Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma FOMO, Ternyata ini Alasan Gen Z & Millennial Betah Berlama-Lama 'Nongkrong' di Coffee Shop

Bukan Cuma FOMO, Ternyata ini Alasan Gen Z & Millennial Betah Berlama-Lama 'Nongkrong' di Coffee Shop
Pexels.com/Kutluer Erdal Triumph
  • Sebanyak 59% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan, sementara 65,8% generasi muda mengaku cemas akan masa depan, termasuk soal finansial, karier, dan kepemilikan rumah.
  • Kafe dan tea house berfungsi sebagai third place: ruang kerja informal, titik temu komunitas, serta tempat me time untuk meredakan tekanan antara rumah dan kantor.
  • Industri F&B merespons kebutuhan ini lewat suasana nyaman, fasilitas kerja, pengalaman sensori, pemesanan digital, pembayaran cashless, program loyalitas, dan personalisasi menu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bela, pernah nggak sih kamu duduk di sebuah coffee shop, tea house atau bakery café di pertengahan minggu, lalu memperhatikan sekelilingmu? Ada yang sedang fokus menatap layar laptop sambil mengetik cepat, ada kelompok kecil yang berdiskusi santai tentang (mungkin) proyek baru mereka, hingga yang sekadar duduk sendirian menikmati sepotong pastry dan secangkir teh panas. Pemandangan ini bukan lagi momen langka, melainkan pemandangan sehari-hari yang membentuk ritme baru kehidupan masyarakat urban di kota-kota besar Indonesia.

Apakah kamu pernah terpikirkan bahwa kebiasaan ini hanya untuk keren-kerenan semata atau demi feeds Instagram yang cantik? Tapi, jika kita menelisik lebih dalam kondisi demografis dan psikologis anak muda hari ini, jawabannya jauh dari sekadar FOMO (Fear of Missing Out). Ada alasan mendasar mengapa tempat ngopi bertransformasi menjadi "ruang bertahan hidup" bagi milenial dan Gen Z belakangan ini. Secara tidak sadar kamu mungkin sedang mengalami ini lho

Ada beberapa poin yang akan POPBELA jelaskan di bawah bisa jadi cocok dengan apa yang sedang kamu alami saat ini. Simak, yuk!

  1. Beban Kota Besar dan Bayang-Bayang Peniaphobia

    Work from Cafe
    Pexels.com/The Full on Monet

    Saat ini, menurut data World Bank (data.worldbank.org), Indonesia semakin didominasi oleh populasi urban, di mana sekitar 59% atau 166,5 juta jiwa hidup dan beraktivitas di kawasan perkotaan. Kehidupan kota besar menjanjikan peluang besar, tetapi di sisi lain juga membawa tekanan ritme hidup yang sangat tinggi. 

    Bahkan tak jarang, kota besar menjadi tujuan impian mereka yang baru saja lulus kuliah. Sebab, dalam bayangan mereka kota besar menjanjikan kehidupan yang lebih baik dan menarik untuk berkembang. Namun, sebagian besar dari anak muda tak sadar (atau belum mengetahui) bahwa di balik gemerlapnya kota besar tersimpan beban kerja yang sama besarnya.

    Berdasarkan data dari Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 by IDN Research Institute, terdapat statistik yang cukup mengejutkan: 65,8% generasi muda mengaku mengalami kecemasan akan masa depan (peniaphobia). Ini adalah sebuah ketakutan sistemik dan psikologis terkait ketidakpastian finansial, stabilitas karier, hingga impian jangka panjang seperti kepemilikan rumah yang semakin sulit dijangkau.

    Di tengah gempuran ketidakpastian ini, rumah sering kali diidentikkan dengan tumpukan urusan domestik, sementara kantor identik dengan tekanan kerja formal. Anak muda urban akhirnya membutuhkan ruang netral di luar keduanya untuk sedikit melegakan pikiran dari himpitan tersebut. Ruang ‘pelarian’ ini adalah sebuah konsep yang dikenal dalam sosiologi sebagai third place.

  2. Jadi, Sebetulnya Apa Itu Third Place?

    Work from Cafe
    Pexels.com/Damla Selen Demir

    Konsep third place kini telah mengalami evolusi. Café dan tea house tidak lagi dipandang sekadar tempat transaksi makanan dan minuman. Tempat-tempat ini telah menjadi ruang fleksibel yang menampung berbagai kebutuhan harian. Antara lain adalah sebagai berikut.

    • Ruang Kerja Informal (Remote Work & Freelance): Seiring maraknya tren income diversification di mana anak muda memiliki lebih dari satu sumber penghasilan (side hustle, freelance, atau gig economy), mereka membutuhkan ruang kerja dengan fasilitas lengkap (Wi-Fi cepat, colokan listrik) tanpa atmosfer kaku khas kantor formal.

    • Koneksi Sosial & Komunitas: Menjadi titik temu bagi komunitas kreatif atau diskusi bisnis informal yang santai namun tetap profesional.

    • Me Time: Tempat melarikan diri sejenak (micro-escape) untuk memproses emosi, membaca buku, atau menenangkan pikiran di tengah kepungan deadline yang mencekik.

