi kalimat tentang kecantikan dan kesuksesan, jawabannya pun tidak berbicara soal penampilan ataupun pencapaian.

    Cantik, baginya, adalah ketika seseorang mampu memberikan dampak bagi orang lain dan dunia sosial. Sementara sukses adalah ketika apa yang dilakukan bisa membuat seseorang berguna bagi orang lain.

    Dan mungkin, jawaban terakhirnya menjadi penutup yang paling menggambarkan sosok Jolene hari ini.

    "Kita boleh baik sama orang lain. Tapi kita tidak boleh melupakan boundary sendiri kita," tutupnya.

    Sebuah pengingat bahwa bertumbuh bukan hanya tentang berani mengambil lebih banyak kesempatan, mengejar lebih banyak mimpi, atau membuka chapter baru. Terkadang, bertumbuh juga berarti belajar mengenali diri sendiri, tahu kapan harus melangkah, kapan harus melepaskan kontrol, dan kapan harus berkata cukup.

    Karena pada akhirnya, menjadi Jolene Marie hari ini bukan tentang memilih satu title untuk mendefinisikan dirinya. Melainkan tentang memberi ruang bagi setiap pengalaman untuk membentuk siapa dirinya berikutnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More