Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment resmi merilis trailer film horor eksorsisme Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Untuk pertama kalinya, trailer tersebut memperlihatkan sosok entitas kuno bernama Rephaim yang menjadi sumber teror baru bagi Romo Rendra (Lukman Sardi) dan Romo Thomas (Jerome Kurnia).
Teror Makin Besar, Ini 6 Fakta dan Sinopsis Film ‘Kuasa Gelap: Perjanjian Darah’

- Trailer sekuel Kuasa Gelap: Perjanjian Darah memperkenalkan Rephaim, entitas kuno yang merasuki remaja Daniel dan mengancam wilayah lebih luas, sehingga Romo Rendra serta Romo Thomas kembali melakukan eksorsisme.
- Film mengangkat perjanjian darah dengan Fallen Angels, ketika manusia ditawari imbalan termasuk kekayaan dengan taruhan nyawa; konflik juga menyoroti krisis keyakinan Romo Thomas.
- Syuting selesai April 2026 dengan skala besar, melibatkan lebih dari 200 figuran. Film garapan Rizal Mantovani ini tayang 8 Oktober 2026 dalam format IMAX dan Magnify 8.
Melanjutkan kesuksesan film pertamanya yang dirilis pada 2024, sekuel ini membawa konflik yang lebih luas, tidak hanya tentang satu korban atau keluarga, tetapi juga keselamatan sebuah wilayah. Sebelum menyaksikannya di bioskop, simak sinopsis dan beberapa fakta menarik film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah berikut ini.
Table of Content
Sinopsis Film ‘Kuasa Gelap: Perjanjian Darah’
Kali ini, teror berpusat pada Daniel, seorang remaja laki-laki yang diperankan oleh Venly Arauna. Daniel menjadi wadah bagi Rephaim, entitas kuno yang memiliki hubungan dengan Fallen Angels atau malaikat yang jatuh.
Rephaim dikisahkan bersekutu dengan Fallen Angels untuk mencari manusia yang bersedia menjadi pengikutnya. Entitas tersebut menawarkan berbagai hal yang diinginkan manusia, termasuk kekayaan, tetapi dengan satu imbalan yang mengerikan, yaitu nyawa.
Roh jahat yang merasuki tubuh Daniel bukan sekadar ancaman bagi dirinya maupun keluarganya. Teror yang dibawa Rephaim berkembang menjadi bahaya yang dapat mengancam keselamatan seluruh wilayah.
Dalam menghadapi kekuatan tersebut, Romo Rendra dan Romo Thomas kembali menjalankan ritual eksorsisme. Namun, perjuangan mereka kali ini tidak hanya menguji keberanian dalam menghadapi entitas jahat, tetapi juga keyakinan dan kondisi spiritual keduanya.
Poster film turut mempertegas pertarungan antara kegelapan dan keyakinan. Di tengah ancaman Rephaim, Kuasa Tuhan menjadi perlindungan bagi kedua Romo dalam perjalanan spiritual mereka.
1. Proses Eksorsisme Didukung Praktisi Asli

youtube.com/Paragon Pictures Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam produksi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah adalah bagaimana ritual eksorsisme ditampilkan dalam film. Demi memastikan setiap ritus pengusiran setan tetap akurat dan mengikuti tata cara resmi Gereja Katolik, para pemain mendapatkan bimbingan secara ketat dari praktisi eksorsisme asli.
Riset untuk film ini juga melibatkan seorang Romo yang merupakan Guru Besar sekaligus salah satu dari sedikit orang di Indonesia yang memiliki izin resmi langsung dari Vatikan untuk melakukan ritus eksorsisme.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses produksi agar adegan eksorsisme tidak hanya terasa menegangkan secara sinematik, tetapi juga memiliki dasar dari tata cara yang dipelajari selama riset.
2. Teror Rephaim Berpusat pada Daniel

youtube.com/Paragon Pictures Jika film pertama menghadirkan Kayla (Lea Ciarachel), seorang remaja perempuan, sebagai pusat teror, sekuelnya memperkenalkan karakter baru bernama Daniel. Daniel menjadi sosok yang tubuhnya dirasuki oleh iblis purba bernama Rephaim.
Berbeda dari ancaman sebelumnya, Rephaim digambarkan sebagai entitas kuno yang memiliki hubungan dengan Fallen Angels. Entitas tersebut mencari manusia untuk dipengaruhi dan menawarkan berbagai imbalan, termasuk kekayaan, dengan harga yang sangat besar: nyawa manusia.
Hubungan Rephaim dengan Fallen Angels juga menjadi bagian penting dalam cerita karena memperluas mitologi yang dibangun di film ini. Ancaman yang dihadapi Romo Rendra dan Romo Thomas pun tidak lagi berhenti pada satu keluarga.
3. Konflik Batin Romo Thomas Semakin Dalam

