Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Tradisi Rijsttafel di Spesial Signature Rijsttafel Plataran
Dok. Plataran
  • Rijsttafel adalah tradisi perjamuan kolonial dari masa Hindia Belanda, memadukan gaya makan Eropa dengan puluhan hidangan Nusantara yang mengelilingi nasi.
  • Penyajiannya khas melalui grand parade pramusaji, dengan 20 hingga 40 masakan seperti rendang, sate, gado-gado, ayam goreng, sambal, dan acar.
  • Plataran Menteng menghadirkan Signature Plataran Rijsttafel berbahan lokal, hasil riset koki Reiyan Trisanda, serta kolaborasi UMKM dari berbagai daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bulan Agustus identik dengan kemerdekaan. Ini jadi waktu yang pas buat kembali mengulik dan merayakan warisan Nusantara. Salah satunya, kamu bisa merayakan kembali tradisi Rijsttafel. 

Tradisi ini merupakan pesta makan besar a la kolonial yang berasal dari masa Hindia Belanda, di mana nasi putih disajikan di tengah meja dan dikelilingi oleh puluhan piring kecil berisi berbagai macam lauk pauk, sayuran, serta sambal khas Nusantara. 

Nah, kamu bisa mencoba tradisi ini salah satunya di Plataran Menteng yang hadir dalam Signature Plataran Rijsttafel. Simak lebih lengkapnya berikut ini, ya.

Berasal dari bahasa Belanda

Dok. Plataran

Rijsttafel (dibaca: reis-tafel, bahasa Belanda yang secara harfiah berarti "meja nasi") adalah sebuah tradisi penyajian makanan mewah a la kolonial yang menggabungkan ragam hidangan Nusantara dengan gaya perjamuan a la Eropa. Meskipun namanya menggunakan bahasa Belanda, hidangan yang disajikan hampir seluruhnya adalah kuliner asli Indonesia.

Lahir di masa Hindia Belanda

Dok. Plataran

Tradisi ini lahir pada masa Hindia Belanda atau sekitar abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Para pemilik perkebunan dan pejabat kolonial Belanda ingin memamerkan kekayaan, kemewahan, serta keanekaragaman wilayah kekuasaan mereka di Nusantara kepada para tamu dari Eropa.

Mereka mengambil konsep perjamuan resmi a la Barat, namun mengganti menunya dengan belasan hingga puluhan hidangan lokal dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sumatra, Bali, dan Sulawesi, yang disajikan secara bersamaan dengan nasi putih.

Ciri khas penyajian yang unik

Dok. Plataran

Yang membuat Rijsttafel sangat ikonik bukan cuma makanannya, melainkan cara penyajiannya. Di restoran atau rumah perjamuan kelas atas, belasan hingga puluhan pramusaji (biasanya laki-laki pribumi berpakaian adat lengkap) akan berbaris berurutan (grand parade).

Masing-masing pramusaji membawa satu jenis hidangan dan mengelilingi meja makan untuk melayani para tamu satu per satu. Dalam satu sesi perjamuan, bisa ada 20 hingga 40 jenis masakan yang disajikan. Selalu ada Nasi (putih, kuning, atau uduk) di tengah, dikelilingi oleh lauk-pauk seperti rendang, sate, gado-gado, ayam goreng, semur, kerupuk, sambal, hingga acar.

Mencicipi menu Signature Plataran Rijsttafel di Plataran Menteng

Dok. Plataran

Kamu dan orang terkasih juga bisa mencoba tradisi Rijsttafel ini di Plataran Menteng. Meski agak sedikit berbeda dari tradisi aslinya, namun menu yang disajikan mirip dengan yang ada di tradisi tersebut. Setiap elemen Rijsttafel disusun dengan mengedepankan resep-resep tradisional dan penggunaan bahan baku lokal. 

Mulai dari kesegaran Sambal Matah khas Bali, kelezatan Asinan Juhi Jakarta, hangatnya Soto Banjar dari Kalimantan Selatan, hingga hidangan utama seperti Sate Ayam, Bebek Bumbu Madura, dan Udang Bakar Tapanuli yang mencerminkan karakter rempah dari berbagai daerah. 

Perjalanan kuliner tersebut kemudian ditutup dengan sentuhan manis melalui interpretasi modern hidangan penutup tradisional seperti Es Teler Entremet dan Wingko Babat.

Dalam menyajikan menu spesial ini, sang koki, Reiyan Trisanda, berangkat langsung ke setiap daerah untuk mencicipi dan meriset makanan yang akan tersaji dalam menu tersebut agar menghadirkan cita rasa lokal yang autentik. 

Setiap menunya dibuat sangat beragam dan bertekstur, mulai dari yang digoreng, berkuah, hingga dipanggang. Plataran juga berkolaborasi bersama pelaku UMKM di berbagai daerah melalui menu khusus ini, sehingga setiap hidangan turut mendukung keberlanjutan ekosistem kuliner Indonesia sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.

Jadi, kamu mau coba cicipi?

Curated For You

Editorial Team

Related Article