Jika bicara mengenai gangguan kesehatan jiwa atau gangguan kesehatan mental, saran terbaik untuk mereka yang mengalaminya adalah dengan mengunjungi tenaga profesional. Dalam hal ini, kamu akan mendengar istilah terapis, psikolog, dan psikiater. Namun, apakah ketiganya sama?

Baik terapis, psikolog, maupun psikiater, sama-sama menawarkan pertolongan bagi pasien yang ingin sembuh dari gangguan kesehatan jiwa. Namun rupanya, ketiganya merupakan profesi yang berbeda untuk pasien dengan kebutuhan yang berbeda pula. Lantas, apa perbedaan dari tiga profesi ini? Melansir dari Huffington Post, ini perbedaan antara terapis, psikolog, dan psikiater.

1. Psikolog: Tenaga ahli yang berfokus pada masalah dan pengelolaan kesehatan mental

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Psikolog, Psikiater dan Terapis Pexels.com/Polina Zimmerman

Psikolog adalah tenaga ahli level dokter yang baru saja lulus dan mendapatkan gelar doktor filsafat atau doktor psikologi. Hal yang membedakan antara psikolog dengan tenaga kesehatan jiwa lainnya adalah pengetahuan mereka serta kemampuan merawat untuk berbagai masalah kesehatan mental. Orang-orang melihat psikolog sebagai tenaga ahli yang menangani gangguan kesehatan mental. Tetapi sebenarnya, mereka pun mampu membantu dengan masalah atau penyebab stres sehari-hari, seperti kemarahan atau kesedihan yang luar biasa, serangan panik, sakit kepala, gangguan tidur, dan sebagainya yang sulit untuk ditangani.

Psikolog menjadi orang yang tepat untuk dikunjungi ketika pasien berpikir dirinya butuh penilaian terhadap gejala mood atau fungsi interpersonal kurang efektif yang sulit dijelaskan. Selain itu, sudah menjadi praktik standar dalam keluarga praktisi medis untuk mereferensikan psikolog sebelum membuat resep obat psikiatris.

Tenaga ahli psikolog memiliki kemampuan dalam wawancara klinis dan evaluasi psikologikal yang komprehensif untuk mengkonfirmasi dan mengesampingkan diagnosis penyakit kejiwaan. Sesi ini sangat membantu karena psikolog dapat menjelaskan dan membantu pasien memahami gejala yang dialami karena kebanyakan pengalaman orang nggak sejelas seperti yang tertulis dalam buku. Ketika sudah membuat formulasi mengenai gejala dan telah menuliskan rencana penanganan yang lengkap, psikolog umumnya akan memanfaat pengobatan berbasis bukti, seperti terapi perilaku kognitif.

2. Psikiater: Dokter yang akan meresepkan pengobatan yang kamu butuhkan

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Psikolog, Psikiater dan Terapis Pexels.com/Bongkarn Thanyakij

Psikiater adalah dokter medis berlisensi yang telah menyelesaikan pelatihan psikiatris. Tenaga profesional ini memiliki lisensi untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mental dan dapat membuat resep serta memantau pengobatan, seperti antidepresan. Banyak juga dari psikiater yang terlatih untuk melakukan terapi berbicara. Namun, kebanyakan dari mereka akan fokus pada kondisi dan perawatan selanjutnya dari pandangan fisiologis. Artinya, psikiater menganalisis gejala, kemudian meresepkan pengobatan untuk membantu menangani gangguan kesehatan mental.

Pada banyak kasus, psikiater juga menjadi tenaga medis yang dapat membantu dalam hal hubungan, khususnya orangtua, mulai dari menganalisis anak masa usia dini. Namun, sebagian besar dari mereka akan merujuk pasien untuk mendatangi psikolog atau terapis lainnya jika ingin penangan berbasis terapi berbicara yang lebih dalam.

Psikater umumnya juga memiliki gelar pendidikan dalam obat-obatan atau obat osteopathic. Selain itu, mereka juga harus menyelesaikan residensi di psikiatri dan memiliki lisensi di daerah mereka melakukan praktik.

3. Terapis: Istilah dan tenaga profesional yang umum berkaitan dengan terapi bicara reguler

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Psikolog, Psikiater dan Terapis Pexels.com/Cottonbro

Pada dasarnya, 'Terapis' adalah istilah umum yang digunakan untuk tenaga kesehatan mental level paling tinggi yang dapat membantu menangani perjuangan kesehatan mental. Istilah 'terapis' atau 'konselor' sering dipakai secara bergantian. Di luar dari psikolog dan psikiater, terapis atau konselor meliputi pekerja sosial klinis berlisensi (LCSW), terapis pernikahan dan keluarga (MFT) dan konselor klinis profesional berlisensi (LPCC). Para ahli ini umumnya melanjutkan program sekolah pascasarjana dua tahun setelah menyelesaikan pendidikan sarjana mereka. Ada sedikit perbedaan antara gelar-gelar ini, namun pada dasarnya, terapis akan melakukan terapi individu atau berkelompok dalam berbagai situasi, termasuk praktik privat, sekolah, rumah sakit, klinik, pusat komunitas kesehatan mental dan penjara.

Perbedaan antara praktisi yang berbeda dalam grup terapis ini juga beragam tergantung pada pengaturan penanganannya. Misalnya, terapis pernikahan dan keluarga cenderung berfokus pada hubungan dan sistem, juga membantu pasangan dan keluarga. Ketika tenaga ahli ini menghadapi individual, mereka akan memahami dampak hubungan dalam hidup dan perasaan sang pasien. 

Contoh lainnya, pekerja sosial klinis berlisensi menyediakan terapi dan evaluasi diagnostik untuk membantu masalah kesehatan mental dan dukungan emosional. Kebanyakan dari mereka bekerja dengan orang-orang yang rentan dan terpinggirkan, juga menangani trauma rasi sistemik. Dengan kemampuan mengelola kasus, tenaga ahli ini mampu menyediakan terapi, serta mengkoordinasi dan mengelola perawatan tambahan yang memenuhi kebutuhan pasien.

Itulah penjelasan dari tiap-tiap jenis tenaga profesional di dunia kesehatan mental. Meski bekerja di bidang yang sama, ketiganya menangani pasien yang berbeda, di tingkat yang berbeda pula. 

Dengan mengenal lebih dalam mengenai psikolog, psikiater, dan terapis, kamu semakin memahami tenaga profeiosnal yang sesuai dengan kondisi kesehatan mentalmu jika memerlukan bantuan mereka. Informasi seperti ini pun berguna bagi kamu yang sedang mengejar cita-cita menjadi tenaga medis yang bergerak di bidang kesehatan mental. 

Itulah perbedaan antara psikolog, psikiater dan terapis. Mana kira-kira yang cocok untukmu, Bela?  

Baca Juga: Menemui Psikolog Itu Nggak Salah kok, Jadi Stop Memercayai 5 Mitos Ini

Baca Juga: 9 Ilustrasi Tentang Kesehatan Mental yang Wajib Kamu Sadari

Baca Juga: 7 Saran yang Perlu Kamu Dengar Sebelum Konsultasi dengan Psikolog