Profil Jeffrey Epstein, dari Guru Sekolah hingga Terbongkarnya Skandal Seks

- Jeffrey Epstein, terpidana kejahatan seksual anak, memiliki akses luas ke lingkaran elite dunia dan kekayaan misterius yang mencapai US$ 630 juta menjelang kematiannya.
- Awal karier sebagai guru sekolah di Dalton School membuka pintu menuju jaringan elite New York dan menjadi batu loncatan menuju kekuasaan ekonomi yang lebih besar.
- Kekayaan Epstein digunakan sebagai alat kekuasaan untuk membangun jaringan sosial elite, membiayai perjalanan global dengan jet pribadi, serta memperoleh akses langsung ke tokoh politik, bisnis, dan akademisi di berbagai negara.
Nama Jeffrey Epstein tetap menjadi salah satu yang paling kontroversial dalam sejarah kejahatan modern. Ia bukan hanya dikenal sebagai terpidana kejahatan seksual terhadap anak, tetapi juga sebagai figur penuh teka-teki yang memiliki akses luas ke lingkaran elite dunia—mulai dari politisi, bangsawan, pengusaha, hingga akademisi ternama. Kekayaannya yang besar, sumbernya yang tidak transparan, serta jaringan pergaulan lintas negara membuat kasus Epstein melampaui batas perkara kriminal biasa.
Meski Epstein meninggal dunia pada 2019, kisahnya terus berkembang. Pada awal 2026, jutaan halaman Epstein Files yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat kembali membuka tabir baru tentang kehidupan dan relasinya. Dokumen-dokumen itu memunculkan fakta-fakta mengejutkan—dari catatan perjalanan global, foto-foto yang belum pernah dipublikasikan, hingga pengiriman potongan Kiswah Ka’bah ke rumah pribadinya. Semua itu menegaskan bahwa kasus Epstein masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Lantas, seperti apa sebenarnya sosok Jeffrey Epstein? Mari simak informasinya dalam artikel berikut ini, Bela!
Latar keluarga dan pendidikan Jeffrey Epstein

Jeffrey Edward Epstein lahir pada 20 Januari 1953 di Brooklyn, New York, dari keluarga Yahudi kelas menengah. Ayahnya, Seymour Epstein, bekerja di Departemen Taman Kota New York, sementara ibunya, Pauline Epstein, merupakan ibu rumah tangga. Tidak ada catatan publik yang menunjukkan Epstein berasal dari keluarga kaya atau berpengaruh.
Ia tumbuh besar di lingkungan perkotaan New York dan menempuh pendidikan di Cooper Union serta New York University, meski tidak pernah tercatat menyelesaikan gelar akademik. Latar keluarga yang relatif sederhana ini kerap menjadi sorotan karena kontras dengan kehidupan mewah dan jaringan global yang kemudian ia bangun.
Awal karier sebagai guru sekolah

Pada 1974, Epstein bekerja sebagai guru matematika dan fisika di Dalton School, sekolah elite di Manhattan, meskipun tidak memiliki sertifikasi mengajar resmi. Di lingkungan inilah ia mulai berinteraksi dengan keluarga-keluarga kaya dan berpengaruh.
Dua tahun kemudian, pada 1976, Epstein meninggalkan dunia pendidikan dan bergabung dengan perusahaan investasi Bear Stearns. Kariernya di sektor keuangan membuka pintu menuju jaringan elite New York dan menjadi batu loncatan menuju kekuasaan ekonomi yang lebih besar.
Kekayaan misterius dan bisnis keuangan

Setelah keluar dari Bear Stearns, Epstein mendirikan J. Epstein & Company, perusahaan pengelolaan aset yang diklaim hanya melayani klien dengan kekayaan sangat besar. Namun, hingga kini, tidak pernah ada penjelasan terbuka dan rinci mengenai bagaimana Epstein secara konsisten memperoleh dan mengembangkan hartanya.
Dokumen perencanaan warisan yang terungkap kemudian menunjukkan bahwa total kekayaan Jeffrey Epstein menjelang kematiannya diperkirakan mencapai sekitar US$630 juta, atau setara ± Rp9,8 triliun (dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS). Angka tersebut tercantum dalam dokumen The 1953 Trust yang ditandatangani Epstein pada 8 Agustus 2019, dua hari sebelum ia ditemukan tewas di penjara Manhattan.
Kekayaan itu mencakup aset keuangan, properti mewah di Manhattan, Paris, New Mexico, serta dua pulau pribadi di Kepulauan Virgin AS. Seiring proses hukum pascakematian, nilai harta tersebut terus menyusut. Berdasarkan laporan keuangan publik hingga September 2025, sisa harta warisan Epstein diperkirakan tinggal sekitar US$127 juta, atau sekitar Rp2 triliun, setelah ratusan juta dolar digunakan untuk kompensasi korban, pajak, penyelesaian gugatan, dan biaya hukum.
Hubungannya dengan miliarder ritel Leslie Wexner menjadi salah satu elemen paling krusial dalam perjalanan finansialnya. Epstein mengelola berbagai urusan keuangan Wexner dan memperoleh akses luas ke properti serta jaringan bisnis internasional. Meski demikian, sumber utama kekayaannya tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan sepenuhnya.
Untuk apa kekayaan Jeffrey Epstein digunakan?

