Industri fashion di Indonesia sudah semakin menunjukkan taringnya. Dulu yang merangkak hingga kini sudah diakui oleh kancah internasional (Sebastian Gunawan dan Tex Saverio di Asian Couture Federation, karya Rinaldy A. Yunardi yang muncul di Victoria's Secret, Denny Wirawan dan Anniesa Hasibuan di New York Fashion Week, dll). Kita harus berbangga diri. Indonesia punya sumber daya yang berpotensi. Kreativitas para desainer Indonesia memiliki taste yang berkualitas. Kita bisa menilainya dari karya yang orisinil yang sudah berhasil mengharumkan nama bangsa. Memasuki tahun 2017, dengan pengaruh budaya barat yang kini menerapkan "see now buy now", industri fashion tanah air pun ikut 'latah' akan konsep penjualan yang strategis dan menarik ini. Dimana ini sah saja berlaku pada sebuah industri di negara berkembang. Dikombinasikan dengan sentuhan komersialitas, kombo seperti ini dijamin akan menuai banyak profit. Worth to try. Nah, tidak hanya konsep "lihat, langsung beli" dan unsur komersil saja yang sepertinya akan ramai di tahun 2017, beberapa tren di bawah ini siap memoles industri fashion di Indonesia ke arah dan cara pandang yang lebih fashion forward. Mulai dari gaya berbusana wanita di tahun 2017, tantangan baru, budaya hijab yang memberontak, hingga saingan baru untuk para retail internasional. Let's take a look!

1. Wabah "see now buy now".

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Dimulai dari rumah mode internasional, Burberry, yang kemudian diikuti oleh Tommy Hilfiger, Alexander Wang, and the next thing we know... konsep see now buy now ibarat efek domino yang akhirnya sampai ke Indonesia. Danjyo Hiyoji bersama retail online Zalora, berhasil menerapkan konsep ini. Siapa juga yang nggak mau tampil trendi, tanpa perlu menunggu lama. Oh plus, penawaran harga yang sangat terjangkau.

2. 'Ready-couture-wear'.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Selalu hadir dengan busana-busana mewah yang dicintai oleh para kalangan atas, rumah mode Sebastian Gunawan hadir dengan inovasi 'ready-couture-wear' - dalam artian, bukan berwujud busana couture yang rumit, tapi lewat lini ready-to-wear Sebastian Red, para pecinta Seba kini bisa tampil elegan kapan pun, dengan sedikit sentuhan couture dari sang master couturier. Dan tebak? koleksinya juga sudah tersedia langsung di butiknya.

3. Di 2017, busana wanita akan terlihat 'nakal'.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Tren ruffle, hingga gaya monokrom yang membosankan sudah saatnya diakhiri. Tahun ini saatnya kamu menunjukkan sisi liar dan jangan takut untuk tampil seksi dalam balutan busana yang rock n roll. Contoh yang tepat dalam situasi ini adalah koleksi Rockandrolla dari Stella Rissa. Tepat menggambarkan karakter wanita yang percaya diri di tahun 2017.

4. Busana tradisional akan semakin urban.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Banyak sekali desainer lokal yang terus mengeksplor budaya hingga material tradisional sampai saat ini. Namun hanya beberapa saja yang berhasil mengolahnya menjadi tren baru yang tak ketinggalan zaman. Lihat saja karya Chitra Subyakto untuk Sejauh Mata Memandang. Dedikasinya pada tenun dan taste fashion yang tepat, membuat karya koleksinya begitu urban tanpa menghilangkan cita rasa tradisional.

5. Fashion dan seni akhirnya kawin.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Susah untuk mengawinkan fashion dan seni murni. Namun Mel Ahyar adalah orangnya. Lewat kolaborasinya dengan pelukis ternama Jeihan, Mel menghasilkan koleksi couture yang penuh drama dalam siluet khasnya, dan puitis dalam eksekusinya. Tiap busana ibarat seni yang bisa dikenakan - lihat saja Ayu Dewi yang keren mengenakan dress di atas ini. Kalau kamu sudah bosan? masukkan saja baju ini ke dalam bingkai.

6. Plastic is the new silk.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Beberapa desainer lokal mencoba mendobrak rasa nyaman masing-masing. Kita bisa lihat, Danjyo Hiyoji tampil penuh warna hingga Rama Dauhan hadir dengan koleksi yang sensitif. Tapi nggak ada yang lebih berani selain Hian Tjen dengan gaun plastik yang provokatif. Dikemas secara avant-garde, Hian Tjen menampilkan tidak hanya opsi, tapi gaya baru - terutama di Indonesia - ke level berikutnya.

7. Gaun pengantin yang (makin) kekinian.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Sejak pernikahan di alam bebas (outdoor) ala Andien dan Ippe menjadi hits dikalangan anak muda. Tren gaun pengantin yang sederhana pun ikut naik daun. Jika kamu merasa bukan tipe mempelai bak Cinderella, rasanya look terakhir dari koleksi Anak milik Fbudi bisa menjadi pilihan yang tepat dengan detail embroidery dan beadwork yang indah. No more gaun pengantin yang ribet.

8. Saingan baru fashion retail internasional.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Miris melihat fashion retail seperti H&M, ZARA, & Topshop 'merajai' industri fashion di tanah air. Tapi nggak perlu diambil pusing, lewat lini All The Horses (ATH) milik Barli Asmara dan Kukuh, ATH siap bersaing secara sehat. Kamu bisa lihat sendiri pada situsnya, semua koleksinya (ada denim, ruffle, leather goods, dll) mampu menyaingi fashion retail internasional. Tentu dengan kelebihan utama yaitu koleksi ATH hadir dengan karakter Barli yang edgy.

9. Hijab rebel.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Hijab mungkin menutup tubuh secara fisik, tapi tidak menutup jiwa yang memberontak. Jenahara Black Label menghentak dunia hijabers dengan koleksi yang rebel. Adanya leather, detail rantai, hingga slogan yang menyindir, menjadi pemandangan kontras yang siap menaikkan eksistensi street style hijabers di tahun ini. 

10. Customer is still the king.

Potret Industri Fashion Indonesia Di Tahun 2017

Photo: Michael Richards / Popbela

Tanpa sisi komersil, sebuah bisnis juga susah untuk bertahan. Apalagi konsumen fashion di Indonesia paling anti yang namanya terlihat 'aneh'. Jadi mengenal siapa konsumen sebenarnya adalah strategi bisnis yang dari tahun ke tahun menjadi jalan keluar yang terbaik. Yosafat Dwi Kurniawan dan Albert Yanuar adalah desainer yang tahu bagaimana memberikan treatment kepada konsumennya. Kuncinya: hadir dengan ide yang segar, olah dalam karya yang customer-friendly, nggak perlu banyak detail, tapi tetap ada twist-nya. Ka-ching!

 

BACA JUGA: Inilah Karya Desainer Indonesia Paling Keren yang Mewarnai Tahun 2016