Kelak saat kita bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahami dirimu.
Dulu, aku mencinta karena aku butuh. Namun sekarang, aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.
Untuk calon suamiku yang masih sibuk dalam kelelahanmu. Ketahuilah bahwa aku selalu menunggumu. Menunggu menjadi kendaraan yang nyaman buatmu. Menjadi rumah yang lapang untukmu. Menjadi penunjuk jalan yang lurus untukmu. Menjadi penyejuk hatimu.
Bunga akan indah pada waktunya ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah ku persiapkan diri ini sebaik-baiknya untuk menyambut kehadiranmu di dalam kehidupanku.
Apabila hanya sebuah gubuk menjadi pernikahan kita, tak akan ku namai dengan gubuk derita, karena itulah markas bahwa kita dan akan menjadi indah ketika dihiasi dengan cinta dan kasih.
Wahai calon imamku. Di sini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyingkapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak. Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan lebih baik.
Pasangan paling bahagia di dunia ini tidak pernah memiliki sifat yang sama. Mereka hanya saling memahami dengan baik tentang perbedaan yang mereka miliki.
Kau hadir mengisi kehidupanku. Kau ketuk pintu hatiku, yang membuatku enggan berpaling dan menjauh darimu. Kau hadirkan bunga-bunga asmara antara kita. Hingga sampai saat di mana ku tersadar, entah jalan apa yang sedang kulalui ini. Tanpa petunjuk mana yang benar dan mana yang salah. Karena semua masih nampak abu-abu, belum jelas ujung dari semua ini.
Duhai calon pemilik tangan gagah yang menolongku ketika aku terpuruk dan jatuh. Lindungi aku dalam perjalanan hidup kita, ketika engkau terluka kan kubalut dengan cinta jiwa yang merona, menyembuhkan segala perih dalam jiwamu.
Peluklah hati ini di saat ku mulai merasa gelisah, dalam penantian penuh kesabaran ini. Terkadang hatiku merasa rindu pada dia insan yg ku cintai dalam diamku.