Jakarta Doodle Fest (JDF), sebuah ajang selebrasi seni visual yang digawangi oleh media TFR News, kembali hadir dengan format baru. Memasuki penyelenggaraan keempat, JDF 2026 menawarkan pengalaman yang berbeda dari edisi-edisi sebelumnya dengan menjadikan experience dan performance sebagai fokus utama.
Jakarta Doodle Fest 2026 & Indonesia Kaya Hadirkan Kembali "Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done"
- Jakarta Doodle Fest 2026 berlangsung 4–5 September di Galeri Ciputra Artpreneur, Jakarta, dengan Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done sebagai program utama dalam tiga sesi.
- Musikal berdurasi 90 menit ini mengembangkan pementasan 2025, menghidupkan ilustrasi Sherchle melalui cerita Vina Panduanidup, karakter baru, serta kolaborasi kreator dan pemain lama.
- Selain pertunjukan, JDF menghadirkan Komplek Absurd dengan instalasi, kuliner Pecel Hehe, dan berbagai ruang interaktif, menegaskan fokus festival pada pengembangan IP visual menjadi pengalaman langsung.
Tahun ini, "Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done" menjadi acara utama JDF 2026. Pertunjukan musikal yang terinspirasi dari karya ilustrator lokal Sherchle ini dipersembahkan oleh JDF bersama Indonesia Kaya dan diproduksi kembali oleh Jakarta Art House. Rangkaian program JDF 2026 akan berlangsung pada 4–5 September 2026 di Galeri Ciputra Artpreneur, Jakarta, dengan total tiga sesi pementasan selama dua hari.
Musikal Absurd: sebuah selebrasi seni visual
Dok. Jakarta Art House Perubahan format ini tetap sejalan dengan nilai-nilai JDF sebagai sebuah selebrasi seni visual. Jika sebelumnya JDF menjadi ruang bagi sejumlah kreator untuk memperkenalkan karya dan berjejaring melalui creator’s market dan workshop, tahun ini JDF berfokus mengembangkan intellectual property (IP) seorang kreator yang berawal dari karya seni visual menjadi pengalaman yang dapat dinikmati dalam format pertunjukan.
Co-founder JDF dan TFR News Christine Laifa, menjelaskan alasan di balik inovasi format baru tersebut. "Sebelumnya, pementasan show yang digarap dari IP merupakan program sampingan setiap tahun, tetapi melihat antusiasme terhadap show Musikal Absurd tahun lalu, kami merasa seharusnya program ini yang dimajukan menjadi program utama. Karakter garapan Sherchle dalam stiker, poster, toys, hingga gantungan kunci ‘dihidupkan’ dan menjadi sebuah pengalaman yang baru."
Pengembangan dari pertunjukan perdana yang telah digelar di Galeri Indonesia Kaya tahun lalu
Dok. Jakarta Art House Bagi yang telah mengenal Musikal Absurd sebelumnya, pementasan tahun ini merupakan pengembangan dari pertunjukan perdana yang digelar di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada November 2025. Setelah mendapatkan antusiasme dan respons positif dari penonton, Musikal Absurd kembali hadir dengan pengembangan cerita serta durasi yang lebih panjang.
Tahun ini, durasi pementasan diperpanjang dua kali lipat menjadi 90 menit. Pengembangan tersebut juga menghadirkan sejumlah karakter baru, termasuk Christuna Aguillera yang diperankan oleh Ode Waode. Sementara itu, sejumlah cast dari pementasan sebelumnya kembali meramaikan panggung Absurd, termasuk Made Aurellia sebagai Vina Panduanidup, Pila sebagai Mamah, dan Uyo sebagai Sugeng.
Sinopsis "Musikal Absurd: Hidup Segan But I’m Not Done"
Dok. Jakarta Art House Pementasan ini berkisah tentang gadis berusia 29 tahun bernama Vina Panduanidup, seorang pekerja ibu kota yang mulai kehilangan makna hidupnya dan menemukan dirinya berbincang dengan makhluk dari alam khayalan yang Absurd. Melalui perpaduan musik, seni visual, dan emosi, musikal ini mengajak penonton menelusuri memori demi menemukan kembali semangat yang hilang dan alasan untuk bertahan.
Dalam pengembangannya, para motor kreatif di balik Musikal Absurd kembali bergabung. Michelle Sherrina atau yang akrab disapa Sherchle kembali hadir sebagai kreator di balik karya-karya yang menginspirasi dunia Absurd, sementara Aulion kembali dipercaya sebagai sutradara. Palka Kojansow kembali menulis naskah dan lirik untuk mengembangkan cerita yang semakin absurd, sedangkan Ammir Gita dan Achi Hardjakusumah melengkapinya dengan lagu-lagu yang menghidupkan suasana panggung Absurd. Andita Mardhiaputri pun kembali menghadirkan karya koreografi yang fun dan relatable, didukung oleh Clarissa Theopilia selaku penata vokal.
