Baca artikel Popbela lainnya di IDN App
Install
For
You

11 Film Tentang Wartawan yang Wajib Ditonton, Terbaru 'The Devil Wears Prada 2'

11 Film Tentang Wartawan yang Wajib Ditonton, Terbaru 'The Devil Wears Prada 2'
Dok. The Devil Wears Prada 2
Intinya Sih
5W1H
  • Artikel menyoroti 11 film bertema jurnalisme yang menggambarkan perjuangan mencari kebenaran, dilema etika, hingga tekanan emosional di balik pekerjaan media dari era 1970-an hingga masa kini.

  • Film-film seperti Almost Famous, Spotlight, dan All the President’s Men menampilkan keberanian jurnalis dalam mengungkap fakta penting meski menghadapi risiko besar secara pribadi maupun profesional.

  • Sekuel The Devil Wears Prada 2 menjadi sorotan terbaru, memperlihatkan dinamika dunia media fashion di era digital serta tantangan baru antara ambisi karier dan kehidupan pribadi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dunia jurnalistik kerap menjadi sumber inspirasi yang kuat dalam perfilman, menghadirkan kisah-kisah penuh keberanian, dilema moral, hingga ambisi personal yang kompleks. Dari liputan musik di era 1970-an hingga investigasi politik besar yang mengguncang dunia, film-film bertema wartawan menawarkan perspektif mendalam tentang bagaimana kebenaran diperjuangkan.

Menariknya, minat terhadap cerita semacam ini terus berlanjut, bahkan hingga kabar terbaru mengenai sekuel The Devil Wears Prada 2 yang kembali mengangkat dinamika dunia media modern. Lalu, seperti apa potret kehidupan wartawan yang dihadirkan melalui layar lebar? Mari kita telusuri lebih jauh melalui deretan film berikut ini, Bela!

1. Almost Famous (2000)

Disutradarai oleh Cameron Crowe, film ini menghadirkan kisah coming-of-age yang berpusat pada William Miller (Patrick Fugit), seorang remaja yang bercita-cita menjadi jurnalis musik. Melalui sudut pandang William, penonton diajak menyelami dunia rock tahun 1970-an yang penuh kebebasan sekaligus konflik batin. Sosok Russell Hammond (Billy Crudup) menjadi figur sentral yang memperlihatkan kompleksitas kehidupan seorang musisi sekaligus relasinya dengan media.

Lebih dari sekadar kisah perjalanan, film ini merupakan refleksi semi-autobiografis dari pengalaman Crowe sendiri sebagai jurnalis muda di majalah Rolling Stone. Meski tidak meraih kesuksesan besar secara komersial, Almost Famous mendapatkan pengakuan luas dari kritikus dan bahkan memenangkan Academy Award untuk kategori Skenario Orisinal Terbaik. Film ini juga sering dianggap sebagai salah satu representasi paling jujur tentang hubungan antara jurnalis dan subjek liputannya.

2. Capote (2005)

Bergeser ke ranah jurnalisme sastra, Capote garapan Bennett Miller menyoroti sosok Truman Capote (Philip Seymour Hoffman), seorang penulis yang mendalami kasus pembunuhan brutal di Kansas. Dalam proses riset untuk buku In Cold Blood, Capote tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga menjalin kedekatan emosional dengan salah satu pelaku, Perry Smith (Clifton Collins Jr.), yang membuat batas antara jurnalis dan subjeknya semakin kabur.

Penampilan Hoffman sebagai Capote menjadi pusat kekuatan film ini, didukung oleh kehadiran Harper Lee (Catherine Keener), sahabat sekaligus penulis yang menemani proses peliputan. Film ini mengangkat dilema etis dalam jurnalisme: seberapa jauh keterlibatan pribadi dapat dibenarkan demi sebuah karya. Dengan pendekatan yang intim dan reflektif, Capote menghadirkan sisi gelap dari pencarian kebenaran sekaligus ambisi seorang penulis.

3. The Bang Bang Club (2010)

Apakah kamu pernah membayangkan bagaimana rasanya meliput konflik bersenjata secara langsung? The Bang Bang Club karya Steven Silver berlatar awal 1990-an, menjelang runtuhnya sistem apartheid di Afrika Selatan. Film ini mengikuti empat jurnalis foto yang mendokumentasikan kekerasan di lapangan, termasuk Greg Marinovich (Ryan Phillippe), Kevin Carter (Taylor Kitsch), Ken Oosterbroek (Frank Rautenbach), dan João Silva (Neels Van Jaarsveld). Mereka berada di garis depan konflik, mengabadikan momen-momen brutal yang mengguncang dunia.