    Membeli secangkir minuman seharga puluhan ribu rupiah bukanlah bentuk pemborosan tanpa arah, melainkan bentuk coping mechanism yang terjangkau (micro-dosing of luxury) untuk menjaga kestabilan mental di tengah tingginya kecemasan hidup yang dirasakan dan dialami anak muda saat ini.

  3. Saat Tempat Ngopi Memberi Efek Terapi

    CHAGEE Tunjungan Plaza 6 Surabaya.jpg
    Dok. Erajaya

    Evolusi third place ini ditangkap dengan sangat jeli oleh para pelaku industri F&B. Selama momentum perayaan 30 Tahun Erajaya Group, komitmen perusahaan melalui Erajaya Food & Nourishment (EFN) makin terlihat nyata dalam merespons kebutuhan gaya hidup urban modern. Lanskap F&B modern dirancang dengan pendekatan yang sangat customer-centric membuat brand tidak lagi hanya menjual cita rasa, melainkan mengurasi experience dan kenyamanan visual-sensori bagi para pengunjungnya.

    Inisiatif dalam perjalanan 30 Tahun Erajaya Group ini tecermin dari bagaimana brand-brand F&B global dan lokal di bawah naungan EFN beradaptasi menjadi third place pilihan anak muda. Apa saja yang ditawarkan?

  4. 1. Paris Baguette

    Paris Baguette.jpg
    Dok. Erajaya

    Menghadirkan konsep lifestyle bakery café berestetika tinggi yang menawarkan suasana hangat dan nyaman. Tempat ini ideal untuk brunch santai, menyelesaikan pekerjaan di laptop, hingga pertemuan informal bersama kolega.

    Paris Baguette menggabungkan konsep European bakery klasik dengan sentuhan gaya hidup urban yang modern. Interiornya didesain hangat lewat pencahayaan lembut (warm lighting), aroma freshly baked pastries yang menyebak di seluruh ruangan, serta penataan tempat duduk yang lapang dan privat.

    Mengapa Paris Baguette cocok untuk menjadi third place? Alasannya, suasananya sangat kondusif untuk berbagai aktivitas tanpa batas waktu (no pressure). Area duduknya dilengkapi fasilitas colokan listrik yang memadai dan Wi-Fi cepat, menjadikannya tempat yang tenang untuk wfc (work from cafe) atau tempat kumpul santai yang aesthetic bersama teman/kolega tanpa bising.

    Rekomendasi Menu Favorit:

    • Makanan/Pastry: Tuna Tartar Croissant atau seri Croissant Pudding (mulai Rp45.000 – Rp88.000) yang buttery dan kaya tekstur.

    • Minuman: Café Latte atau Royal Moka Tea/Coffee (mulai Rp40.000 – Rp60.000).

    Kisaran harga: mulai dari Rp80.000 – Rp180.000 per orang untuk paket minuman dan hidangan penutup/makanan ringan.

  5. 2. Bacha Coffee

    Bacha Coffee.jpg
    Dok. Erajaya

    Menawarkan pengalaman sensory luxury yang memanjakan indra penciuman dan penglihatan. Aromatik kopi premium dan interior yang mewah memberikan momen rileks (sensory relief) bagi anak muda yang ingin mengapresiasi diri sendiri setelah menjalani minggu yang melelahkan.

    Bacha Coffee juga menawarkan kemewahan sensori (sensory luxury) bergaya arsitektur Maroko yang ikonis. Interiornya didominasi aksen warna emas, kisi-kisi kayu elegan, serta jejeran kaleng kopi berhias ornamen unik. Keistimewaannya terletak pada koleksi lebih dari 200 varian kopi Arabika murni dari 35 negara yang disajikan menggunakan teko leher angsa berwarna emas yang khas.

    Kenapa Bacha Coffee pas menjadi third place & me time space? Tempat ini dirancang khusus bagi mereka yang membutuhkan sensory relief dan ingin memberikan self-reward atau sekadar micro-escape sejenak dari riuhnya pekerjaan yang tak ada habisnya. Menikmati aroma kopi premium di dalam suasana interior yang glamor memberikan ruang jeda eksklusif untuk mengisi ulang energi mental setelah minggu yang melelahkan.

    Rekomendasi Menu Favorit:

    • Kopi: 1910 Coffee atau varian Specialty Single Origin Arabica yang disajikan bersama krim kocok segar dan kenari manis (mulai Rp128.000 per teko).

    • Pastry: 1910 Coffee & Chocolate Croissant atau Gourmet Sweet Croissants (sekitar Rp80.000 untuk 2 buah).

    Kisaran harga: mulai dari Rp200.000 – Rp350.000 per orang untuk pengalaman coffee pairing premium.

  6. 3. CHAGEE

    CHAGEE Tunjungan Plaza 6 Surabaya (2).jpg
    Dok. Erajaya

    Mengangkat tren modern tea house yang tidak hanya menyegarkan, tetapi juga menyajikan pilihan gaya hidup yang lebih sehat dengan estetika kontemporer yang pas untuk bersantai.