youtube.com/Paragon Pictures Selain menghadirkan ancaman supernatural dengan skala lebih besar, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga membawa sisi personal yang lebih dalam bagi Romo Thomas. Dalam sekuel ini, karakter yang diperankan Jerome Kurnia tersebut mengalami krisis emosional dan mulai mempertanyakan kelayakan dirinya untuk memegang tanggung jawab besar sebagai seorang eksorsis.
Jerome Kurnia menggambarkan dinamika antara Romo Rendra dan Romo Thomas dengan mengatakan,
“Ketika Romo Rendra mulai goyah, Romo Thomas justru harus berdiri paling teguh. Tapi keyakinan yang terlalu besar pada diri sendiri bisa menjadi batu sandungannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Lukman Sardi turut menjelaskan bahwa seorang imam eksorsis dituntut untuk mempersiapkan diri secara rohani melalui Sakramen Rekonsiliasi atau pengakuan dosa. Menurutnya, kuasa pembebasan berasal dari Kristus, tetapi disposisi batin dan kesucian hidup sang imam juga menjadi bagian penting dalam tindakan eksorsisme.
4. Mengangkat Kisah Perjanjian Darah dan Fallen Angels

youtube.com/Paragon Pictures Karakter Rephaim dirancang oleh Robert Ronny dengan inspirasi dari sineas sekaligus sahabatnya, Monty Tiwa. Kehadiran entitas ini menjadi bagian dari eksplorasi cerita mengenai hubungan manusia dengan kekuatan gelap serta konsekuensi dari pilihan yang dibuat di masa lalu.
Produser Robert Ronny menjelaskan bahwa film ini mengangkat gagasan mengenai manusia yang dapat dipengaruhi oleh Fallen Angels untuk membuat perjanjian darah dengan imbalan jiwa mereka. Namun, di balik kisah kegelapan tersebut, film ini juga membawa pesan mengenai kesempatan manusia untuk kembali kepada Tuhan.
“Fallen Angels selalu mencoba mempengaruhi manusia untuk membuat perjanjian darah dengan imbalan jiwa mereka. Yang ingin kami angkat di film ini adalah: meskipun manusia telah berdosa dan meninggalkan Tuhan, Tuhan selalu setia,” ujar Robert Ronny.
Sementara itu, produser eksekutif Andi Boediman menyebut film ini turut mengangkat gagasan bahwa pilihan satu generasi dapat membawa konsekuensi bagi generasi berikutnya.
“Tidak banyak film yang berani mengatakan bahwa kegelapan itu nyata dan bahwa ada jalan untuk menghadapinya. Kami membuat film tentang pilihan yang dibuat satu generasi ternyata harus dibayar oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Skala konflik yang lebih luas juga menjadi pembeda utama dari film pertama. Sutradara Rizal Mantovani mengatakan bahwa ancaman dalam sekuel ini tidak hanya berpusat pada satu keluarga, tetapi berdampak pada seluruh wilayah.
5. Proses Syuting dengan Skala Produksi Lebih Besar
Tidak hanya cerita yang diperluas, produksi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga dibuat dengan skala yang lebih besar. Proses syuting film ini telah selesai pada April 2026 dan mengambil lokasi mulai dari kawasan pesisir hingga sebuah gereja yang menjadi tempat berlangsungnya adegan besar.
Untuk adegan tersebut, produksi bahkan melibatkan lebih dari 200 orang figuran. Kehadiran banyak pemain pendukung turut memperkuat skala cerita yang kali ini tidak hanya berfokus pada lingkungan keluarga.
Film ini juga menghadirkan perubahan di kursi sutradara. Jika film pertamanya disutradarai oleh Bobby Prasetyo, sekuelnya kini berada di bawah arahan Rizal Mantovani, sutradara yang dikenal lewat sejumlah film horor Indonesia. Ia didukung oleh sinematografer senior Yadi Sugandi.
Sementara itu, naskah Kuasa Gelap: Perjanjian Darah ditulis oleh Robert Ronny dan Andri Cahyadi. Film ini diproduseri Robert Ronny dan Prima Taufik, dengan Andi Boediman sebagai produser eksekutif.
Deretan pemainnya juga kembali diisi Lukman Sardi dan Jerome Kurnia, bersama Venly Arauna, Ferry Salim, Feby Febiola, Lydia Kandou, Sisca Saras, Keysha Angelica, Kiki Narendra, dan Faiz Vishal.
6. Hadir dalam Format IMAX dan Magnify 8

youtube.com/Paragon Pictures Untuk memberikan pengalaman menonton yang lebih imersif, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga menjadi film Indonesia kelima yang tayang dalam format IMAX. Format tersebut memungkinkan skala visual film horor ini terasa lebih luas, terutama untuk adegan-adegan yang menampilkan teror Rephaim dan konflik dalam cerita.
Selain IMAX, film ini juga akan hadir di Magnify 8 Cinepolis. Teknologi Magnify 8 yang dikembangkan oleh Lumma bersama Cinépolis Cinemas menghadirkan pengalaman sensorik tambahan melalui kursi dengan teknologi getaran atau vibration dan pengeras suara bass atau bass shaker.
Catat tanggal tayangnya pada 8 Oktober 2026 dan saksikan bagaimana Romo Rendra dan Romo Thomas menghadapi Rephaim di layar lebar. Sudah siap menyaksikannya, Bela?




















