instagram.com/misssupranational
Setelah hadirnya penilaian yang juga menekankan pada keterampilan dan kecerdasan, organisasi pageant global seperti Miss Universe, Miss World, Miss Grand International, dan Miss Earth mulai ikut beradaptasi dengan nilai-nilai kesetaraan gender dan keberagaman.
Standar penjurian kembali bergeser. Hal ini ditandai mulai dari penghapusan atau rebranding swimsuit/bikini. Penggunaan bikini sendiri telah mendapat kecaman dari para pemuka agama sejak tahun 1946. Busana ini sempat beberapa kali dilarang dan dihapuskan. Namun, sesi tersebut baru benar-benar mulai dihilangkan sejak tahun 2014.
Pada tahun tersebut, ajang Miss World secara resmi mengakhiri dan menggugurkan babak pakaian renang dari ajangnya, dan berfokus pada kegiatan sosial melalui Beauty with a Purpose-nya mulai tahun 2015.
Miss America juga menghapus total sesi pakaian renang sejak tahun 2018. Sementara Miss Universe mengubah fokusnya dari sekadar lekuk tubuh menjadi simbol rasa percaya diri dan kesehatan fisik (fitness & wellness).
Pemenang ajang kecantikan akan dipilih berdasarkan dampak nyata dari proyek sosial yang mereka jalankan (Voice for Change, Beauty with a Purpose), kemampuan public speaking, dan kepemimpinan.
Kini, peserta yang mendaftar pun terbuka untuk semua kalangan, meski beberapa juga sempat menuai pro dan kontra. Misalnya, Miss Universe resmi mengizinkan partisipasi perempuan transgender sejak 2012, di mana Angela Ponce dari Spanyol menjadi perempuan trans pertama di panggung Miss Universe 2018.
Sejak tahun 2023, Miss Universe juga menghapus aturan yang melarang perempuan menikah, bercerai, atau memiliki anak untuk berkompetisi. Di tahun selanjutnya, Miss Universe menghapus batas usia maksimal yang sebelumnya maksimal 28 tahun.
Jadi, dunia pageant sekarang nggak hanya tentang penampilan, tapi juga kualitas dari seseorang yang bisa menjadi inspirasi. Kamu tertarik untuk ikut dalam kontes ini?