Kekayaan Epstein berfungsi lebih dari sekadar aset pribadi. Uang digunakannya sebagai alat kekuasaan untuk membangun jaringan sosial elite, membiayai perjalanan global dengan jet pribadi, serta memperoleh akses langsung ke tokoh politik, bisnis, dan akademisi di berbagai negara. Properti-properti mewah miliknya—di New York, Florida, New Mexico, dan Karibia—memberinya ruang tertutup yang memungkinkan kontrol penuh atas lingkungan sekitarnya.
Dalam ranah hukum, kekayaan tersebut memungkinkan Epstein menyewa pengacara papan atas dan bernegosiasi dengan aparat penegak hukum, termasuk dalam perjanjian hukum kontroversial pada 2008. Selain itu, filantropi di bidang sains dan pendidikan menjadi sarana membangun legitimasi publik, yang pada saat bersamaan mengaburkan perilaku kriminal yang berlangsung di balik layar.
Jaringan sosial, kekuasaan, dan akses global

Epstein dikenal memiliki pergaulan luas dengan tokoh-tokoh dunia. Ia dikaitkan dengan politisi, bangsawan, pengusaha, dan akademisi ternama, termasuk Pangeran Andrew, Bill Clinton, dan Donald Trump, dengan tingkat kedekatan yang berbeda-beda.
Dokumen perjalanan dalam Epstein Files menunjukkan mobilitas internasional yang intens. Catatan penerbangan dan korespondensi mencatat kunjungan Epstein ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Nama Jakarta dan Bali muncul dalam sejumlah dokumen, disertai foto Epstein bersama Ghislaine Maxwell dan tokoh global lain di lokasi wisata Bali, mempertegas luasnya jangkauan dan akses internasional yang ia miliki.
Pola kejahatan seksual dan korban

Di balik citra sebagai pengusaha dan dermawan, Epstein menjalankan pola kejahatan seksual yang sistematis. Ia merekrut gadis-gadis di bawah umur—banyak di antaranya berasal dari latar belakang rentan—dengan iming-iming uang, hadiah, atau janji bantuan finansial.
Pelecehan dan eksploitasi terjadi di berbagai properti miliknya, termasuk di New York, Florida, New Mexico, serta pulau pribadinya di Karibia. Ghislaine Maxwell, rekan dekat Epstein, kemudian terbukti berperan dalam proses perekrutan dan pengaturan korban.
Kasus Epstein pertama kali diselidiki secara serius pada 2005 di Palm Beach, Florida. Namun pada 2008, ia menandatangani perjanjian non-prosecution dengan jaksa federal yang membuatnya hanya menjalani 13 bulan hukuman penjara ringan di tingkat negara bagian, dengan izin keluar hampir setiap hari.
Kesepakatan ini menuai kecaman luas dan dianggap sebagai contoh kegagalan sistem peradilan dalam menghadapi pelaku kejahatan yang memiliki kekuasaan dan sumber daya finansial besar.
Penangkapan kembali dan kematian di penjara

Pada 6 Juli 2019, Epstein ditangkap kembali atas dakwaan perdagangan seks anak di tingkat federal setelah tiba di Bandara Teterboro, New Jersey, dari Prancis. Ia ditahan di Metropolitan Correctional Center (MCC), New York, dan menyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan.
Pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas di dalam selnya pada usia 66 tahun, sebelum persidangan dimulai. Otoritas medis pada 16 Agustus 2019 menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri. Namun, berbagai kejanggalan—mulai dari pengawasan yang longgar hingga kamera pengawas yang tidak berfungsi—memicu keraguan publik dan melahirkan beragam teori.
Epstein Files: Fakta baru yang menyoroti Jeffrey Epstein

Pada 30 Januari 2026, Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis sekitar 3 juta halaman Epstein Files, yang mencakup lebih dari 18.000 foto dan 2.000 video. Salah satu temuan paling mengejutkan adalah pengiriman tiga potongan Kiswah, penutup Ka’bah, ke rumah Epstein pada Maret 2017, saat ia telah berstatus terpidana kejahatan seksual.
Email yang mengatur pengiriman tersebut menekankan nilai religius Kiswah dan melibatkan pihak-pihak di Timur Tengah. Hingga kini, tidak ada penjelasan resmi mengenai motif pengiriman tersebut maupun hubungan Epstein dengan para pengirimnya. Fakta ini, bersama catatan perjalanan internasional lainnya, kembali mengguncang publik dan memunculkan pertanyaan baru.
Kasus Jeffrey Epstein menunjukkan bagaimana kekayaan, jaringan, dan kekuasaan dapat menciptakan ruang gelap yang sulit ditembus hukum. Meski pelakunya telah meninggal, dokumen-dokumen yang terus dibuka justru menegaskan bahwa kebenaran tentang Epstein belum sepenuhnya terungkap. Setiap fakta baru tidak hanya menambah informasi, tetapi juga memperpanjang daftar pertanyaan yang masih menunggu jawaban.


















