Profil Soleh Solihun, dari Editor hingga Kontroversi Juri Indonesian Idol

- Soleh Solihun, juri Indonesian Idol musim ke-14, menuai pro dan kontra karena latar belakangnya sebagai komedian dan kritik pedas.
- Lahir pada 2 Juni 1979, Soleh memiliki latar belakang jurnalis musik dan editor Rolling Stone Indonesia sebelum terkenal sebagai stand-up comedian.
- Rekam jejak panjang Soleh sebagai jurnalis musik, pengamat industri hiburan, dan pengalaman di balik layar film membuatnya memiliki perspektif berbeda dan jujur sebagai juri.
Soleh Solihun kembali menjadi sorotan publik setelah namanya diumumkan sebagai salah satu juri Indonesian Idol musim ke-14. Keputusan ini memantik pro dan kontra. Tak sedikit yang menilai ia “tidak cocok” karena dikenal dengan kritik pedas dan latar belakangnya sebagai stand-up comedian, bukan musisi. Julukan “Si Mulut Beracun” pun kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Namun, benarkah Soleh Solihun hanya sekadar komedian dengan komentar tajam? Atau justru publik lupa bahwa jauh sebelum dikenal sebagai komika, ia adalah seorang jurnalis musik berpengaruh, bahkan pernah menjadi editor di Rolling Stone Indonesia? Kalau ingin mengetahui profil Soleh Solihun, mari simak informasinya dalam artikel berikut ini, Bela!
Profil dan pendidikan Soleh Solihun

Soleh Solihun lahir pada 2 Juni 1979. Ia menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, dan meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S-1). Latar belakang akademik ini menjadi fondasi penting bagi kiprahnya di dunia jurnalistik, media, hingga industri hiburan.
Sejak awal, Soleh dikenal memiliki ketertarikan besar pada dunia seni, budaya pop, dan musik. Minat tersebut tidak berhenti sebagai hobi, melainkan berkembang menjadi jalur profesional yang membawanya berkecimpung sebagai jurnalis musik, pengamat budaya, hingga figur publik yang kerap menyuarakan pandangan kritisnya.
Perjalanan karier Soleh Solihun dari jurnalis musik ke panggung hiburan

Karier profesional Soleh Solihun dimulai sebagai jurnalis. Ia pernah bekerja sebagai reporter majalah Trax (2004–2005), editor Playboy Indonesia (2006–2008), hingga editor Rolling Stone Indonesia (2008–2011), sebuah majalah musik internasional yang dikenal memiliki standar editorial tinggi. Saat bekerja di Playboy Indonesia, salah satu tulisannya meraih Anugerah Adiwarta Sampoerna 2006 sebagai tulisan feature terbaik kategori Seni dan Budaya. Penghargaan ini menegaskan reputasinya sebagai penulis yang tajam, kritis, dan berwawasan luas, khususnya dalam mengulas karya dan fenomena seni.
Selain media cetak, Soleh juga sempat menjadi penyiar radio di 91.6 Indika FM Jakarta selama sekitar empat tahun. Di masa aktifnya di Rolling Stone Indonesia, ia dipercaya menjadi pembawa acara Release Party, acara rutin bulanan yang membahas rilisan musik terbaru dan mempertemukan musisi dengan publik. Pengalaman inilah yang membentuk sudut pandangnya terhadap musik, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai karya dan industri.
Awal kepopuleran Soleh Solihun sebagai stand-up comedian

Langkah Soleh ke dunia komedi terjadi secara tidak terduga. Pada 2010, ia diminta tampil stand-up comedy dalam sebuah acara off-air radio. Aksinya direkam dan diunggah ke YouTube, lalu menarik perhatian produser Metro TV.
Pada 2011, Soleh menjadi stand-up comedian pertama yang tampil di episode perdana program Stand Up Comedy Show Metro TV. Dari sinilah namanya dikenal luas publik. Gaya komedinya khas: observatif, blak-blakan, dan sering kali terasa “pedas”, namun berbasis riset dan sudut pandang kritis.
Salah satu momen unik dalam kariernya adalah ketika ia pernah tampil melawak di hadapan Joko Widodo (sebelum menjabat Gubernur DKI Jakarta), dengan materi seputar lalu lintas Jakarta. Kepopulerannya kian diakui setelah ia tergabung dalam grup The Prediksi.
Karier akting dan penyutradaraan

Setelah dikenal sebagai komika, Soleh memperluas kiprahnya ke dunia film. Ia tampil dalam berbagai judul populer, antara lain Cinta Brontosaurus, Bajaj Bajuri the Movie, Comic 8: Casino Kings (Part 1 & 2), Hangout (2016), Reuni Z, Ngeri-Ngeri Sedap, dan Agak Laen (2024).
Film Hangout menjadi salah satu titik penting karena memperkuat posisinya sebagai aktor dengan karakter autentik. Tak hanya di depan kamera, Soleh juga aktif di balik layar. Ia menyutradarai film Mau Jadi Apa? (2017) bersama Monty Tiwa, yang terinspirasi dari masa kuliahnya, Menyutradarai Reuni Z (2018), terlibat sebagai pengembang cerita sekaligus sutradara dalam Star Syndrome (2023) dan film dokumenter Harta Tahta Raisa (2024).
Selain film dan televisi, Soleh aktif sebagai presenter berbagai acara TV, panelis dan juri program hiburan, hingga pengisi podcast, seperti Vixtape di kanal Vindes dan Podcast Naik Kelas. Gaya bicaranya yang lugas, jujur, dan minim basa-basi menjadi ciri khas yang membuatnya disukai sekaligus dikritik.
Kontroversi Soleh Solihun jadi juri Indonesian Idol

Indonesian Idol musim ke-14 menghadirkan susunan juri baru. Nama Anang Hermansyah tak lagi ada, dan digantikan oleh sosok-sosok baru seperti Soleh Solihun, Vincent Rompies, Sal Priadi, dan Reza Arap, yang bergabung dengan juri lama seperti Rossa, Judika, Maia Estianty, dan Bunga Citra Lestari (BCL).
Penunjukan Soleh menuai kritik karena ia dianggap bukan musisi dan terlalu tajam dalam berkomentar. Namun jika ditilik lebih dalam, Soleh memiliki rekam jejak panjang sebagai jurnalis musik, editor Rolling Stone Indonesia, serta pengamat industri hiburan yang memahami konteks artistik dan kultural.
Kritik pedas yang ia sampaikan bukan sekadar sensasi, melainkan lahir dari pengalaman panjang, literasi musik, dan sudut pandang editorial yang kuat. Justru di situlah nilai tambah Soleh Solihun sebagai juri: menghadirkan perspektif berbeda, jujur, dan apa adanya.
Itulah profil Soleh Solihun, figur dengan latar belakang jurnalis musik yang kini dipercaya menjadi juri Indonesian Idol musim ke-14. Kalau ada informasi lain yang kamu ketahui, bisa tulis lewat kolom komentar, Bela!


















