Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Tanda Pasangan Tidak Memvalidasi Perasaanmu, Merasa Diabaikan
magnific.com/DC Studio
  • Pasangan yang menyebutmu terlalu sensitif atau membandingkan masalahmu dengan orang lain dapat membuat perasaanmu terasa berlebihan dan tidak penting.
  • Respons berupa solusi instan tanpa mendengarkan, sikap defensif, atau mengalihkan percakapan emosional menunjukkan kurangnya upaya memahami perasaanmu.
  • Melabeli kebutuhan didengar, dukungan, kepastian, dan quality time sebagai terlalu bergantung dapat menandakan pola komunikasi yang tidak memvalidasi emosi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dalam hubungan, kamu tentu ingin merasa didengar dan dipahami oleh pasangan. Namun, hal ini bisa terasa berbeda ketika setiap kali mengungkapkan perasaan, respons yang kamu dapat justru membuatmu merasa berlebihan, disalahkan, atau tidak dimengerti.

Situasi tersebut bisa menjadi salah satu tanda pasangan tidak memvalidasi perasaanmu. Alih-alih mencoba memahami emosimu, pasangan mungkin mengabaikannya, meremehkannya, atau membuatmu merasa tidak seharusnya merasakan hal tersebut.

Padahal, memvalidasi perasaan bukan berarti pasangan harus selalu setuju dengan apa yang kamu pikirkan atau lakukan. Validasi berarti mengakui bahwa perasaanmu ada dan berusaha memahami alasan di baliknya. Lantas, seperti apa tanda pasangan tidak memvalidasi perasaanmu? Yuk, simak ulasannya.

1. Kamu dianggap terlalu sensitif

ilustrasi bertengkar (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu tanda pasangan tidak memvalidasi perasaanmu adalah ketika dia sering mengatakan kamu terlalu sensitif, terlalu baper, atau berlebihan dalam merespons sesuatu.

Misalnya, kamu merasa kecewa karena pasangan membatalkan rencana yang sudah dibuat bersama. Alih-alih mencoba memahami kekecewaanmu, dia justru berkata, “Gitu doang kok dipermasalahkan?”

Kalimat seperti ini tidak membantu memahami emosi yang sedang kamu rasakan. Jika terjadi berulang kali, kamu bahkan bisa mulai mempertanyakan apakah perasaanmu memang wajar. Padahal, validasi tidak membutuhkan pasangan untuk menganggap masalah tersebut sama pentingnya dengan yang kamu rasakan. Dia cukup memahami bahwa hal tersebut memang berdampak secara emosional kepadamu.

2. Membandingkan masalahmu dengan orang lain

ilustrasi orang bertengkar (pexels.com/Timur Weber)

“Orang lain juga punya masalah yang lebih berat.”

“Banyak orang yang mengalami hal lebih buruk.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar seperti usaha untuk membuatmu melihat sisi positif. Namun, jika terus digunakan ketika kamu sedang membutuhkan dukungan, respons tersebut justru bisa membuat emosimu terasa tidak penting.

Mencoba mencari sisi positif atau langsung memperbaiki perasaan pasangan ketika dia sedang terluka justru membuatnya merasa tidak dipahami. Dalam situasi seperti ini, memahami dan berempati didahulukan sebelum memberikan solusi.

3. Langsung memberi solusi tanpa mendengarkan

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/Drazen Zigic)

Tidak semua orang yang memberikan solusi berarti tidak peduli. Ada pasangan yang memang terbiasa menunjukkan perhatian dengan mencari jalan keluar. Namun, masalah muncul ketika setiap kali kamu bercerita, dia langsung memberikan solusi tanpa terlebih dahulu memahami perasaanmu.

Misalnya, kamu berkata, “Aku capek banget sama pekerjaan hari ini.” Alih-alih bertanya apa yang terjadi, pasangan langsung menjawab, “Ya sudah, jangan terlalu dipikirin.”

Padahal, mungkin saat itu kamu tidak membutuhkan solusi. Kamu hanya ingin didengarkan. Validasi emosional membuat seseorang merasa bahwa emosinya diterima sebelum pembicaraan beralih ke solusi.

4. Bersikap defensif

ilustrasi pria dan wanita bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Pasangan yang kesulitan melakukan validasi emosional terkadang langsung menganggap ungkapan perasaan sebagai bentuk tuduhan. Pada akhirnya, pembicaraan berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.

Padahal, memahami perasaan pasangan tidak berarti mengakui bahwa dirinya sepenuhnya bersalah. Dalam komunikasi yang sehat, seseorang bisa mengakui perasaan pasangannya tanpa harus menyetujui seluruh sudut pandangnya

5. Mengabaikan pembicaraan

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/garetsvisual)

Tanda lainnya adalah pasangan cenderung menutup pembicaraan setiap kali topiknya berkaitan dengan perasaan. Misalnya, dia memilih diam, mengalihkan topik, pergi begitu saja, atau mengatakan bahwa dia tidak mau membicarakannya.

Sesekali seseorang memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Itu berbeda dengan terus-menerus menghindari percakapan emosional tanpa kembali membahasnya.

Ketika emosi terus ditekan atau diabaikan, pasangan dapat semakin berjarak secara emosional. Padahal, kemampuan untuk terbuka, mendengarkan, dan memvalidasi perasaan justru menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan.

6. Menganggap kamu terlalu membutuhkan perhatian

ilustrasi pasangan bertengkar (freepik.com/draganastock)

Jika kamu meminta didengarkan, diberi kepastian, atau mendapatkan dukungan emosional, tapi pasangan justru melabelimu terlalu bergantung, kamu mungkin perlu melihat kembali pola komunikasi dalam hubungan tersebut.

Memiliki kebutuhan emosional bukan berarti seseorang terlalu menuntut. Kebutuhan seperti merasa didengar, mendapatkan dukungan, dan quality time merupakan bagian dari kebutuhan emosional dalam hubungan.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kebutuhan tersebut dikomunikasikan dan bagaimana pasangan meresponsnya.

Pada akhirnya, merasa didengar dan dipahami merupakan bagian penting dalam hubungan. Jika pasangan terus meremehkan atau mengabaikan perasaanmu, jangan abaikan hal tersebut. Coba komunikasikan kebutuhanmu dan lihat apakah dia bersedia memahami serta memperbaiki cara berkomunikasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article