Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

The New Rules of Dating: Mengurai Seni Mencari Cinta di Era Modern

The New Rules of Dating: Mengurai Seni Mencari Cinta di Era Modern
Dok. Coffee Meets Bagel
  • Shn Juay menilai banyaknya pilihan di dating apps dapat membuat pengguna makin mencari kekurangan kecil pada profil.
  • Coffee Meets Bagel menyediakan sekitar 20 profil per hari dan fitur Topic Suggestions untuk membantu memulai percakapan.
  • Menurut Shn, teknologi dating perlu membantu koneksi yang bermakna tanpa menggantikan interaksi manusia dan kencan nyata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Menurutmu, dating apps sebaiknya memberi pilihan seperti apa?
Share Article

Pernah merasa sudah terlalu sering swipe, match dengan beberapa orang, lalu berakhir dengan percakapan yang cuma berhenti di “hai” dan “lagi apa”? Atau mungkin kamu punya daftar panjang tentang tipe pasangan ideal, tetapi semakin banyak kriteria yang dicari, justru semakin sulit menemukan seseorang yang benar-benar klik?

Dating di era sekarang memang menawarkan lebih banyak pilihan daripada sebelumnya. Kita bisa mengenal seseorang yang bahkan belum pernah ditemui sebelumnya hanya lewat layar ponsel. Namun, di tengah kemudahan tersebut, muncul pertanyaan lain: apakah semakin banyak pilihan benar-benar membuat kita lebih mudah menemukan pasangan?

Pertanyaan inilah yang kemudian Popbela bawa dalam perbincangan eksklusif bersama Shn Juay, CEO Coffee Meets Bagel Worldwide. Menurutnya, masa depan dating bukan sekadar tentang bagaimana teknologi bisa mempertemukan kita dengan lebih banyak orang, tetapi bagaimana teknologi tersebut bisa membantu kita membangun koneksi yang lebih bermakna.

Jadi, apakah masa depan dating akan dipenuhi AI, lebih sedikit swipe, atau justru lebih banyak intentional connection? Find out what Shn Juay has to say, Bela!

  1. Terlalu Banyak Pilihan Justru Bisa Bikin Kita Makin Picky

    Shn Juay
    Dok. Coffee Meets Bagel

    Di dating apps, menemukan orang baru sebenarnya bukan lagi perkara sulit. Dalam sekali duduk, kita bisa melihat puluhan profil dan punya kesempatan untuk match dengan orang yang bahkan belum pernah ditemui sebelumnya. Namun, menurut Shn Juay, banyaknya pilihan justru belum tentu membuat proses dating menjadi lebih mudah.

    “Memiliki lebih banyak pilihan tidak berarti selalu lebih baik,” ujar Shn kepada Popbela.

    Ia melihat, ketika seseorang terus melakukan swipe tanpa henti, lama-kelamaan kita justru mulai mencari-cari hal kecil yang membuat seseorang terlihat kurang menarik. Mulai dari cara berpakaian, gaya rambut, sampai latar belakang foto pun bisa menjadi alasan untuk langsung berpindah ke profil berikutnya.

    Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, apakah hal-hal tersebut benar-benar menentukan kecocokan seseorang dengan kita? Menurut Shn, kebiasaan terus mencari pilihan baru justru bisa membuat dating terasa seperti sedang memilih barang daripada mengenal manusia.

    Karena itu, Coffee Meets Bagel memilih pendekatan yang berbeda dengan memberikan sekitar 20 profil pilihan setiap hari. Dengan jumlah yang lebih terbatas, pengguna diharapkan bisa meluangkan waktu untuk benar-benar melihat dan mempertimbangkan setiap profil, alih-alih terus mencari “yang lebih baik” setelahnya.

    “Kalau pengguna masuk ke aplikasi, melihat profil yang tersedia, lalu keluar lagi dalam waktu sekitar 15 menit, itu sudah cukup. Dengan pilihan yang terbatas, mereka bisa menggunakan waktu tersebut dengan lebih bijak,” jelasnya.

