Sebelum mantap mengenakan seragam fisioterapis dan memegang kendali atas kliniknya sendiri, peta hidup Windy dipenuhi oleh persimpangan yang cukup membuatnya bimbang. Masa mudanya adalah bentangan eksperimen yang penuh kejutan, di mana ia sempat mencoba meretas jalan sebagai calon anggota kepolisian, tentara, guru, hingga sekolah tinggi kesejahteraan sosial. Setiap jalan berkedinasan itu ia incar demi satu tujuan pragmatis khas anak muda saat itu: jaminan masa depan dengan menjadi PNS.
"Tahun 2010 itu banyak orang yang sekolah, tapi banyak pengangguran juga di saat itu. Jadi gimana caranya? Saya harus mencari perguruan tinggi yang di mana lowongan pekerjaannya itu banyak. Salah satunya langkah awalnya adalah bagaimana caranya menjadi seorang PNS. Karena yang tadi polisi, tentara, guru itu udah di-create sama negara dan pasti nggak akan susah," kenang Windy.
Namun, garis takdir berkata lain ketika pintu-pintu tersebut tak kunjung terbuka. Penolakan itu memaksanya untuk kembali melakukan pencarian mandiri, hingga matanya tertuju pada ranah kesehatan yang minim persaingan namun tinggi kebutuhan.
"Tapi jalannya ternyata Tuhan tidak memberikan jalan itu ke saya. Jadi akhirnya saya mencoba untuk mencari sesuatu hal yang apa sih yang lowongan pekerjaan saat itu terbanyak. Dan ternyata kesehatan ini yang akan dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya fisioterapi," tuturnya. "Di keluarga besar itu belum ada medis. Jadi ketertarikan mau jadi seorang kesehatan tapi fisioterapi itu apa, itu menarik. Akhirnya googling... nyoba untuk fisioterapi itu apa, kita search dulu."
Pencarian di dunia maya berlanjut pada diskusi hangat bersama salah satu teman ayahnya yang merupakan dosen fisioterapi. Dari sana, fakta bahwa dunia fisioterapi bergerak tanpa suntikan, darah, maupun perban makin memikat hatinya. Lebih dari sekadar panggilan ilmu, ada impian akan independensi yang tumbuh pelan-pelan.
"Lowongan pekerjaan yang menarik perhatian di fisioterapi ini, yang pertama bisa kerja di rumah sakit, sama ketertarikan menjadi seorang fisioterapi itu, salah satunya adalah bisa buka mandiri. Karena perempuan itu pada dasarnya kita harus punya ruang, ruang untuk bisa ke keluarga, dan untuk diri sendiri," ungkap Windy mantap.
Pencapaian yang ia dapatkan hari ini merupakan hasil dari kesediaan melangkah dalam ketidakpastian. Keputusannya untuk meretas jalur baru di tengah ketiadaan latar belakang medis di keluarga menjadi fondasi utama keberhasilannya. Kejujuran pada diri sendiri mendorongnya untuk mengubah arah angin, menjadikan setiap pintu yang tertutup di masa lalu sebagai kompas untuk menemukan ruang bebas bagi dirinya sendiri.