instagram.com/yayoikusamamuseum
Selama hidup, Yayoi kerap terbuka tentang kehidupannya yang sempat berjuang dari penyakit mental. Sejak usia sekitar 10 tahun, Kusama mulai mengalami halusinasi berupa titik-titik (dots) yang seolah memenuhi pandangannya, bunga-bunga, dan kilatan cahaya. Pengalaman inilah yang kelak menjadi inspirasi motif polkadot dalam karyanya yang justru populer serta melekat padanya.
Ia juga tumbuh dalam keluarga yang penuh gesekan dan sempat ditentang saat ingin mendalami seni. Hal ini turut mendorongnya untuk pergi jauh dari Jepang demi mengejar cita-cita sebagai seniman. Pada 1957, di usia 27 tahun, Kusama nekat pindah ke New York, Amerika Serikat dan menjadi salah satu perempuan Jepang pertama yang merantau demi seni.
Kehidupannya di New York pun tak jauh dari berbagai tekanan dan tantangan. Dalam beberapa wawancara, Kusama terbuka berbicara mengenai perjuangannya dengan kesehatan mental. Ia pernah mengatakan bahwa New York-lah yang "memberinya" neurosis, yaitu gangguan mental ringan yang menyebabkan rasa tertekan, cemas, atau emosi negatif, tetapi bisa membedakan kenyataan dengan baik.
Sekitar tahun 1977, sepulangnya ke Jepang, Kusama secara sukarela memilih tinggal di rumah sakit jiwa selama puluhan tahun hingga akhir hayatnya. Setiap pagi, ia pergi ke studionya yang tak jauh dari tempat tinggalnya itu untuk tetap berkarya.