Berhubungan intim menjadi salah satu aktivitas penting yang dilakukan pasangan suami istri. Hubungan ranjang memiliki banyak mafaat, selain dapat meningkatkan keintiman diantar pasangan, berhubungan seksual juga baik bagi kesehatan. Lantas bagaimana dengan kehidupan seksual suami istri ketika memasuki bulan Ramadan?

Saat bulan Ramadan, umat Islam diseluruh dunia diwajibkan untuk berpuasa. Puasa sendiri berasal dari kata saum, yang artinya menahan diri. Setiap orang yang menjalankannya wajib menahan lapar, haus, dan tidak berhubungan badan sejak waktu subuh hingga tiba waktu maghrib.

Bagaimana jika pasangan suami-istri yang melakukan hubungan intim pada malam hari masih dalam kondisi belum mandi junub hingga azan subuh berkumandang? Apakah puasanya batal, ataukah tetap sah?

Jika itu yang terjadi, sudahkah kamu tahu bagaimana hukumnya? Untuk dapat mengetahuinya, Popbela telah merangkumya untuk kamu. Mari simak ulasan tentang hukum puasa setelah berhubungan intim berikut ini.

Hukum berpuasa setelah berhubungan intim

Hukum Berpuasa Setelah Berhubungan Intim dan Tata Cara Mandi Junubunsplash.com/Womanizer WOW Tech

Menurut hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menceritakan pengalaman Rasulullah SAW mengenai hubungan intim dan juga puasa. Dalam hadis dijelaskan bahwa puasa setelah berhubungan intim adalah sesuatu yang dibolehkan.

Selain itu, Imam Muslim dalam riwayat dari Ummu Salamah RA menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak meng-qadha puasanya saat itu. Sejumlah ulama pun telah berfatwa bahwa hadas atau keadaan tidak suci pada diri seorang Muslim menyebabkan ia tidak boleh untuk salat dan melakukan banyak ibadah lain kecuali puasa.

Jadi, orang yang belum mandi junub diperbolehkan makan sahur terlebih dahulu. Baru ketika memasuki waktu subuh, mereka mandi, dan salat Subuh. Dengan begitu ibadah puasa masih sah dilakukan. Tetapi sebaiknya orang yang junub segera melakukan mandi wajib agar dapat menjalani ibadah puasa seharian dalam keadaan suci dari hadas besar.

Waktu yang diperbolehkan melakukan hubungan intim saat bulan puasa

Hukum Berpuasa Setelah Berhubungan Intim dan Tata Cara Mandi Junubunsplash.com/wevibe

Seseorang yang hendak melakukan puasa baik saat Ramadan atau di waktu lain seperti saat melakukan puasa sunah, terdapat waktu-waktu tertentu untuk melakukan hubungan intim agar tidak membatalkan puasanya.

Waktu-waktu yang dianjurkan melakukan hubungan intim diantaranya adalah setelah berbuka puasa, setelah sholat tarawih, sebelum qiyaamul-layl atau sholat tahajud biasanya dilakukan sekitar pukul 00.00-04.00, atau saat setelah Qiyaamul-layl yaitu pasangan dapat melakukan hubungan intim. Pasangan bisa sekaligus mempersiapkan makan sahur bersama. Seseorang bisa memilih untuk mandi wajib atau sahur dahulu, tergantung keinginannya.

Mandi wajib atau sahur dulu?

Hukum Berpuasa Setelah Berhubungan Intim dan Tata Cara Mandi Junubfreepik.com/valuavitaly

Ketika ada kondisi di mana orang dalam keadaan junub bangun tidur dan haru memilih antara mandi wajib atau sahur, lantas apa yang harus dilakukan? Dari apa yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa mandi wajib tidak harus dilakukan sebelum subuh. Diperbolehkan mandi wajib setelah tiba waktu subuh dan puasanya tetap sah.

Berbeda dengan sahur, batas berakhirnya waktu sahur adalah ketika adzan subuh. Seseorang tidak diperbolehkan untuk sahur setelah masuk waktu subuh. Mempertimbangkan hal tersebut, seseorang memungkinkan untuk menunda mandi wajib dan tidak mungkin menunda sahur. Karena itu, yang mungkin dilakukan adalah mendahulukan sahur dan menunda mandi wajib.

Cara mandi wajib agar puasa tetap sah

Hukum Berpuasa Setelah Berhubungan Intim dan Tata Cara Mandi Junubunsplash.com/Skyler King

Cara mandi wajib di bulan Ramadan sama seperti mandi wajib pada umumnya. Mandi wajib bertujuan untuk menghilangkan hadas besar. Mandi wajib harus dilakukan dengan baik dan benar serta berurutan agar ibadah yang dijalankan tidak sia-sia. Berikut adalah cara mandi junub setelah melakukan hubungan intim di bulan Ramadan beserta niatnya:

1. Niat mandi junub

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari fardhon lillaahi ta'aala Artinya: “Saya niat mandi untuk menghilangkan hadas besar karena Allah”.

2. Mencuci kedua telapak tangan dengan memasukan jari-jari ke dalam air.

3. Membasuh kemaluan

4. Berwudhu

5. Siramkan air ke seluruh badan, dimulai dari bagian kanan, lalu kiri dengan membaca niat

6. Gosok seluruh tubuh sebanyak 3 kali, baik depan maupun belakang

6. Memastikan semua anggota tubuh terbasahi dan tersiram oleh air

Mandi wajib diharuskan bagi umat islam setelah berhubungan badan atau bagi perempuan yang menyelesaikan masa haidnya. Jangan meremehkan perkara ini, ya, Bela. Kesucian perlu untuk diperhatikan, agar ibadah di bulan Ramadan emnjadi sempurna.

Semoga artikel ini menjawab pertanyaan kamu seputar, bolehkah berpuasa setelah berhubungan intim?

Baca Juga: Pacaran di Bulan Ramadan Batalkan Puasa? Ini Penjelasannya dalam Islam

Baca Juga: 7 Keuntungan Buka Puasa di Rumah Bersama Keluarga

Baca Juga: Apakah Mencium Istri di Siang Hari Membatalkan Puasa? Ini Jawabannya