Sebagai generasi millennial, mungkin kita pernah mendengar istilah dijodohkan, yaitu ketika seorang perempuan dan laki-laki dipertemukan dan dinikahkan oleh keluarga mereka. Ide dijodohkan seringkali membuat dahi sebagian anak muda berkerut karena dianggap sudah bukan zamannya lagi pendamping hidup seseorang dipilih bukan berdasarkan keinginannya. Namun, faktanya, fenomena pernikahan yang ada di sekitar kita nggak hanya tentang itu.

Novel ‘Pengantin Pesanan’ dan Fenomena Pernikahan di SingkawangPopbela.com/Mega Dini

Penulis novel bernama Mya Ye baru saja meluncurkan bukunya yang kesembilan yang diberi judul Pengantin Pesanan pada Kamis (15/11) kemarin. Berbeda dengan peluncuran buku biasanya, acara bertajuk Bincang Buku Bersama Wakil Rakyat ini merupakan hasil kerja sama antara penerbit Gramedia dan Perpustakaan Setjen MPR. Peluncuran buku yang diselenggarakan di Aula Perpustakaan MPR-RI ini juga dihadiri oleh Wakil Ketua MPR RI, Dr. Mahyuni ST. MM., dan Walikota Singkawang periode 2007-2012, Dr. Hasan Karman, SH, MM.

Seperti judulnya, novel yang terinspirasi dari fenomena sosial yang terjadi di daerah Singkawang, Kalimantan Barat. Sejak beberapa puluh tahun lalu, sebuah hal yang biasa jika perempuan yang lahir dan tinggal di Singkawang menikah dengan laki-laki warga negara asing yang mayoritas berasal dari Taiwan. Dalam novel setebal 336 halaman ini dijelaskan proses bagaimana mereka bertemu. Laki-laki asal Taiwan yang nggak bisa menikahi perempuan Taiwan minta untuk dicarikan calon istri yang berasal dari berbagai wilayah, seperti Vietnam dan Indonesia (Singkawang) kepada perantaranya. Para laki-laki ini juga memiliki kriteria sendiri dalam memilih calon istri, misal seperti memiliki shio yang sesuai dengan shionya, rajin bersih-bersih dan jago memasak, penurut dan bisa merawat mertuanya nanti. Tentu, laki-laki tersebut juga perlu menyediakan imbalan jika ia berhasil mendapatkan calon istri. Dari sinilah istilah ‘pengantin pesanan’ lahir.

Novel ‘Pengantin Pesanan’ dan Fenomena Pernikahan di SingkawangPopbela.com/Mega Dini

Perempuan Singkawang yang mengalami kesulitan ekonomi mau nggak mau menikah dengan laki-laki Taiwan yang nggak dikenalnya itu dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, ia nggak tahu bagaimana kondisi finansial dan sikap laki-laki yang menjadi suaminya. Biasanya, setelah menikah, maka istri wajib ikut ke negara asal suaminya dan meninggalkan keluarga serta anaknya (jika sebelumnya sudah pernah menikah dan memiliki anak). Masalah demi masalah muncul, mulai dari menerima perlakuan nggak menyenangkan dari suami dan mertua hingga sulit pulang ke Tanah Air untuk bertemu keluarga.

Mya Ye yang melakukan riset sejak tahun 2011 juga mendengar langsung pengalaman narasumber yang pernah mengalami fenomena ini. Meski bukan merupakan hal baru, namun dengan adanya novel ini, Mya Ye berharap masyarakat kembali teringat dengan isu sosial yang ada di dekat kita. Kehadiran novel ini juga ditanggapi baik oleh Hasan selaku Walikota Singkawang 2007-2012. Namun, dirinya kurang setuju jika fenomena ini mendapat istilah pengantin pesanan. Baginya, pernikahan antara perempuan Singkawang dan warga Taiwan adalah pernikahan antarnegara.

Novel ‘Pengantin Pesanan’ dan Fenomena Pernikahan di SingkawangPopbela.com/Grace Kelly

Hasan menyebutkan bahwa istilah pengantin pesanan ini sebenarnya sudah ada lebih dulu, namun dikenal dengan nama brides on sale atau mail-order brides. Bahkan, hal ini nggak hanya dialami oleh kaum perempuan, tapi juga laki-laki sehingga muncul mail-order husbands meski jumlahnya nggak banyak. Ada beberapa stigma yang ditujukan pada sang pengantin, salah satunya bahwa mereka dianggap nggak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi karena menikah dengan laki-laki asing dan meninggalkan Indonesia. Ada juga stigma yang lebih kejam seperti menjual diri, murahan, materialistis hingga disamakan dengan human trafficking.

Buku ini memang mengundang pertanyaan dan perdebatan beberapa pihak. Di satu sisi, perlakuan nggak menyenangkan yang terjadi juga bisa dialami siapa saja, bahkan mereka yang menikah dengan satu bangsa atau satu suku. Di sisi lain, pernikahan seperti ini juga membuat sebagian orang penasaran tentang legalitas pernikahan mereka. Novel Pengantin Pesanan ini bisa kamu peroleh di toko-toko buku Gramedia terdekat.

Baca Juga: 5 Buku Novel Memoar Ini Adaptasi dari Sejarah di Indonesia