Melalui pengalaman para tokohnya, film ini menunjukkan bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan panggilan yang menuntut keberanian sekaligus pengorbanan besar. Di balik foto-foto ikonik, tersimpan tekanan batin dan trauma mendalam akibat terus-menerus menyaksikan kekerasan. The Bang Bang Club tidak hanya menyoroti aksi di medan konflik, tetapi juga dampak psikologis yang harus ditanggung para jurnalis dalam upaya mengungkap realitas.

4. Kill the Messenger (2014)

Pada pertengahan 1990-an, di tengah gejolak politik dan isu perang narkoba di Amerika Serikat, Kill the Messenger garapan Michael Cuesta mengisahkan Gary Webb (Jeremy Renner), seorang reporter investigatif yang mengungkap dugaan keterkaitan antara CIA dan jaringan perdagangan narkoba. Melalui serangkaian laporan kontroversial, Webb menemukan fakta yang mengguncang, namun justru membawanya ke dalam tekanan besar dari pemerintah dan institusi media.

Seiring penyelidikannya berkembang, Webb menghadapi serangan balik yang mengancam karier dan kehidupan pribadinya. Ia menjadi target delegitimasi, bahkan oleh media lain, yang meragukan kredibilitasnya. Film ini menyoroti bagaimana pencarian kebenaran dalam jurnalisme investigatif sering kali berujung pada konsekuensi berat, menjadikan Kill the Messenger sebagai pengingat akan risiko nyata yang dihadapi para jurnalis.

5. All the President's Men (1976)

Di tengah memuncaknya Watergate scandal pada awal 1970-an, All the President's Men mengikuti dua jurnalis The Washington Post, Bob Woodward (Robert Redford) dan Carl Bernstein (Dustin Hoffman), yang perlahan mengungkap konspirasi politik hingga ke lingkaran kekuasaan tertinggi. Dalam prosesnya, mereka bekerja di bawah arahan editor Ben Bradlee (Jason Robards) dan menjalin komunikasi rahasia dengan sumber anonim “Deep Throat” (Hal Holbrook), yang memberi petunjuk penting dalam penyelidikan.

Melalui investigasi yang penuh kehati-hatian, verifikasi berlapis, dan tekanan politik yang intens, Woodward dan Bernstein membuktikan bahwa kebenaran tidak mudah diungkap, tetapi tetap harus diperjuangkan. Film ini menegaskan pentingnya ketekunan dan integritas dalam jurnalisme, sekaligus menunjukkan peran media dalam menjaga demokrasi. All the President’s Men menjadi salah satu representasi paling ikonik dari jurnalisme investigatif, disutradarai oleh Alan J. Pakula.

6. Spotlight (2015)

Bergeser ke era yang lebih modern, film garapan Tom McCarthy ini menghadirkan potret kerja tim investigasi The Boston Globe. Melalui karakter seperti Michael Rezendes (Mark Ruffalo) dan Robby Robinson (Michael Keaton), film ini menggambarkan bagaimana sebuah tim kecil mampu mengungkap skandal besar yang telah lama disembunyikan.

Lebih dari sekadar investigasi, Spotlight menyoroti dampak emosional dan sosial dari pekerjaan jurnalistik. Para jurnalis tidak hanya berhadapan dengan institusi besar, tetapi juga dengan tekanan pribadi dan moral. Film ini meraih Academy Award untuk Best Picture, sekaligus menegaskan pentingnya ketekunan dan integritas dalam mengungkap kebenaran yang sistemik.

7. The Post (2017)

Di bawah arahan Steven Spielberg, film ini mengangkat kisah nyata penerbitan Pentagon Papers oleh The Washington Post. Sosok Katharine Graham (Meryl Streep) menjadi pusat cerita, menggambarkan dilema seorang pemimpin media yang harus memilih antara keamanan perusahaan dan kepentingan publik.

Di sisi lain, Ben Bradlee (Tom Hanks) sebagai editor mendorong keberanian redaksi untuk tetap mempublikasikan informasi penting. The Post memperlihatkan bahwa kebebasan pers sering kali harus diperjuangkan dengan risiko besar, termasuk ancaman hukum dan tekanan politik. Film ini sekaligus menjadi refleksi relevan tentang peran media dalam menjaga transparansi kekuasaan.