Wujud dari semangat Indonesia Kaya membuka ruang bagi kreativitas untuk semua
Dok. Jakarta Art House Kali ini, Indonesia Kaya kembali terlibat dalam produksi musikal ini, "Bagi kami, sebuah karya dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk berkembang dan menemukan cara baru untuk berjumpa dengan masyarakat. Sejak pementasan perdananya di Galeri Indonesia Kaya pada November 2025, kami melihat potensi 'Hidup Segan But I’m Not Done' karya Sherchle untuk terus berkembang dan menemukan bentuk barunya melalui Musikal Absurd. Perjalanan ini menjadi wujud dari semangat Indonesia Kaya untuk membuka ruang bagi kreativitas, mempertemukan talenta, dan mendukung lahirnya karya-karya yang memperkaya ekosistem seni pertunjukan Indonesia. Semoga Musikal Absurd selain menghibur dapat mengajak masyarakat untuk berefleksi dan semakin mengapresiasi seni pertunjukan Indonesia," ujar Billy Gamaliel selaku Program Manager Indonesia Kaya.
Bagi Michelle Sherrina atau yang akrab disapa Sherchle, pengalaman kedua dalam menghidupkan karya-karyanya ke dalam format pertunjukan juga menjadi pengalaman yang spesial. "Di kali pertama, rasanya seperti menang undian, di kali kedua rasanya terharu. Tidak aku sangka ternyata sesuka itu ya teman-teman kolaborator dengan karya ini, sampai mau bikin lagi, bahkan diperpanjang durasinya," ujar Sherchle. Sementara itu, dalam konferensi pers JDF 2026 – Musikal Absurd (4/9).
Aulion turut menyampaikan pandangannya mengenai pengembangan Musikal Absurd tahun ini. "Hidup kadang terlalu absurd untuk dipahami, jadi kita nyanyikan, kita tarikan, lalu kita tertawakan," pungkasnya.
Fadli Hafizan selaku Founder & Producer dari Jakarta Art House pun membagikan pengalamannya dalam menggarap Musikal Absurd tahun ini, "Menurut saya, musikal ini merupakan musikal ringan namun mempunyai makna yang sangat besar, dimana setiap hidup, setiap individu mempunyai beban, dan sulitnya hidup. Namun terkadang kita lupa untuk tertawa dan membahagiakan diri sendiri. Bukan hanya itu musikal ini juga mengingatkan kita akan inner child kita, mengaca kembali masa kecil kita agar bisa memberikan motivasi untuk bisa menjalankan hidup dan melanjutkan mimpi mimpi di masa kecil."
Lebih dari sekadar pertunjukan di atas panggung
Dok. Jakarta Art House Tidak hanya hadir melalui pertunjukan di atas panggung, pengunjung JDF 2026 juga dapat ‘masuk’ ke dalam ‘semesta’ Absurd melalui Komplek Absurd. Sesampainya di venue, pengunjung akan disambut dengan berbagai elemen dari dunia Absurd, termasuk kesempatan mencicipi langsung makanan "Pecel Hehe" yang sebelumnya hanya hadir dalam ilustrasi karya Sherchle dan juga menjadi bagian dari cerita musikalnya. Selain itu, Komplek Absurd juga akan menghadirkan instalasi menarik khas universe Absurd, Kremes-Kremes Kehidupan, Warung Ncik Sherchle, Fotokopi Bang Jali, Toko Kembang Absurd by Rosette Florist, Kedai Es Yuzurly by Kaeru Yuzu, dan Balai Warga Absurd.
Tahun ini menjadi tahun keempat penyelenggaraan JDF setelah perdana dilaksanakan pada 2023 di M Bloc Space, dilanjutkan pada 2024 di Taman Ismail Marzuki (TIM), dan 2025 di Senayan City serta Galeri Indonesia Kaya. JDF pertama kali menggelar pertunjukan musikal pada 2024 melalui "Moonboy & His Starguide: Inspired by Varsam Kurnia’s Illustrations" di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki.
Melalui rangkaian program edukatif dan pertunjukan lintas medium, Jakarta Doodle Fest terus memperkuat komitmennya untuk menghadirkan ruang berekspresi bagi kreator muda sekaligus membuka kesempatan kolaborasi antardisiplin seni. Christine menyampaikan bahwa ke depannya, Jakarta Doodle Fest akan terus mengeksplorasi berbagai inovasi untuk mengembangkan IP menjadi experience yang unik dan menghibur.
"Kami akan fokus menggarap experience yang diadaptasi dari IP. Bisa jadi format pertunjukan atau format live experience lainnya," tutup Christine.
Dalam penyelenggaraannya, JDF 2026 menggandeng Indonesia Kaya sebagai mitra utama, dengan Jakarta Art House sebagai kolaborator. Pelaksanaannya juga didukung oleh Ciputra Artpreneur selaku Venue Partner. Musikal ini turut mendapat dukungan dari sederet Brand Partners, yaitu Butter Baby, Cititex, Dove, Eternal Plus, Kaeru Yuzu, Lemonilo, SAFF & Co., Snapped, Suryajaya Alat Pesta, Tuku, ULTIMA II, Uniqlo, dan Wateru Tissue.
Tak ketinggalan, sejumlah Media Partner, yaitu Benerjuga, Cantika, detik.com, Dagelan, Dari Halte ke Halte, Femina, Girls Beyond, IDN Times, Jak 101 FM, Kis FM, Kompas.com, Matamata.com, Mustang FM, Olenka, OPPAL, Popbela.com, Prambors, Scarf Media, Sumpahbeb, The Public Book, The Maple Media, dan Tempo turut mendukung publikasi musikal ini.




