    Mungkin memang sudah waktunya mengubah cara kita melihat dating apps. Bukan tentang berapa banyak profil yang berhasil kita swipe hari ini, tetapi apakah ada satu orang yang akhirnya ingin kita kenal lebih jauh.

  2. Gen Z Mulai Membawa Cara Pandang Baru soal Hubungan

    pexels-karola-g-6255981.jpg
    Pexels.com/Karola G

    Menariknya, perubahan cara orang berkencan juga tidak bisa dilepaskan dari generasi yang kini semakin banyak menggunakan dating apps. Menurut Shn, salah satunya adalah Gen Z.

    Jika satu dekade lalu dating apps banyak digunakan oleh generasi milenial dan sempat lekat dengan budaya casual dating atau hook-up, Shn melihat adanya pergeseran ketika Gen Z mulai menjadi salah satu pengguna utama platform dating.

    Menurutnya, pengalaman Gen Z tumbuh di tengah pandemi ikut membentuk cara mereka melihat kehidupan dan hubungan. Mereka melewati masa sekolah, kuliah, bahkan awal kehidupan sosial dalam kondisi yang sangat berbeda karena lockdown dan interaksi yang lebih banyak dilakukan secara virtual.

    “Menurut saya, Gen Z adalah generasi yang sangat pragmatis. Hal itu juga terlihat dari bagaimana mereka memandang dating,” kata Shn.

    Alih-alih sekadar mencari pengalaman baru, ia melihat banyak pengguna Gen Z yang datang ke CMB dengan tujuan yang lebih sejalan dengan konsep hubungan serius dan bermakna.

    Tentu saja, setiap orang punya tujuan dating yang berbeda. Namun, perubahan ini menunjukkan ketika generasi baru memasuki dunia dating, mereka juga membawa ekspektasi dan kebutuhan yang berbeda.

    Dan mungkin, masa depan dating memang akan semakin bergeser dari sekadar “siapa yang menarik perhatian?” menjadi “siapa yang benar-benar cocok untuk dikenali lebih jauh?”

  3. AI Akan Membantu Kita Berkencan, tapi Bukan Menggantikan Kita

    Coffee Meets Bagel
    Dok. Coffee Meets Bagel

    Kalau ada satu teknologi yang paling banyak mengubah kehidupan beberapa tahun terakhir, tentu saja Artificial Intelligence (AI) tidak bisa dilewatkan. Dunia dating pun ikut terkena dampaknya.

    Menurut Shn, lima tahun terakhir membawa perubahan cukup besar bagi dating apps. Salah satu tantangan yang masih sering ditemui adalah bagaimana memulai percakapan setelah match. Sudah membaca profilnya, sudah tertarik, tetapi ketika tiba waktunya mengirim pesan, yang keluar malah...

    “Hi.”

    Sounds familiar? We’ve all been there.

    Coffee Meets Bagel mencoba menjawab masalah tersebut melalui fitur Topic Suggestions, yang memberikan rekomendasi topik atau kalimat pembuka berdasarkan profil dan konteks percakapan pengguna.

    Namun, Shn menegaskan bahwa AI dalam dating apps seharusnya berfungsi sebagai bantuan, bukan mengambil alih percakapan.

    “Kami tidak pernah merancang fitur ini agar AI menggantikan kamu. Kami hanya memberikan beberapa rekomendasi topik atau kalimat pembuka untuk dipertimbangkan,” jelasnya.

    Bahkan, menurut Shn, sebagian besar pengguna tidak menggunakan saran tersebut mentah-mentah. Mereka menjadikannya inspirasi, kemudian mengubah kata-katanya sesuai gaya bicara masing-masing.

    Dan mungkin, di sinilah peran AI dalam dating apps akan menjadi semakin menarik. Teknologi bisa membantu ketika kita kehabisan ide atau merasa awkward untuk memulai percakapan. Namun, chemistry tetap membutuhkan dua manusia yang benar-benar hadir di dalamnya.

