Deretan 'Hit Bag' dari Direktur Kreatif Baru di Rumah Mode Dunia

Dior Book Tote karya Jonathan Anderson menampilkan tas berukuran besar dengan eksplorasi bordir, motif, dan reinterpretasi logo Dior.
Chanel XL Tote karya Matthieu Blazy tampil oversized namun tetap mewah dengan DNA elegan Chanel.
Bottega Veneta Veneta Bag hadir dengan anyaman kulit khas brand yang menjadi contoh craftsmanship tanpa logo mencolok.
Dalam industri fashion, debut seorang creative director baru selalu datang dengan ekspektasi besar. Selain koleksi runway yang memukau, ada satu elemen yang sering menjadi tolak ukur keberhasilan, yaitu lahirnya sebuah 'hit bag' alias tas yang sukses secara komersial.
Aksesori ini jadi simbol dimulainya era kreatif yang baru, menarik konsumen, sekaligus membangun identitas desain rumah mode untuk musim-musim berikutnya. Berikut deretan tas yang mencuri perhatian sebagai representasi era baru di berbagai rumah mode global.
1. Dior Book Tote karya Jonathan Anderson

Di Dior, Jonathan Anderson membawa pendekatan baru ke dalam siluet ikonis Book Tote. Tas berukuran besar ini jadi kanvas eksplorasi bordir, motif, dan reinterpretasi logo Dior. Lewat Book Tote, sang desainer ingin membuktikan bahwa tas berbasis kanvas bisa jadi produk high-margin dengan daya tarik luas.
2. Chanel XL Tote karya Matthieu Blazy

Matthieu Blazy memperkenalkan XL Tote Chanel dengan ukuran oversized dan super practical. Sebuah tas yang realistis buat kebutuhan sehari-hari, tapi tetap mewah. Siluetnya besar, fungsional, tapi tetap mempertahankan DNA elegan khas Chanel.
3. Bottega Veneta Veneta Bag karya Louise Trotter

Bottega Veneta kembali membuktikan kekuatan teknik intrecciato lewat Veneta Bag. Siluetnya lembut, tapi instantly recognizable berkat anyaman kulit khas brand tersebut.
Veneta Bag menjadi contoh bagaimana craftsmanship bisa menjadi daya tarik utama tanpa perlu logo mencolok serta mampu bertahan lintas era creative director.
4. Loewe Amazona 180 karya Jack McCollough & Lazaro Hernandez

Di awal 2026, Loewe memperkenalkan redesign besar untuk tas ikonisnya, Amazona. Momen ini sekaligus menjadi debut resmi creative director Jack McCollough dan Lazaro Hernandez.
Untuk koleksi Spring/Summer 2026, versi terbaru ini diberi nama Amazona 180, merujuk pada perayaan 180 tahun berdirinya Loewe. Versi 180 bergerak ke arah yang lebih santai, siluetnya kini lebih slouchy, memberikan kesan effortless sekaligus modern.
5. Balenciaga Bolero Bowling Bag karya Pierpaolo Piccioli

Kehadiran Pierpaolo Piccioli di Balenciaga membawa vibe romantic yang lebih halus. Bolero Bowling Bag hadir dengan bentuk klasik ala tas bowling, tapi dipoles jadi lebih modern dan chic. Tipe tas yang kelihatan timeless tapi tetap relevan.
6. Givenchy Snatch Bag karya Sarah Burton

Di bawah arahan Sarah Burton, Givenchy memperkenalkan Snatch Bag sebagai simbol transisi menuju siluet yang lebih tegas. Desainnya menggabungkan struktur clean dengan sentuhan hardware.
Snatch Bag menampilkan sharp tailoring dan feminitas modern, karakter yang juga melekat pada pendekatan desain Sarah Burton. Nggak terlalu ramai, tapi cukup bold untuk jadi statement.


















