Coach Fall 2026: Ketika Skate Culture Bertemu Warisan Americana

- Skate culture menjadi benang merah koleksi Coach Fall/Winter 2026, dengan jaket plaid, Bermuda shorts, dan high-top sneakers.
- Show digelar di The Cunard Building dengan nuansa film noir, menampilkan langit-langit tinggi dan pencahayaan dramatis.
- Direktur kreatif Stuart Vevers mengambil inspirasi dari film 'The Wizard of Oz' untuk koleksi ini, dengan transisi warna dramatis di runway.
Di tengah riuhnya New York Fashion Week, Coach Fall/Winter 2026 jadi salah satu show yang mencuri perhatian musim ini. Di bawah arahan kreatif Stuart Vevers, rumah mode asal New York yang telah berdiri selama 85 tahun ini kembali membuktikan eksistensinya lewat koleksi yang memadukan warisan Americana dengan energi skate culture generasi baru.
Digelar di The Cunard Building dengan atmosfer dramatis, pertunjukan ini menghadirkan perjalanan visual yang terinspirasi dari The Wizard of Oz. Penasaran seperti apa wujudnya? Simak hal menarik di pertunjukan Coach Fall 2026!
1. Skate culture jadi bintang utama

Skate culture menjadi benang merah koleksi Coach Fall/Winter 2026. Model tampil dengan jaket plaid yang grungy, distressed Bermuda shorts, hingga high-top sneakers seolah baru keluar dari skate park. Referensi atletik juga hadir lewat varsity jacket bergaya 50-an serta tas unik yang terbuat dari vintage football dan baseball mitt.
2. Venue bersejarah dengan nuansa film noir

Show digelar di The Cunard Building, landmark neo-Renaissance rancangan Carrére & Hastings di downtown Manhattan. Dengan langit-langit coffered yang tinggi dan pencahayaan dramatis, runway terasa seperti adegan film noir klasik.
3. Inspirasi dari The Wizard of Oz

Direktur kreatif Stuart Vevers mengambil inspirasi dari film klasik 'The Wizard of Oz' setelah menontonnya bersama anak-anaknya. Ia terinspirasi dari transisi visual film tersebut, dari sepia monokrom menuju Technicolor Oz yang penuh warna.
Koleksi ini bahkan didedikasikan untuk putrinya yang baru lahir, Fawn, sebagai refleksi emosional tentang warisan, generasi, dan bagaimana pakaian dapat menyimpan cerita lewat goresan, sobekan, atau patina.
4. Transisi warna dramatis di runway

Runway dibuka dengan palet moody abu-abu gelap dan hitam pekat. Memasuki Look 12, warna mulai muncul seperti cherry red, soft blue, hingga deep violet. Menariknya, hampir setiap look memiliki versi grayscale.
5. Sentuhan 1940s tailoring dan 70s sportswear

Koleksi ini memadukan tailoring era 1940-an dengan sportswear ’70-an. Flared trousers, rok A-line, dan blazer terstruktur berjalan berdampingan dengan jersey vintage dan denim.
Gaun floor-length berkerah tinggi dengan lengan panjang memberi nuansa klasik, namun diberi sentuhan grunge. Ada pula evening gowns yang terinspirasi Hollywood tahun 30-an dengan pinggang ramping dan padded shoulders.
6. Outerwear menjadi fokus utama

Outerwear mendominasi, mulai dari varsity jacket berbahan leather dan wool hingga versi all-shearling untuk pertama kalinya. Peacoat klasik, suede coat dengan faux fur collar, serta trench memperlihatkan komitmen Coach terhadap desain berkelanjutan.
7. Aksesori yang siap viral

Leathergoods kembali jadi sorotan utama aksesori. Kisslock Frame bag dengan proporsi east-west yang ramping tampil dalam warna almond dan maple, serta versi plaid wool. Detail turn-and-lock brass yang pertama kali diperkenalkan oleh Bonnie Cashin pada akhir 1960-an kini berevolusi dalam berbagai interpretasi modern.
Untuk footwear, sepatu Coach Skate Sneaker tanpa tali menjadi highlight musim ini. Memperkuat kesan edgy yet sleek di penampilan.


















