Tidak semua anak-anak di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan nyaman. Masih banyak anak yang terpaksa mengubur mimpinya untuk bersekolah karena berbagai faktor dari lingkungan anak tersebut. Salah satunya di TPU Pondok Kelapa, sebuah kawasan pemulung dengan banyak anak usia 5-11 tahun yang tidak bisa membaca karena tidak bersekolah formal meskipun masih menginjak usia sekolah. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?

1. Rendahnya Kesadaran Para Pemulung Tentang Pentingnya Pendidikan

Mengenal Lebih Dekat Anak Pemulung Saung Garpu yang Darurat EdukasiPexels.com/Emily Ranquist

Salah satu penyebab anak-anak tidak bersekolah ke sekolah formal adalah karena para orang tua yang merupakan pemulung di TPU Pondok Kelapa memiliki kesadaran yang rendah tentang pentingnya pendidikan anak mereka. Terbukti, masih banyak anak yang tidak memiliki akta yang bisa digunakan untuk mendaftar ke sekolah formal. Menurut mereka, anak-anak cukup membantu orang tua dan tidak perlu bersekolah. Padahal, mengenyam pendidikan adalah salah satu kunci yang dapat membawa anak-anak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

2. Belajar di Ruangan yang Sempit dan Tidak Memadai

Mengenal Lebih Dekat Anak Pemulung Saung Garpu yang Darurat Edukasiunsplash.com

Namun demikian, masih ada orang-orang yang peduli terhadap pendidikan anak pemulung di TPU Pondok Kelapa dengan mendirikan sebuah taman baca sebagai tempat anak-anak untuk belajar membaca dan berkarya. Saung Baca Garpu, sebuah tempat belajar non-formal yang didirikan untuk mengajarkan anak pemulung membaca sejak dini. Tempat ini menjadi sebuah harapan bagi anak-anak tersebut untuk setidaknya bisa membaca. Namun, saung baca tersebut sedang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ruangannya sangat sempit untuk dipakai oleh lebih dari 50 anak, sehingga anak-anak harus berdesakan saat mereka akan belajar membaca. Mereka pun seringkali harus berdesakan untuk sekedar menulis di meja karena jumlah meja yang sangat terbatas. Atapnya pun sudah mulai lapuk sehingga menyebabkan kebocoran jika sedang hujan deras. Bahkan, menurut Bu Ida selaku pendiri Saung Baca Garpu, ruangan mereka sering kebanjiran dan kemasukan ular saat hujan deras. Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan bagi anak-anak yang ingin belajar.

3. Plana Siap Membantu Anak-Anak Pemulung untuk Dapat Belajar dengan Layak

Mengenal Lebih Dekat Anak Pemulung Saung Garpu yang Darurat EdukasiPexels.com/Tima Miroshnichenko

Plana (Plastic for Nature), sebuah social enterprise di Indonesia yang gencar memperjuangkan keberlanjutan lingkungan melalui produk daur ulang sampah plastik dan gabah padi, kini berinisiasi untuk membantu memberikan fasilitas belajar yang lebih baik. Plana membuat sebuah program penggalangan dana bagi anak-anak yang ingin belajar dengan layak namun memiliki keterbatasan melalui platform https://indogiving.com/didikjagabumi. Program tersebut akan mengumpulkan dana yang nantinya dapat digunakan untuk membantu memperbaiki kondisi ruang belajar anak di Saung Baca Garpu.