  4. Mungkin Sudah Waktunya Membuang Dating Checklist

    Shn Juay
    Dok. Coffee Meets Bagel

    “Harus tinggi.” “Punya pekerjaan mapan.” “Suka traveling.” “Nggak boleh terlalu cuek.” “Harus punya hobi yang sama.”

    Memiliki preferensi ketika mencari pasangan tentu sah-sah saja. Namun, menurut Shn, masalah bisa muncul ketika kita terlalu terpaku pada daftar kriteria sampai lupa bahwa pasangan bukanlah produk yang bisa dipilih berdasarkan spesifikasi.

    “Kalau mau membeli mobil atau rumah, kita memang bisa sangat spesifik. Saya mau sedan, saya mau mobil empat roda untuk off-road. Tapi memilih pasangan sama sekali tidak seperti itu,” tuturnya.

    Menurutnya, bahkan seseorang yang berhasil memenuhi seluruh kriteria dalam daftar kita belum tentu memiliki chemistry yang tepat. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang awalnya tidak terlihat seperti “tipe ideal” bisa saja justru menjadi orang yang paling cocok.

    “Jangan terlalu terpaku pada checklist. Jangan takut memberi kesempatan kepada seseorang hanya karena dia tidak memenuhi semua kriteria yang kamu punya,” ujar Shn.

    Nasihat tersebut terasa semakin relevan di tengah budaya kencan modern yang membuat kita bisa menilai seseorang hanya dalam hitungan detik. Ketika setiap profil terlihat seperti pilihan yang bisa langsung diterima atau ditolak, mungkin kita memang perlu sedikit lebih terbuka untuk melihat seseorang sebagai manusia utuh, bukan sekadar kumpulan kriteria.

    Sebab pada akhirnya, chemistry, nilai hidup, dan rasa nyaman tidak selalu bisa ditemukan lewat checklist.

  5. Jadi, Seperti Apa Masa Depan Dating?

    pexels-maksgelatin-9929137.jpg
    Pexels.com/Maksim Goncharenok

    Kalau ditarik benang merahnya, pandangan Shn soal masa depan dating sebenarnya cukup sederhana, yakni teknologi boleh semakin canggih, tetapi proses mengenal seseorang seharusnya tetap terasa manusiawi.

    Dating apps mungkin akan terus berkembang dengan bantuan AI, algoritma yang semakin pintar, hingga fitur yang membantu pengguna berpindah dari chat menuju pertemuan di dunia nyata. Namun, menurut Shn, teknologi seharusnya tidak membuat kita semakin lama berada di dalam aplikasi.

    Justru sebaliknya.

    “Kami ingin membantu para pengguna menjadi lebih baik dalam menjalani proses dating. Pada akhirnya, kamu perlu keluar dan bertemu dengan orang sungguhan serta menjalani kencan yang nyata,” jelasnya.

    Karena itu, ketika ditanya apa satu nasihat yang ingin ia berikan kepada orang-orang yang ingin mulai berkencan, jawabannya pun kembali pada hal yang paling mendasar, yakni menjadi diri sendiri.

    “Jadilah dirimu yang sebenarnya dan autentik. Jangan takut untuk menjadi vulnerable,” kata Shn.

    Mungkin, masa depan dating bukan tentang menemukan sebanyak mungkin orang yang bisa kita swipe right. Bukan pula tentang memiliki algoritma yang bisa menemukan pasangan sempurna untuk kita.

    Bisa jadi, masa depan dating justru tentang bagaimana kita belajar untuk memilih dengan lebih sadar, mengenal dengan lebih tulus, dan berani hadir sebagai diri sendiri.

    Teknologi mungkin bisa membantu kita menemukan seseorang. Tapi untuk benar-benar membangun hubungan dengannya? Well, that part is still up to us, Bela.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More