    CHAGEE mengusung konsep modern tea house yang menyatukan estetika kebudayaan teh oriental kontemporer dengan gaya hidup cepat anak muda urban. Desain outlet-nya mengedepankan kesan bersih, terang, modern, dan minimalis, memberikan atmosfer bersantai yang segar dan jauh dari kata kuno.

    Mengapa CHAGEE cocok kamu kunjungi untuk me time? CHAGEE menjadi opsi third place yang ringan untuk jeda sejenak di tengah mobilitas yang tinggi. Minumannya berfokus pada seduhan daun teh murni beraroma floral yang dipadukan dengan susu segar tanpa pemanis buatan yang berlebih, sangat pas buat Gen Z yang menginginkan alternatif gaya hidup sehat, mindful, namun tetap trendi.

    Rekomendasi Menu Favorit:

    • Minuman Best-Seller: BO.YA Jasmine Green Milk Tea atau Da Hong Pao Milk Tea (mulai Rp42.000 – Rp49.000) yang aromatik dan creamy ringan.

    Kisaran Harga Total: Sekitar Rp45.000 – Rp100.000 per orang, sangat terjangkau untuk kebutuhan me time atau tempat hangout harian.

    Ruang-ruang yang ditata apik ini memberikan kenyamanan psikologis (psychological safety) yang sering kali absen di lanskap perkotaan yang padat dan bising. Jadi, saat kamu mulai jenuh dengan segala rutinitas kamu, melipir sejenak sambil menikmati kopi dan kudapan favorit, POPBELA yakin, kamu langsung recharge lagi dan semangat menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Mau melakukannya hari ini?

  7. Kemudahan Digital dan Kendali Diri

    Chagee
    Pexels.com/Peter Xie

    Sebagai generasi digital native, Gen Z dan Milenial menyukai efisiensi serta memiliki kendali penuh atas aktivitas harian mereka. Mengutip data laporan IMGR 2027, strategi adaptasi secara digital kini menjadi fondasi utama generasi muda Indonesia dalam mengambil keputusan gaya hidup dan konsumsi di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi.

    Integrasi teknologi omnichannel dalam industri F&B saat ini meliputi banyak hal dengan benang merah yang sama: kemudahan dan personalisasi. Mulai dari kemudahan pemesanan digital (self-service kiosk dan aplikasi), opsi pembayaran nontunai (cashless/QRIS), hingga pemanfaatan program loyalitas berbasis aplikasi.

    Teknologi yang terus berkembang dan dimanfaatkan oleh industri F&B ini dinilai makin memudahkan anak muda untuk mengakses third place mereka tanpa hambatan. Ekosistem ritel yang dikembangkan dalam perjalanan 30 Tahun Erajaya Group turut mendorong kemudahan bertransaksi ini secara konsisten, menjadikan integrasi omnichannel sebagai standar wajib bagi kenyamanan konsumen muda. Inovasi ini sejalan dengan riset IMGR 2027 yang mencatat bahwa porsi terbesar anak muda mengandalkan kepraktisan ekosistem digital untuk bertransaksi dan berinteraksi sehari-hari.

    Kebebasan untuk memilih menu (customization), seperti mengatur tingkat kemanisan (sugar level), menentukan jenis susu, hingga opsi bahan makanan yang sesuai dengan preferensi personal, memberi rasa memiliki kontrol atas hal-hal kecil di dalam hidup.

    Dalam temuan IMGR 2027 mengenai “Adaptation as Strategy”, generasi muda urban terbiasa memegang kendali atas pilihan personal mereka sebagai respons terhadap tekanan sistemik, tingginya ritme kerja, dan rasa cemas akan masa depan (anxiety). Dengan begitu, kemampuan untuk mempersonalisasi teh atau secangkir kopi favorit bukan sekadar transaksi F&B, melainkan sarana mendapatkan kendali diri (sense of control) yang sangat berharga bagi kesehatan emosional mereka.

  8. Kesimpulan: Sedikit Reward untuk Setiap Perjalananmu adalah Valid dan Ini Bukan Pemborosan, Kok!

    Cafe Aesthetic
    Pexels.com/Adriana Ramos

    Menghabiskan beberapa jam di kafe favorit sambil menyeruput minuman kesukaan bukanlah pertanda bahwa kamu generasi yang lemah atau boros. Di tengah dinamika kota besar yang serba cepat dan penuh kecemasan akan masa depan, menemukan third place yang nyaman adalah salah satu cara terbaik untuk tetap memijak bumi dan menjaga kestabilan emosi.

    Melalui portofolio F&B yang dihadirkan dalam perayaan 30 Tahun Erajaya Group, terlihat jelas bagaimana ruang-ruang ini kini tumbuh menjadi bagian dari infrastruktur emosional anak muda urban. Hadirnya ruang ritel dan kafe yang mengutamakan kenyamanan menunjukkan apresiasi terhadap kebutuhan ruang aman bagi masyarakat kota.

    Kalau hari ini kamu merasa lelah dan butuh sudut tenang di third place favoritmu untuk bernapas sejenak itu sangat diperbolehkan dan valid, kok. So, hari ini mau minum teh atau ngopi dulu, nih? Atau sekadar menikmati kudapan manis dimana?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More