“Kamu kuliah lagi ya, biar bisa ngajar di kampus!”

“Ujung gamismu kotor! Ayo segera ganti!”

“Masaknya kok kayak gini sih? Bawangnya kebanyakan!”

Semua kalimat itu dengan redaksi serupa sering meluncur dari bibirmu. Mama, kau bagaikan sang ratu yang harus dituruti perintahnya. Aku bisa apa ketika masih menumpang di rumah orangtuaku? Berbagai permintaan melontar bagai peluru yang membuatku kepalaku berputar-putar. Bibirku mengerucut Ma, kaki ini ingin berlari menjauhimu.

1. Selama ini aku terus berusaha, Ma

Maafkan Aku, Ma, Ternyata Kau Menyayangiku dengan Caramu SendiriPexels.com/Bruce Mars

Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu Mama ingin aku bisa membereskan pekerjaan rumah dengan sempurna, sambil bekerja, kuliah S2, sekaligus mengurus anakku yang sedang lincah-lincahnya. Bagaimana aku bisa melakukan semua ini? Mama ingin aku jadi ibu sempurna, sementara waktuku masih tersita untuk mengembangkan bisnis percetakan. Aku tahu, Ma, kau ingin mendorongku jadi wanita karier dan mengajar sepertimu. Namun, apa aku salah saat ingin jadi ibu rumah tangga sekaligus pengusaha, dan blogger juga?

2. Apa pencapaianku masih kurang untukmu?

Maafkan Aku, Ma, Ternyata Kau Menyayangiku dengan Caramu SendiriUnsplash.com/Tim Gouw

Masih kuingat dengan jelas ketika hampir setiap pagi Mama menerorku dengan permintaan untuk kuliah lagi. Apakah gelar sarjana tidak cukup untukmu? Bagaimana aku bisa berminat untuk belajar lagi, ketika kita mengobrol, Mama terus menyerocos tentang anaknya Tante A yang kuliah di Australia, atau putri Tante B yang sudah hampir selesai menyelesaikan tesisnya. Memangnya aku siapa? Anak kandung yang terus dibandingkan dengan anak orang lain, seolah-olah diri ini bodoh karena hanya kuliah S1.

Mengapa aku tidak bisa seperti anak lain yang dekat dengan ibunya? Mengapa seolah-olah Mama tidak menyayangiku? Ingatanku terlempar ke peristiwa beberapa tahun lalu. Saat ada di puncak amarah, aku minggat, karena merasa Mama tidak empati sama sekali. Ma, kau datang dengan setumpuk berkas harus kuterjemahkan, sementara suasana hatiku sedang kacau balau setelah ditinggalkan oleh mantan pacarku.

3. Ku tersadar akan cinta yang selama ini kau beri

Maafkan Aku, Ma, Ternyata Kau Menyayangiku dengan Caramu SendiriUnsplash.com/Thought Catalog

Apakah Mama tahu, aku ingin jadi ibu rumah tangga dan bekerja dari rumah, karena tidak ingin anakku ‘kehilangan’ sosok ibunya. Dengan mengasuhnya sendiri, aku bisa melihat tumbuh kembangnya setiap hari. Putraku tak akan mengalami kejadian buruk sepertiku dulu.

Pintu yang terbuka itu memang harus ditutup, seperti luka hati yang wajib disembuhkan. Ma, setelah punya rezeki dan pindah ke rumah sendiri, aku bisa berpikir jernih dan merenung. Saat jarak membentang, aku baru menyadari mengapa kau begitu gigih merayuku untuk jadi wanita karier. Istri memang tidak wajib bekerja, tapi ternyata memegang uang dari hasil keringat sendiri itu nikmat rasanya. Saat percetakanku kolaps, penghasilanku sebagai penulis konten dan freelancer bisa menutupinya.

4. Masih adakah maaf untukku, Ma?

Maafkan Aku, Ma, Ternyata Kau Menyayangiku dengan Caramu SendiriUnsplash.com/Ben White

Masa lalu hanya masa lalu. Kugunting tali pengikat trauma dengan hati-hati. Aku tahu, Mama rajin bekerja karena ingin semua anaknya bisa makan enak. Ma, kau selalu mendorong kami untuk kuliah lagi, karena ilmu adalah warisan yang tidak bisa dicuri.

Maafkan aku Ma, karena salah mengartikan semua perintahmu. Di balik kalimat-kalimat itu, ada kasih sayang yang besar, ada kecemasan seorang ibu yang memikirkan masa depan anaknya. Mama selalu ingin aku jadi orang yang sukses.

Sekali lagi maafkan aku, Ma! Kutulis surat ini dengan laptop pemberianmu. Hadiah ulang tahunku 20 bulan yang lalu. Mama ternyata tahu apa yang kubutuhkan, lalu merancang rencana untuk masa depanku. Saat tahu aku tak berminat untuk jadi abdi negara, kau akhirnya merestuiku untuk menggapai asa di bidang lain. 

5. Kuharap kau mendengar harapanku lewat tulisan ini

Maafkan Aku, Ma, Ternyata Kau Menyayangiku dengan Caramu SendiriUnsplash.com/Anthony Tran

Tolong berikan aku sebuah maaf karena telah keras kepala demi mengejar cita-cita menjadi penulis. Aku ingin terus merangkai indahnya kata, seperti Papa yang dulu pernah jadi kuli tinta. Ilmu bisa disebar melalui tulisan, tak hanya lewat cara mengajar di sekolah atau kampus.

Semoga air mata yang keluar saat menulis kalimat-kalimat ini bisa menghapus dendam dan amarah. Kuharap jarak dan waktu bisa memperbaiki hubungan kita. Aku sayang Mama. 

Mau ikut kompetisi menulis artikel surat terbuka dan dimuat di Popbela seperti ini? Baca ketentuannya di bawah ini.

Baca Juga: Ikut Kompetisi Menulis di Popbela, Bisa Dinner Gratis Bareng Pacar!