8. Zodiac (2007)

Zodiac menghadirkan sisi lain dari dunia jurnalistik melalui kisah obsesi terhadap sebuah misteri kriminal. Berlatar akhir 1960-an hingga 1970-an, saat teror Zodiac Killer menghantui San Francisco, cerita berfokus pada Robert Graysmith (Jake Gyllenhaal), seorang kartunis surat kabar yang perlahan terseret dalam pusaran investigasi. Ia bekerja di lingkungan San Francisco Chronicle bersama jurnalis Paul Avery (Robert Downey Jr.), yang turut terlibat dalam peliputan kasus tersebut.

Berbeda dengan film investigatif pada umumnya, Zodiac menekankan bagaimana pencarian kebenaran dapat berubah menjadi obsesi yang menggerus kehidupan pribadi. Keterlibatan Graysmith dan Avery menunjukkan tekanan mental yang muncul akibat kedekatan dengan kasus besar yang tak kunjung terpecahkan. Film ini menjadi refleksi bahwa dalam jurnalisme, batas antara profesionalitas dan keterikatan emosional sering kali kabur, disutradarai oleh David Fincher.

9.. Frost/Nixon (2008)

Disutradarai oleh Ron Howard, film ini mengangkat jurnalisme dalam format wawancara televisi yang penuh strategi. Kisahnya berpusat pada David Frost (Michael Sheen), seorang pembawa acara yang berusaha mendapatkan pengakuan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon (Frank Langella), terkait skandal Watergate.

Film ini menyoroti bahwa wawancara bukan sekadar tanya jawab, melainkan arena pertarungan intelektual dan psikologis. Frost harus mempersiapkan diri secara matang untuk menghadapi narasumber yang cerdik dan berpengalaman. Frost/Nixon menunjukkan bahwa jurnalisme juga dapat menjadi alat untuk meminta pertanggungjawaban publik dari figur berkuasa, melalui pendekatan yang tajam namun elegan.

10. Network (1976)

Network menghadirkan kritik tajam terhadap dunia media melalui kisah Howard Beale (Peter Finch), seorang pembawa berita yang mengalami tekanan mental di tengah tuntutan rating televisi. Berlatar pertengahan 1970-an, film ini menunjukkan bagaimana krisis pribadi Beale justru dimanfaatkan oleh industri untuk mendongkrak popularitas, hingga batas antara informasi dan hiburan semakin kabur.

Diproduksi oleh Metro-Goldwyn-Mayer, Network tetap relevan karena menggambarkan komersialisasi media dan eksploitasi emosi publik. Ketika kemarahan dijadikan tontonan, nilai-nilai jurnalistik mulai terpinggirkan, menjadikan film ini bukan sekadar drama, tetapi juga peringatan tajam tentang arah perkembangan media modern, disutradarai oleh Sidney Lumet.

11. The Devil Wears Prada 2 (2026)

Berlatar pertengahan 2020-an di tengah perubahan lanskap media digital, sekuel ini melanjutkan kisah dunia fashion yang penuh tekanan dan ambisi. Andrea “Andy” Sachs (Anne Hathaway) kembali ke majalah Runway, sementara Miranda Priestly (Meryl Streep) harus beradaptasi dengan industri yang semakin kompetitif. Mereka juga kembali berinteraksi dengan Emily Charlton (Emily Blunt), kini eksekutif penting di dunia fashion, serta Nigel Kipling (Stanley Tucci), tangan kanan setia Miranda.

Seiring perkembangan cerita, film ini mengeksplorasi bagaimana media fashion bertahan di era baru yang serba digital, sekaligus mengangkat kembali konflik antara ambisi karier dan kehidupan pribadi. Dengan dinamika karakter lama dan kehadiran tokoh baru, The Devil Wears Prada 2 menegaskan bahwa tekanan dalam industri media tidak pernah benar-benar berubah—hanya bentuknya yang berevolusi, disutradarai oleh David Frankel.

Psst.. jangan lupa nonton dulu The Devil Wears Prada (2006) yang pertama, sebelum menonton film ini, ya!

Itulah deretan film bertema jurnalisme yang tak hanya menghibur, tetapi juga membuka perspektif tentang kompleksitas dunia media dan perjuangan di baliknya. Dari semua kisah tersebut, film mana yang paling menarik perhatianmu, Bela?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ayu Utami
EditorAyu Utami
Follow Us

Related Articles

See More